Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 28 - Surat Al-Aḥqāf (Ahqaf)
الاحقاف
Ayat 28 / 35 •  Surat 46 / 114 •  Halaman 505 •  Quarter Hizb 51.25 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Makkiyah

فَلَوْلَا نَصَرَهُمُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ قُرْبَانًا اٰلِهَةً ۗبَلْ ضَلُّوْا عَنْهُمْۚ وَذٰلِكَ اِفْكُهُمْ وَمَا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ

Falau lā naṣarahumul-lażīnattakhażū min dūnillāhi qurbānan ālihah(tan), bal ḍallū ‘anhum, wa żālika ifkuhum wa mā kānū yaftarūn(a).

Maka, mengapa (tuhan-tuhan) yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri (kepada-Nya) itu tidak menolong mereka? Bahkan, tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka. Itulah kebohongan mereka dan apa yang selalu mereka ada-adakan.

Makna Surat Al-Ahqaf Ayat 28
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Maka mengapa berhala-berhala dan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka ketika siksaan dijatuhkan kepada mereka? Itulah bukti bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah. Dan itulah akibat kebohongan mereka yang menganggap bahwa berhala-berhala adalah sekutu bagi Allah dan merupakan buah dari apa yang dahulu mereka ada-adakan yakni pendustaan terhadap Allah dan RasulNya. Ayat ini merupakan kecaman terhadap penduduk Mekah yang menyembah berhala-berhala sebagai sekutu Allah. Sekiranya berhala-berhala yang mereka sembah itu berguna bagi mereka, niscaya berguna pula bagi umat sebelum mereka yang telah dibinasakan. Tetapi berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun, bahkan mereka lenyap ketika azab Tuhan dijatuhkan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah mengingatkan kaum musyrik Mekah agar mereka mengambil pelajaran dari pengalaman pahit yang telah dialami oleh orang-orang dahulu, yang telah mendustakan rasul yang diutus kepada mereka. Orang-orang dahulu itu bertempat tinggal tidak jauh dari Mekah seperti kaum ‘Ad di Aḥqāf, dan kaum Samud yang berdiam di daerah antara Mekah dan Syam. Kepada mereka telah diterangkan pula tanda-tanda keesaan, kekuasaan, dan kebesaran Allah dan telah disampaikan pula agama-Nya. Akan tetapi, mereka tidak mengacuhkannya, bahkan mengingkari dan memperolok-olokkan para rasul. Pada waktu azab menimpa mereka, tidak ada satu pun dari sembahan-sembahan itu yang dapat menolong mereka, bahkan sembahan-sembahan berupa patung yang tak bernyawa itu ikut hancur-lebur bersama mereka.

Itulah kebohongan dan pengingkaran umat-umat dahulu dan itu pula balasan dan azab yang mereka terima. Dari ayat ini, terkandung suatu ancaman Allah kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa mereka pasti ditimpa azab, seperti yang dialami kaum ‘Ad, Samud, dan umat yang lain apabila mereka tetap tidak mengindahkan seruan Muhammad saw sebagai rasul Allah yang diutus kepada mereka.

Isi Kandungan Kosakata

1. ‘Ād wa Ṡamūd عَادٍ وَثَمُوْد (al-Aḥqāf/49: 21).

Surah al-Aḥqāf/49: 21-22 merupakan rangkaian terakhir dari tujuh surah ke-40-46, Gāfir, Fuṣṣilat, asy-Syūrā, az-Zukhruf, ad-Dukhān, al-Jāṡiyah, dan al-Aḥqāf yang diawali dengan huruf-huruf singkatan Ḥā Mīm, sebagai pembuka surah. Sumber kitab suci satu-satunya yang jelas menyinggung kaum ‘Ad dan Samud hanya Al-Qur’an, bahwa mereka adalah masing-masing masyarakat Nabi Hud dan Nabi Saleh. Kaum ‘Ad sering dikaitkan dengan kaum Samud, masyarakat Nabi Saleh, karena yang terakhir ini merupakan penerus kaum ‘Ad. Mereka tinggal di daerah Hijr, sebagaimana yang disinggung dalam Surah al-Ḥijr/15: 80 dan 82, juga dalam beberapa surah yang lain. Disebutkan bahwa mereka adalah pemahat gunung-gunung batu untuk dibuat rumah-rumah tempat tinggal, yang memang sudah menjadi keahlian mereka dalam membuat patung-patung berhala yang mereka sembah, yang juga sudah mengakar dalam kehidupan mereka.

