فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ
Fa iżā jā'atiṣ-ṣākhkhah(tu).
Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala),
Kenikmatan-kenikmatan itu kelak akan diminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Maka apabila datang suara tiupan sangkakala kedua yang memekakkan telinga dan menjadi penanda bangkitnya manusia dari kubur,
Dalam ayat ini dijelaskan apabila datang hari Kiamat, ketika terdengar suara yang sangat dahsyat yang memekakkan telinga, yaitu tiupan Malaikat Israfil yang kedua kalinya, maka pada hari tersebut terasa kesedihan dan penyesalan bagi seluruh orang-orang yang kafir. Dalam ayat berikutnya diperinci kedahsyatan hari Kiamat itu.
1. Aṣ-Ṣākhkhah الصَّاخَّةُ (‘Abasa/80: 33)
Kata aṣ-ṣākhkhah secara kebahasaan artinya bunyi menggelegar yang keras sekali. Berasal dari fi‘il ṣakhkha-yaṣukhkhu-ṣakh khan artinya bunyi benturan besi dengan besi yang keras sekali. Kata aṣ-ṣākhkhah juga berarti bencana atau malapetaka yang sangat besar, juga berarti hari Kiamat. Pada ayat 33 digambarkan tentang kedahsyatan hari Kiamat, yaitu ketika suara yang memekakkan telinga terdengar, sebagai tanda datangnya hari Kiamat, semua orang pada berlarian ke sana kemari. Semua orang pada hari itu seperti mempunyai urusan yang sangat penting dan harus selesai pada hari itu juga. Berbagai urusan yang menyibukkan semua orang itu, ada sebagian orang yang senang, tetapi banyak pula yang kelihatan sedih dan penuh ketakutan. Demikianlah peristiwa hari Kiamat yang sangat dahsyat, sungguh sangat luar biasa sehingga dalam Surah Luqmān/31: 33 dikatakan pada saat itu, ayah tidak dapat menolong anaknya, juga anak tidak ada yang dapat menolong orang tuanya, semuanya harus dapat mengatasi dirinya sendiri.
2. Qatarah قَتَرَةٌ (‘Abasa/80: 41)
Kata qatarah artinya kegelapan, kehinaan, dan kesusahan. Berasal dari fi‘il qatara-yaqtiru-qatran wa qutūran artinya kikir. Kata al-qatarah juga berarti al-gabarah yang berarti debu. Ayat 42 yang berbunyi tarhaquhā qatarah artinya wajah-wajah itu dibohongi atau ditutup debu, dalam kegelapan atau kehinaan. Maksudnya orang-orang kafir ketika di dunia tertipu oleh kemewahan dunia, hanya mengejar debu di atas bumi, maka di akhirat nanti wajah-wajah mereka juga penuh debu, serba tertutup oleh kegelapan dan kehinaan, serta menderita berbagai kesedihan dan kesusahan. Itulah keadaan orang-orang kafir yang banyak berbuat durhaka dan selalu menolak dan mengingkari kebenaran dan petunjuk agama. Hal ini dikemukakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi kita semua, supaya kita tidak tertipu oleh kemewahan dunia, tetapi memperhatikan petunjuk agama, beriman, dan melaksanakan amal saleh.










































