Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 110 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 110 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 141 •  Quarter Hizb 14.75 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ ࣖ ۔

Wa nuqallibu af'idatahum wa abṣārahum kamā lam yu'minū bihī awwala marratiw wa nażaruhum fī ṭugyānihim ya‘mahūn(a).

(Kamu pun tidak akan mengira bahwa) Kami akan memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an) serta Kami membiarkan mereka bingung dalam kesesatan.

Makna Surat Al-An‘am Ayat 110
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah pada ayat 108 dinyatakan bahwa Allah menjadikan setiap umat menganggap baik perbuatan mereka, maka pada ayat ini Allah menyatakan, “Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka kepada kebatilan jika mukjizat itu datang kepada mereka seperti keadaan mereka ketika pertama kali mendengar dan mengetahui mukjizat tersebut, mereka tidak beriman kepadanya, yakni Al-Qur'an, dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan karena keengganan mereka mengikuti petunjuk.”[]

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sesudah itu Allah memberikan penjelasan kepada kaum Muslimin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa Allah kuasa untuk memalingkan hati dan penglihatan orang-orang musyrik; maka sebagaimana mereka tidak beriman sebelum mereka meminta mukjizat itu, begitu jugalah mereka tidak mau beriman sesudah datangnya mukjizat, karena hati mereka telah dipalingkan dari kebenaran.

Allah berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَظَلُّوْا فِيْهِ يَعْرُجُوْنَۙ ١٤ لَقَالُوْٓا اِنَّمَا سُكِّرَتْ اَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُوْرُوْن َ ࣖ ١٥

Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.” (al-Ḥijr/15: 14-15).

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Allah akan membiarkan mereka memperturutkan hati mereka bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan. Hati mereka diliputi oleh kebingungan dan keragu-raguan terhadap ayat-ayat yang mereka dengar. Mereka tidak dapat membedakan antara kebenaran dan tipuan. Mereka dibiarkan dalam kegelapan dan kesesatan yang nyata.

Isi Kandungan Kosakata

Lā tasubbū لاَ تَسُبُّوْا(al-An ām/6 : 108)

Kata tasubbū adalah fi’l muḍari’ yang ditujukan kepada orang kedua tunggal. Kata tersebut dari sabba - yasubbu - sabb(an), yang artinya “mencaci,” atau “mencela.” Sesuatu dicaci atau dicela karena padanya terdapat kelemahan. Kata lā tasubbū yang artinya “janganlah kamu mencaci” atau mencela merupakan bentuk larangan Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman (kaum Muslimin) agar mereka tidak mencaci tuhan-tuhan orang musyrik. Menurut Imam Abu al-Faraj al-Jauziy (508–597 H), larangan dalam ayat ini adalah demi tark al-maṣlaḥah li dar’ al-mafsadah (meninggalkan suatu maslahat untuk menolak terjadinya mafsadat). Maksudnya, larangan Allah tersebut untuk menghindari aksi serupa yang dilakukan orang musyrik, dalam bentuk mencaci Allah swt, Tuhan kaum Muslimin. Jika kaum Muslim mencaci tuhan-tuhan orang musyrik, berarti mereka mencaci atau mencela Tuhan mereka sendiri, karena celaan mereka terhadap tuhan-tuhan kaum musyrik menyebabkan kaum musyrik itu berbalik mencela atau mencaci Allah, Tuhan kaum Muslimin. Oleh karena itu mencela tuhan dari umat tertentu di luar Islam dilarang.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto