وَلُوْطًا اِذْ قَالَ لِقَوْمِهٖٓ اِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ ۖمَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ اَحَدٍ مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ
Wa lūṭan iż qāla liqaumihī innakum lata'tūnal-fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadim minal-‘ālamīn(a).
(Ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kamu benar-benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di alam semesta.
Setelah diuraikan tentang Nabi Ibrahim, kali ini dibicarakan tentang Nabi Lut, sebagai seorang diantara kaumnya yang beriman. Ayat ini menyatakan, dan ingat serta ingatkanlah pula umatmu, wahai Nabi Muhammad, tentang nabi Lut, ketika Nabi Lut berkata kepada kaumnya yang ketika itu melakukan kedurhakaan besar, “Sesungguhnya kamu benar-benar melakukan perbuatan sangat keji, yaitu berupa monoseksual yang belum pernah dilakukan oleh seorang pundari umat-umat sebelum kamu. Sungguh apa yang kamu lakukan itu sangat buruk.
Allah menyuruh Nabi Muhammad menceritakan kisah Nabi Lut. Beliau diutus ke suatu kaum yang berdiam di negeri Sodom. Lut sendiri berdiam di negeri itu. Salah seorang dari putri kaum itu dikawininya, sehingga Lut punya hubungan besan dengan mereka. Dengan tegas Lut mengatakan kepada kaumnya bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini dipandang sebagai perbuatan yang disebut fāhisyah (perbuatan jahat dan tercela). Istilah sodomi yang populer saat ini berasal dari nama kota di mana kaum Lut melakukan perbuatan tercela itu. Apa yang mereka kerjakan belum pernah diperbuat oleh umat-umat sebelumnya seperti dijelaskan dalam ayat berikutnya tentang jenis perbuatan apa yang mereka kerjakan itu.
Nādīkum نَادِيْكُمْ (al-’Ankabūt/29: 29)
Kata nādīkum terbentuk dari dua kata, yaitu nādin dan kum (kalian). Kata an-nādī terbentuk dari kata nadā—yandā—nadan yang berarti berkumpul. Dari kata ini terambil kata nadaituhu yang berarti aku bermajelis dengannya. Juga terambil kata dārun-nadwah yang berarti tempat berkumpul bagi orang-orang Quraisy, karena bila mereka menghadapi masalah maka mereka berkumpul di tempat itu untuk bermusyawarah. Kata an-nādi al-a’la berarti al-mala’ al-a’la (khayalak tinggi), atau alam malaikat. Jadi, an-nādī adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan yang dimaksud dengan kata an-nādī pada ayat ini adalah setiap tempat perkumpulan mereka, dimana mereka melakukan hal-hal yang mungkar dan tidak berguna.
















