Sumber lain yang menyinggung sejarah sekitar Hijr ini terdapat dalam naskah-naskah orang Asyur (Assyria) pada masa Raja Sargon II, dalam karangan-karangan geografi Yunani dan Roma dan dalam syair-syair Arab Jahiliah. Bibel (Yesaya 20: 1) hanya menyinggung nama dinasti raja Sargon di Asyur, tetapi tidak menyinggung keberadaan kedua nabi yang bukan dari Bani Israil. Secara geografis letak daerah ini di utara Medinah, dan sekitar 240 km utara kota itu terdapat Jabal Hijr. Tempat tinggal kaum ‘Ad di kawasan Aḥqāf, utara Hadramaut, Arab bagian selatan, dan kota purbakala Iram (Aram) ini adalah ibu kotanya. Lokasi mereka yang pada zamannya merupakan daerah subur dan penduduknya hidup makmur, juga dikenal karena peradabannya yang tinggi dengan bangunan-bangunan yang menakjubkan, dengan pilar-pilar yang tinggi (al-Fajr/89: 6-8), sekarang hanya merupakan padang pasir yang tandus tanpa penghuni. Sisa-sisa berupa bangungan dari batu itu masih ada di Hijr, yang juga disebut Madā’in Ṣāliḥ (Ḥijr berarti “daerah berbatu”).

Beberapa mufasir menyebutkan bahwa mereka termasuk ras Arab purba yang sudah punah (al-‘Arab al-Bā’idah). Diduga, silsilah mereka adalah generasi keempat atau keenam dari Nabi Nuh, yakni ‘Ād anak Aus anak Aram anak Sam anak Nuh. Para ahli nasab (genealogi) menyimpulkan dugaan ini masuk akal, mengingat Nabi Ibrahim berada di urutan kedelapan dari Sam.

Orang ‘Ad dilukiskan bersosok tinggi. Negeri mereka makmur dengan pengairan yang baik. Akan tetapi, mereka dikenal sombong dan senang melakukan pemerasan dan kekerasan. Karena kesombongan itu pula, mereka menentang perintah dan peringatan Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Hud dengan baik-baik, padahal Nabi ini orang yang lahir di tengah-tengah mereka, dari kaum ‘Ad juga, seperti nabi-nabi yang lain, bukan orang asing. Mereka sudah begitu jauh hanyut dalam perbuatan dosa dan dalam penyembahan berhala-berhala. Segala nasihat tidak mau mereka dengarkan, bahkan mereka menantang dengan mengejek, kalaulah benar azab yang dikatakan oleh Hud itu, timpakanlah kepada mereka, buktikanlah (al-Aḥqāf/46: 22). Mereka malah menuduh Nabi Hud orang tidak waras dan pembohong. Apa yang terjadi kemudian adalah kemakmuran dan kekuasaan yang ada pada mereka sebagai karunia Allah telah menghancurkan mereka sendiri. Kota yang mereka banggakan karena bangunan-bangunan dan menara-menaranya yang menjulang tinggi itu ternyata tak dapat melindungi mereka. Akhirnya semua mereka dan segala yang dibanggakan lenyap ditelan pasir (al-A‘rāf/7: 65-72). Kaum ‘Ad merupakan eponim moyang mereka yang bernama ‘Ād anak Aus anak Aram (Iram) anak Sam anak Nuh.

Memang, jika membicarakan kaum ‘Ad, tak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang kaum Samud sebagai penerus peradaban ‘Ad. Seperti yang dapat kita lihat dalam beberapa surah di bagian lain dalam Al-Qur’an. Surah al-‘Arāf/7: 73 dapat ditempatkan sebagai pengantar dalam memasuki kisah tentang kehidupan kaum Samud. Kaum Samud sebagai kabilah Arab purba atau al-‘Arab al-Bā‘idah, keturunan Ya‘rub bin Qahṭān, Arab bagian selatan, yang kemudian menjadi nama kabilah dari eponim leluhur mereka yang bernama Ṡamūd. Mereka adalah penerus kebudayaan dan peradaban kaum ‘Ad (al-A‘rāf/7: 65). Mereka juga seperti kaum ‘Ad, termasuk ras Arab purba yang sudah punah, dan masih mempunyai hubungan keluarga. Nabi Saleh menurut beberapa mufasir dan genealogi adalah anak Obeid anak Asaf anak Masyeh anak Obeid anak Eazir anak Samud anak Amir anak Aram anak Sam anak Nuh. Jadi keduanya sebagai saudara sepupu dari ras yang sama. Di samping itu, masih ada lagi versi lain yang sedikit berbeda, yang rasanya tidak penting kita berlama-lama membicarakan hal ini di sini.

Mengenai catatan silsilah di atas hanya bagian kecil menyebut Hud dan Saleh, hanya sekadar contoh. Menguraikan nama-nama dari asal-usul dan zaman sejarah purba itu yang ada dalam tulisan semacam ini hanya akan menimbulkan kerancuan dan tidak banyak gunanya dalam pembahasan. Dalam penulisan sejarah purba yang sudah begitu jauh, apalagi dasarnya hanya dari naskah-naskah yang sepotong-sepotong, sering menghasilkan kebingungan kalangan umum. Satu sumber misalnya menyebutkan kaum ‘Ad dan Ṡamud sudah ada sejak sebelum Nabi Ibrahim, sesudah masa kekuasaan Sargon, yang mungkin saja terjadi lebih dari 2300 tahun sebelum Masehi, karena raja Sargon Akkadia, dipandang sebagai peletak dasar dinasti Semit pertama. Mesopotamia lama yang hidup pada masa itu penduduknya dikenal sebagai ahli bangunan raksasa; sumber lain menyebutkan pada masa kekuasaan Sargon II raja Asyur, yang berarti baru sekitar tahun 700 sebelum Masehi, yang juga ahli bangunan raksasa. Begitu juga mengenai silsilah Nabi Hud dan Nabi Saleh. Satu sumber mengatakan mereka keturunan yang keempat dari Nabi Nuh, dengan menyebut nama nenek moyang satu per satu; sumber lain berpendapat mereka keturunan kesepuluh atau lebih dari Nabi Nuh, seperti sudah disinggung sepintas di atas.

Al-Qur’an benar sekali, memang tidak pernah merinci silsilah orang yang disebutkan namanya, karena dikatakan kehadiran mereka dalam sejarah hanya sebagai tamsil.

Di dalam Al-Qur’an kita membaca kisah unta betina sebagai ujian dan lambang perjuangan Nabi Saleh dengan kaumnya. Peristiwanya adalah suatu peringatan bagi kaum Samud yang rakus, penindas yang begitu angkuh terhadap kaum lemah dan miskin. Mereka menganggap diri golongan istimewa yang harus berbeda dengan kehidupan orang-orang miskin. Kezaliman mereka terlihat dalam kehidupan mereka. Air yang sukar diperoleh, dan golongan orang yang sombong atau golongan kelas istimewa itu hanya mementingkan diri sendiri. Mereka berusaha merintangi kaum tak punya dan selalu merintangi ternak mereka memasuki mata air, yang mereka kira hanya khusus untuk mereka. Nabi Saleh mau menengahi atas nama mereka, dengan memberitahukan bahwa air dibagi di antara mereka, setiap orang berhak mendapat giliran minum. Begitu juga padang rumput sebagai karunia Allah kepada semua makhluk-Nya. Tetapi mereka dengan sombong tetap memonopoli semuanya, berbagai kekayaan, air, dan padang rumput. Peringatan Nabi Saleh jangankan mereka perhatikan, malah sebaliknya, sengaja mereka tentang dengan menyembelih unta betina yang malang itu. Sesudah kezaliman mereka makin menjadi-jadi, sekarang kaum Samud harus menerima akibatnya. Gempa bumi yang begitu dahsyat menyapu mereka. Mereka terlempar dan tertimbun tanah dan bangunan-bangunan yang serba indah, yang mereka bangun dan menjadi kebanggaan mereka. Mereka dibinasakan oleh kesombongan dan kezaliman mereka sendiri.

