۞ وَمَنْ يَّقُلْ مِنْهُمْ اِنِّيْٓ اِلٰهٌ مِّنْ دُوْنِهٖ فَذٰلِكَ نَجْزِيْهِ جَهَنَّمَۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الظّٰلِمِيْنَ ࣖ
Wa may yaqul minhum innī ilāhun min dūnihī fa żālika najzīhi jahannam(a), każālika najziẓ-ẓālimīn(a).
Siapa saja di antara mereka (malaikat) yang berkata, “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain-Nya,” maka (dia) itu Kami beri balasan dengan (neraka) Jahanam. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang zalim.
Allah menjamin tidak ada malaikat yang mengaku tuhan selain Allah. Barang siapa di antara mereka, para malaikat, berkata, “Sungguh, aku adalah tuhan selain Allah,” maka Kami akan memberi balasan kepadanya, baik malaikat maupun manusia yang mengaku tuhan, dengan Jahanam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang zalim, karena mengaku dirinya tuhan, padahal sebenarnya hamba Allah. Pengakuan semacam ini merupakan kemusyrikan yang sangat besar. Selain mempersekutukan Allah, juga menyamakan derajat dirinya dengan Allah.
Pada ayat ini Allah menjelaskan ketentuan-Nya yang berlaku terhadap para malaikat dan siapa saja di antara makhluk-Nya yang mengaku dirinya sebagai tuhan selain Allah. Ketentuannya ialah bahwa siapa saja di antara mereka itu berkata, “Aku adalah tuhan selain Allah,” maka dia akan diberi balasan siksa dengan api neraka Jahanam, karena pengakuan semacam itu adalah kemusyrikan yang sangat besar, karena selain mempersekutukan Allah, juga menyamakan derajat dirinya dengan Allah. Demikianlah caranya Allah membalas perbuatan orang-orang yang zalim.
1. Burhānakum بُرْهَانَكُمْ (al-Anbiyā’/21:24)
Lafal burhān merupakan bentukan dari lafal baraha dengan menggunakan pola fu’lān yang berarti hujjah atau bukti, atau ia bentuk maṣdar dari kata baraha yabrahu yang berarti memutih, seperti ungkapan rajul abrah artinya lelaki yang putih. Barahratun artinya pemuda yang memiliki kulit yang sangat putih. Burhatun adalah waktu atau periode yang sangat singkat. Lafal burhān merupakan bukti yang paling kuat yang senantiasa menunjukkan kebenaran, karena dalil (bukti) terbagi menjadi lima bagian yaitu: dilalah yang pasti menunjukkan kebenaran, dilalah yang pasti menunjukan kebohongan, dilalah yang mendekati kebenaran, dilalah yang mendekati kebohongan, dan dilalah yang mendekati kepada keduanya. Qul hātū burhānakum yang dimaksud dalam ayat ini adalah tantangan dari Allah kepada mereka yang menjadikan tuhan-tuhan selain Allah. Artinya tunjukkanlah bukti atau hujjah yang bisa membuktikan bahwa tuhan-tuhan itu dapat menghidupkan yang mati, karena sekiranya di alam ini ada tuhan-tuhan selain Allah tentu langit dan bumi akan mengalami kerusakan.
2. Mu‘riḍūn مُعْرِضُوْنَ (al-Anbiyā’/21: 24)
Lafal mu‘riḍūn merupakan bentuk jamak dari lafal mu‘riḍ yang terambil dari kata ‘araḍa antonim dari lafal ṭūl (panjang) yang berarti lebar. Awalnya lafal ini digunakan pada jism kemudian dijadikan ungkapan kepada selain jism. ‘Araḍa memiliki makna yang banyak, diantaranya adalah mengemukakan, memamerkan atau mendemonstrasikan seperti firman Allah: “ṡumma ‘araḍahum ‘alal-malā’ikah” (kemudian Adam mengemukakan kepada para malaikat) (al-Baqarah/2:31). ‘Araḍa juga diartikan dengan barang-barang kenikmatan duniawi yang bersifat fana (al-Anfāl/8:67) ‘Araḍa juga diartikan dengan awan seperti yang disebutkan dalam al-Aḥqāf/46 : 24. al-‘Urḍah adalah penghalang (al-Baqarah/2: 224). Ba‘īr ‘urḍah berarti unta itu menjadi penghalang dalam perjalanan. A‘raḍa juga berarti berpaling, menghindar atau membuang. Arti inilah yang dimaksud dalam ayat di atas, yaitu bahwa orang-orang musyrik tidak akan menjawab terhadap tantangan yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad, sehingga mereka berpaling dari Allah.
3. Musyfiqūn مُشْفِقُوْنَ (al-Anbiyā’/21:28)
Musyf iqūn bentuk jamak dari lafal musyfiq yang terambil dari kata syafaqa yang berarti bercampurnya cahaya siang hari dengan gelapnya malam seiring dengan terbenamnya matahari. Allah bersumpah dalam Surah al-Insyiqāq/84:16, “Falā uqsimu bisy-syafaq” (Maka sesungguhnya Allah bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja). Dari lafal syafaqa lahir kata isyfāq yang berarti perasaan kasihan yang bercampur antara rasa takut dan simpati. Seorang musyfiq (yang merasa kasihan) menyayangi musyfaq ‘alaih (yang dikasihani) dan merasa takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya. Jika lafal asyfaqa diikuti oleh huruf min maka menunjukkan perasaan takut lebih dominan, sedangkan jika diikuti dengan huruf fi maka rasa kasihan lebih besar. Dalam ayat ini dijelaskan tuduhan orang-orang kafir bahwa para malaikat adalah anak-anak Allah sangatlah keliru dan salah, karena sesungguhnya para malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia, yang selalu berhati-hati karena merasa takut dan senantiasa patuh serta tunduk kepada-Nya.




















