وَجَعَلْنَا فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِهِمْۖ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ
Wa ja‘alnā fil-arḍi rawāsiya an tamīda bihim, wa ja‘anā fīhā fijājan subulal la‘allahum yahtadūn(a).
Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung yang kukuh agar (tidak) berguncang bersama mereka dan Kami menjadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas agar mereka mendapat petunjuk.
Pada ayat ini Allah mengarahkan pandangan manusia kepada gunung-gunung dan jalan-jalan, serta daratan yang luas di bumi. Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh dengan maksud agar ia, bumi dengan putarannya yang cepat sekali itu, tetap mantap, tidak terjadi guncangan bersama mereka, manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan Kami jadikan pula di bumi jalan-jalan yang luas supaya semua makhluk dapat dengan tenang menjalani kehidupan, dan pada akhirnya agar mereka mendapat petunjuk Allah, baik yang diberikan melalui wahyu maupun petunjuk Allah berupa fenomena alam yang membentang luas ini.
Pada ayat ini Allah mengarahkan pandangan manusia kepada gunung-gunung dan jalan-jalan serta dataran-dataran luas yang ada di bumi ini. Allah menerangkan bahwa diciptakannya gunung-gunung yang kokoh supaya bumi dalam putarannya yang cepat sekali itu tetap mantap dengan terpelihara dan terjaganya manusia dan semua makhluk di muka bumi ini. Permukaan bumi yang luasnya 510 juta kilometer persegi yang terdiri dari daratan 29% yaitu seluas 153 juta kilometer persegi dan 71% yaitu seluas 357 juta kilometer persegi adalah air. Maka gunung-gunung yang tingginya sampai 3-5 km dari permukaan laut dapat menjaga ketenangan penghuni bumi meskipun berputar dengan cepat sekali.
Pada akhir ayat ini Allah menerangkan semua makhluk dapat dengan tenang menjalani kehidupan, berbagai jalan telah dibuat sehingga siang maupun malam manusia dapat berjalan menelusuri lembah maupun dataran tinggi. Semua itu diharapkan manusia dapat memperoleh petunjuk yang benar, yaitu dapat memahami petunjuk-petunjuk Allah baik yang diberikan melalui wahyu yang tertulis maupun petunjuk Allah yang berupa alam yang luas membentang ini.
1. Ratqan رَتْقًا(al-Anbiyā’ /21:30)
Ratqan adalah bentuk maṣdar dari lafal rataqa yang berarti menyatukan atau menggabungkan. Ar-Ratqā’ artinya adalah “perempuan yang memiliki bibir kemaluan yang rapat.” Ayat ini menjelaskan bahwa langit dan bumi pada awalnya merupakan sesuatu yang padu dan menyatu, kemudian Allah pecahkan menjadi langit dan bumi. Beberapa ulama membuat penafsiran tentang ratqa ini. Sebagian berpendapat bahwa awalnya langit dan bumi menyatu, kemudian Allah mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi seperti apa adanya. Sebagian berpendapat bahwa pemisahan antara keduanya melalui penciptaan angin. Sebagian berpendapat pemisahan langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan-tumbuhan. Yang pasti, hampir semuanya sepakat bahwa langit dan bumi awalnya bersatu. Ini sejalan dengan teori big bang (ledakan besar) yang menyatakan bahwa dahulu sebelum ada langit dan bumi, alam ini merupakan suatu gumpalan yang padu, kemudian meledak dan berpisah menjadi planet dan bintang-bintang.
2. Fijājan فِجَاجًا(al-Anbiyā /21:31)
Fijājan adalah bentuk jamak dari lafal fajj yang berasal dari kata fajja yang berarti jalan yang terbentang di antara dua gunung. Kemudian digunakan untuk jalan-jalan yang luas. Dalam al-ḥajj/22: 27 “min kulli Fajjin ‘amīq” (datang dari segala penjuru). Lafal al-fajaj diartikan dengan posisi antara dua lutut yang saling berjauhan atau dalam posisi mengangkang. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh dan dijadikan pula jalan-jalan yang luas agar mereka mendapatkan petunjuk.
