Mengutip Tafsir Abdullah Yusuf Ali (diringkaskan) mengenai prasasti-prasasti Samud di Hijr itu disebutkan, bahwa pada tahun 1880-an C. M. Doughty mengadakan perjalanan ke barat laut Semenanjung Arab dan ke Najd, seperti dilukiskan dalam bukunya Arabia Deserta yang merupakan karya paling terkenal dalam bidang ini. Dalam perjalanannya itu Doughty menggabungkan diri dengan jemaah haji dari Damsyik sampai ke Mada'in Saleh. Ia kemudian berpisah dan berbelok ke Nejd. Sejarah agama masih meninggalkan tanda-tanda bekas reruntuhan lokasi kaum Samud. Kepada mereka inilah Nabi Saleh diutus, dan unta betinanya merupakan lambang mukjizat. Ke arah barat dan barat laut Mada'in Saleh ada tiga harrat atau jejak-jejak daerah gunung berapi yang sudah tertutup oleh debu, membentang sampai ke Tabuk.

Doughty menguraikan pandangannya yang pertama mengenai Mada'in Saleh yang ditempuhnya dari arah barat laut itu. Di lereng pertama yang terjal dan menyeruak ke dataran al-Hijr itu rendah, dan itulah Mada'in Saleh. Di tempat ini, bila matahari terbit, tampak pemandangan tunggal dataran lembah ini, dikelilingi oleh tebing-tebing curam terdiri dari karang batu pasir yang besar-besar, yang di sini menyerupai sebarisan tembok kota, dengan menara-menara yang sangat fantastik dan gedung-gedung istana. Di atas semua itu terletak onggokan arus pasir yang tinggi. Di bagian bawah adalah pasir, yang banyak ditumbuhi semak-semak sahara; Doughty melihat beberapa percikan arus gunung berapi. Di sebelah barat terlihat gunung raksasa Harrat yang kehitam-hitaman dan sangat mengerikan. Doughty mengambil beberapa gerusan dari inskripsi-inskripsi yang dapat ia lakukan dan benda-benda itu dipelajari oleh sarjana besar ahli Semit M. Ernest Renan, yang kemudian diterbitkan oleh Academie des Inscriptions et Belles-Lettres.

Secara umum hasil studi tersebut barangkali dapat diringkaskan. Patung dan arsitektur yang ditemukan itu sama dengan yang ada di monumen-monumen Nabatea di Petra (Petræ), ibu kotanya. Inskripsi-inskripsi di Petra tak ada yang bertarikh, tetapi di Mada'in ada beberapa di antaranya. Di Mada'in Saleh barangkali terdapat 100 buah ruang batu pahat berupa patung-patung, di antaranya terdapat tulang-belulang dan sisa-sisa manusia, yang memperlihatkan bahwa orang-orang Nabatea itu sudah mengenal pembalseman, dan kain linen yang dipakai sama jenisnya dengan yang dipakai di Mesir kuno. Kuburan-kuburan itu dipersembahkan kepada keluarga-keluarga ternama. Ada pilar-pilar besar yang bersisi rata, dan gambar-gambar binatang empat kaki, burung elang, dan burung-burung lain yang sangat menonjol. Di samping ruang-ruang patung itu, ada sebuah Ruang Sidang atau Ruang Dewan, berukuran 25 x 27 x 13 kaki. Ini barangkali sebuah kuil. Dewa-dewa yang disembah, yang kita kenal nama-namanya dari sumber Nabatea yang lain – Dusares, Martaba, Mana, Keis, dan Hubal. Lat, Manat, dan Hubal juga kita kenal karena kaitannya dengan berhala-berhala kaum musyrik zaman jahiliah.

Masa yang terdapat pada inskripsi-inskripsi itu dari tahun 3 Sebelum Masehi sampai 79 Masehi. Dalam kurun waktu yang singkat selama 82 tahun itu kita dapat melihat beberapa perkembangan palaeografi Semit. Tulisan-tulisan itu dari tahun ke tahun makin bersambung-sambung. Di sini kita melihat adanya suatu titik temu antara tulisan-tulisan Armenia Lama, Ibrani Persegi, Palmyra, Sinai, Kufi, dan Naskh.

