وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖۗ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ
Wa huwal-qāhiru fauqa ‘ibādih(ī), wa huwal-ḥakīmul-khabīr(u).
Dialah Penguasa atas hamba-hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Allah menjelaskan dan menegaskan bahwa Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kufur, semuanya tunduk kepada Allah di akhirat. Dan Dia Mahabijaksana dalam penciptaan dan perbuatan-Nya, serta Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Ayat ini menegaskan kesempurnaan kedaulatan Allah yang mutlak atas hamba-hamba-Nya. Dialah Penguasa yang tertinggi di atas hamba-hamba-Nya dan menyelenggarakan serta mengatur segala masalah dan urusan mereka menurut kehendak-Nya. Tidak seorang pun yang dapat memohon untuk dapat keluar dari daerah kekuasaan-Nya.
Kesempurnaan kekuasaan dan kedaulatan Allah atas hamba-hamba-Nya itu disertai dengan kesempurnaan hikmah-Nya dalam mengatur kebutuhan hamba-hamba-Nya dan keluasan ilmu-Nya terhadap segala perkara yang kecil dan tersembunyi. Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang bermanfaat dan yang mudarat bagi hamba-hamba-Nya. Tak ada suatu perkarapun, melainkan diketahui-Nya akhir dari perkara itu. Pengaturan-Nya atas hamba-hamba-Nya ini diarahkan kepada suatu tujuan yakni kesempurnaan kemanusiaan.
Dialah Allah Yang Mahakuasa dan Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Karena itu, tidaklah patut menyembah kepada selain-Nya.
Firman Allah:
فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا
Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. (al-Jinn/72: 18)
1. Fāṭir فَاطِرْ(al-An‘ām/6 : 14)
Asal katanya (ف- ط- ر ) artinya membuka sesuatu dan melahirkannya. Ifṭar adalah makan pada pagi hari (sarapan). Afṭara aṣ-ṣā’im artinya orang itu berbuka puasa. Lalu muncul arti menciptakan. Ungkapan ana faṭartu al-bi’r artinya saya yang pertama menggali sumur itu. Fiṭrah adalah sifat asal atau pengetahuan awal yang menancap pada diri manusia. Selanjutnya kata fāṭir diartikan dengan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru yang tidak mencontoh pada yang lainnya.
2. Bāri’ بَارِئ(al-An‘ām/6: 19)
Arti asalnya adalah pertama menciptakan. Kedua, menjauh. Ungkapan “bara’a minal-maraḍi” artinya ia terjauh dari sakit atau dia telah sembuh. Dari arti kedua muncul arti berlepas diri, bebas dan lain sebagainya. Arti inilah yang dimaksud dengan kata bāri’ pada ayat ini. Dikatakan juga bara’ sebagaimana sering digunakan oleh Ahli Hijaz, Mekah-Medinah (lihat az-Zukhruf/43: 26)
















































