ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ
Ḍāḥikatum mustabsyirah(tun).
tertawa lagi gembira ria.
Mereka tertawa dan bergembira ria bersama kaum mukmin yang lain. Mereka tidak takut dan khawatir akan nasib mereka karena yakin Allah akan memberi balasan dengan sebaik-baiknya.
Banyak muka orang-orang mukmin pada hari itu berseri-seri dengan penuh kegembiraan karena mereka dapat menyaksikan sendiri apa yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman ternyata semuanya dapat terlaksana dengan penuh kebahagiaan. Mereka tertawa dan bergembira.
1. Aṣ-Ṣākhkhah الصَّاخَّةُ (‘Abasa/80: 33)
Kata aṣ-ṣākhkhah secara kebahasaan artinya bunyi menggelegar yang keras sekali. Berasal dari fi‘il ṣakhkha-yaṣukhkhu-ṣakh khan artinya bunyi benturan besi dengan besi yang keras sekali. Kata aṣ-ṣākhkhah juga berarti bencana atau malapetaka yang sangat besar, juga berarti hari Kiamat. Pada ayat 33 digambarkan tentang kedahsyatan hari Kiamat, yaitu ketika suara yang memekakkan telinga terdengar, sebagai tanda datangnya hari Kiamat, semua orang pada berlarian ke sana kemari. Semua orang pada hari itu seperti mempunyai urusan yang sangat penting dan harus selesai pada hari itu juga. Berbagai urusan yang menyibukkan semua orang itu, ada sebagian orang yang senang, tetapi banyak pula yang kelihatan sedih dan penuh ketakutan. Demikianlah peristiwa hari Kiamat yang sangat dahsyat, sungguh sangat luar biasa sehingga dalam Surah Luqmān/31: 33 dikatakan pada saat itu, ayah tidak dapat menolong anaknya, juga anak tidak ada yang dapat menolong orang tuanya, semuanya harus dapat mengatasi dirinya sendiri.
2. Qatarah قَتَرَةٌ (‘Abasa/80: 41)
Kata qatarah artinya kegelapan, kehinaan, dan kesusahan. Berasal dari fi‘il qatara-yaqtiru-qatran wa qutūran artinya kikir. Kata al-qatarah juga berarti al-gabarah yang berarti debu. Ayat 42 yang berbunyi tarhaquhā qatarah artinya wajah-wajah itu dibohongi atau ditutup debu, dalam kegelapan atau kehinaan. Maksudnya orang-orang kafir ketika di dunia tertipu oleh kemewahan dunia, hanya mengejar debu di atas bumi, maka di akhirat nanti wajah-wajah mereka juga penuh debu, serba tertutup oleh kegelapan dan kehinaan, serta menderita berbagai kesedihan dan kesusahan. Itulah keadaan orang-orang kafir yang banyak berbuat durhaka dan selalu menolak dan mengingkari kebenaran dan petunjuk agama. Hal ini dikemukakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi kita semua, supaya kita tidak tertipu oleh kemewahan dunia, tetapi memperhatikan petunjuk agama, beriman, dan melaksanakan amal saleh.
















