Kita dapat berpegang pada peradaban Nabatea sebagai bahan sejarah, setelah kita menentukan masanya. Kaum Samud adalah orang-orang prasejarah, dan mereka menempati lokasi-lokasi yang kemudian ditempati oleh orang-orang Nabatea dan yang lain. Tempat bersimpuhnya unta betina Nabi Saleh (Mabrakun-Nāqah) dan “sumur unta betina” (Bī‘irun-Nāqah), dan sejumlah nama setempat telah mengabadikan kenangan kepada orang Arab purba dan nabi mereka, Nabi Saleh.

Dalam bagian lain Tafsir itu disebutkan bahwa penggalian di kota batu tersebut, mungkin Petra, dapat ditarik kembali ke zaman Samud, meskipun gaya bangunannya banyak mencerminkan wajah Mesir dan Yunani-Rumawi polesan kebudayaan yang oleh penulis-penulis Eropa biasa disebut kebudayaan Nabatea. Siapa orang-orang Nabatea itu? Mereka adalah dari kabilah Arab purba yang telah memegang peranan penting dalam sejarah setelah mereka terlibat dalam suatu konflik dengan Antigonus I dari Seleucia dalam tahun 312 SM (Sebelum Masehi). Ibu kotanya Petra, tetapi mereka mengembangkan wilayah sampai ke sebelah kanan Sungai Furat (Euphrate). Dalam tahun 85 SM mereka adalah penguasa Damsyik di bawah Raja al-Haris II (Aretas dalam sejarah Rumawi). Selama beberapa waktu mereka bersekutu dengan Kerajaan Rumawi dan menguasai pesisir Laut Merah. Maharaja Trajan menaklukkan mereka dan dalam 105 M menggabungkan¬nya ke wilayah kekuasaan mereka. Nama Samud disebutkan dalam prasasti Raja Asyur, Sargon, bertahun 715 SM sebagai orang Arab Tengah dan Timur. Mereka telah mewarisi kaum ‘Ad yang sudah punah lebih dulu, dan pada gilirannya, setelah itu pihak Nabatea menggantikan Kaum Samud.

Nabi Saleh diutus kepada kaum Samud penyembah berhala, dan mereka ahli bangunan dan pemuja kemewahan, karena hidup mereka makmur. Kekayaan mereka terdiri dari ternak, kebun-kebun kurma dan pertanian yang subur serta mata air yang melimpah, tetapi mereka sombong. Nabi Saleh dituduh hanya mau mencari keuntungan berupa imbalan (asy-Syu‘arā’/26: 14-15), seperti yang juga dikatakan para nabi sebelumnya. Nabi Saleh mengatakan bahwa ia adalah seorang rasul yang mengajak kaumnya untuk taat kepada Allah dan mematuhi hukum yang berlaku. Diingatkan bahwa mereka tidak akan selamanya dalam kemewahan dan kenikmatan hidup dan jangan terpengaruh oleh orang-orang yang melakukan kejahatan melampaui batas. Jangan membuat kerusakan di bumi dan mencemarkan segala lambang suci. Tetapi sekali lagi mereka menuduh Nabi Saleh tukang sihir, tak lebih ia hanya manusia biasa, dan mereka meminta bukti tentang kenabiannya. Bahkan, sebagai lambangnya unta betina sengaja mereka bantai. Kemudian mereka pun merasakan akibatnya berupa azab Tuhan.

Gambaran serupa dengan variasi lain terdapat juga dalam al-A‘rāf/7: 73-79. Dengan majunya peradaban mereka dalam bidang materi, mereka menjadi masyarakat kelas berkuasa yang kaya dan kuat. Mereka lalu menjadi sombong, Nabi Saleh ditantang, dan mereka tidak mau lagi menghiraukan norma-norma agama. Mereka makin serakah, mau memonopoli kekayaan, dan menindas kaum lemah yang sudah beriman. Semua itu mereka tentang, bahkan mereka menantangnya, seperti dilukiskan dalam kisah unta betina di atas. Nabi Saleh meminta mereka jangan mempersekutukan Tuhan, dan agar menghormati hak-hak makhluk lain. Sebagai tanda biarlah unta ini ikut makan dan minum di bumi Allah, jangan diganggu, agar mereka tidak mendapat azab yang berat serta mengingatkan apa yang terjadi dengan kaum ‘Ad sebelum itu—mereka mendirikan istana-istana, benteng-benteng, mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah. Tetapi janganlah membuat kerusakan di bumi. Namun mereka tetap tidak peduli, tidak mau beriman, malah lebih kejam lagi menindas kaum duafa yang sudah menerima ajakan Nabi Saleh dan sudah beriman (al-A‘rāf/7: 73-79).

Akibat peringatan itu datang juga. Suatu pagi mereka dikejutkan oleh suatu ledakan dahsyat, dan mereka tersungkur mati dalam timbunan rumah-rumah mereka sendiri. Mereka ditelan oleh angin ribut dan gempa bumi (al-A‘rāf 7: 78; al-Ḥijr/15: 81-84)

Sejak lama memang sudah ada dugaan bahwa di bawah gurun pasir itu ada tanda sisa-sisa peninggalan mereka. Dalam insipkripsi Sargon yang bertarikh tahun 715 SM (Sebelum Masehi), daerah kabilah ‘Ad dan Samud ini terletak di sebelah timur Semenanjung Arab. Nama Samud terdapat juga dalam tulisan-tulisan Aristoteles, Ptolemaeus, dan yang lain dengan sebutan Thamudenes atau Thamudaei, menurut ejaan Inggris. Ada beberapa nama kota mereka disebutkan seperti Domantha dan Hegra. Barangkali nama kedua tempat ini dalam sebutan Arab masing-masing sama dengan Dumatul-Jandal dan al-Hijr. Hal ini kemudian memang diperlihatkan oleh kenyataan.

Sebelum itu, sudah lama kalangan di Barat menganggap kisah kaum ‘Ad dalam Al-Qur’an itu hanya sebuah legenda dan folklor, cerita tradisi Arab turun-temurun, yang tidak ada dalam kenyataan sejarah. Tetapi sejarah kemudian membuktikan lain, setelah sebuah misi dari Barat sendiri kemudian mengadakan penggalian di daerah itu.

Keberadaan kaum ‘Ad ternyata dapat dibuktikan, bahwa mereka memang pernah ada. Situs Iram yang disebutkan dalam Al-Qur’an (al-Fajr/89: 6-7), ibu kota kaum ‘Ad itu, dalam November 1991 telah ditemukan oleh sebuah misi penggalian yang dipimpin oleh Prof. Juris Zurin, arkeolog dari Southwest Missouri State University, Amerika Serikat. Dengan didukung oleh jasa satelit, misi ini berhasil menguak reruntuhan kota itu. Letaknya di daerah Ghofar, bagian selatan kerajaan Oman. Misi Zurin itu menyebut kota Iram ini sebagai Ubar. Sesudah tiga bulan mengadakan penggalian, Februari tahun berikutnya usaha ini berhasil menemukan tembok dari batu bersusun berbentuk segi delapan yang diyakini sebagai menara kastil.

Ibu kota purbakala kaum ‘Ad di Arab bagian selatan itu pernah menguasai peradaban yang tinggi, kemudian menyusut, dan kemudian mati setelah mereka tetap membanggakan diri menentang hukum Tuhan. Mereka membanggakan kotanya karena bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi. “Pada zamannya dulu, Ubar memang dikenal sebagai kota yang memiliki menara-menara tinggi,” kata Zurin.

Di kota Iram terdapat sisa-sisa pilar yang menjulang tinggi (al-Fajr/89:7). Ada juga yang menafsirkan “dengan sosok tubuh yang tinggi” karena kaum ‘Ad memang ras yang bersosok tinggi.

2. Bil-Aḥqāf بِاْلاَحْقَاف (al-Aḥqāf/46: 21).

Aḥqāf, gurun pasir yang sangat luas, meliputi ‘Umman (Oman), Syihr, Hadramaut sampai ke Aden. Dalam bahasa, aḥqāf jamak dari kata tunggal ḥiqf, yang dalam arti harfiah “pasir yang memanjang, bulat atau berliku-liku.” Kata Aḥqāf dalam Al-Qur’an berarti tempat tinggal kaum ‘Ad. (Lihat juga kosakata “Kaum ‘Ad dan Samud”).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto