Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 263 - Surat Al-Baqarah (Sapi)
البقرة
Ayat 263 / 286 •  Surat 2 / 114 •  Halaman 44 •  Quarter Hizb 5.25 •  Juz 3 •  Manzil 1 • Madaniyah

۞ قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

Qaulum ma‘rūfuw wa magfiratun khairum min ṣadaqatiy yatba‘uhā ażā(n), wallāhu ganiyyun ḥalīm(un).

Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

Makna Surat Al-Baqarah Ayat 263
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah menjelaskan pemberian berupa nafkah dan larangan menyebut-nyebutnya serta menyakiti hati yang diberi, ayat ini menekankan pentingnya ucapan yang menyenangkan dan pemberian maaf. Perkataan yang baik yang sesuai dengan budaya terpuji dalam suatu masyarakat, yaitu menolak dengan cara yang baik, tidak dengan cara menyakiti; dan pemberian maaf, yaitu memaafkan tingkah laku yang kurang sopan dari peminta, lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti dari pemberi. Allah Mahakaya, tidak memerlukan sedekah dari hamba-Nya yang disertai sikap menyakiti, bahkan tidak butuh kepada pemberian siapa pun, dan Maha Penyantun, sehingga tidak segera menjatuhkan sanksi dan murka kepada siapa yang durhaka kepada-Nya dengan harapan orang itu akan berubah sikapnya kemudian.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang yang tidak mampu bersedekah akan tetapi dia dapat mengucapkan kata-kata yang menyenangkan atau yang tidak menyakitkan hati, dan memaafkan orang lain adalah lebih baik dari orang yang bersedekah tetapi sedekahnya itu diiringi dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati dan menyinggung perasaan. Apabila orang yang bersedekah tidak dapat menghindarkan diri dari mengucapkan kata-kata yang melukai perasaan atau menyebut-nyebut pemberian itu, baik ketika memberikan atau pun sesudahnya, lebih baik ia tidak bersedekah, tetapi tetap mengucapkan kata-kata yang baik dan menyenangkan kepada siapa saja yang berhubungan dengannya. Itu lebih baik daripada memberikan sesuatu yang disertai dengan caci-maki, dan sebagainya.

Pada akhir ayat ini Allah menyebutkan dua sifat di antara sifat-sifat kesempurnaan-Nya, “Mahakaya dan Maha Penyantun”. Maksudnya ialah, Allah Mahakaya, sehingga Dia tidak memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menyumbangkan harta bendanya untuk kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingan hamba itu sendiri yaitu membersihkan diri, dan menumbuhkan harta mereka, agar mereka menjadi bangsa yang kuat dan kompak, serta saling tolong-menolong.

Allah swt tidak menerima sedekah yang disertai dengan kata-kata yang menyakitkan hati, karena Allah hanya menerima amal kebaikan yang dilakukan dengan cara-cara yang baik. Allah Maha Penyantun kepada hamba-Nya yang tidak menyertai sedekahnya dengan kata-kata yang menyakitkan, atau yang suka menyebut-nyebut sedekahnya setelah diserahkan atau ketika menyerahkannya. Oleh karena Allah Mahakaya dan Maha Penyantun, maka Allah kuasa pula untuk memberikan ganjaran dan pertolongan kepada hamba-Nya yang suka menafkahkan hartanya dengan ikhlas.

Isi Kandungan Kosakata

Ri’ā’an Nās رِئَاءَ النَّاسِ (al-Baqarah/2: 264)

Secara harfiah, lafal riyā’ atau ri’ā’a berakar dari lafal ra’ā (رأى) yang berarti melihat. Ri’ā’an di sini dalam wazan fi‘āl untuk menunjukkan suatu perbuatan secara berlebihan atau berulang-ulang yang berarti banyak memperlihatkan atau pamer perbuatan-perbuatan yang baik. Menurut istilah, riyā’ adalah meninggalkan ikhlas di dalam amal demi selain Allah (lihat: at-Ta‘rīfāt, al-Jurjānī, h. 151). Menurut jumhur ulama, orang yang menyebut-nyebut sedekahnya dan menyakiti perasaan si penerima sama seperti orang yang berinfak karena riyā’ kepada manusia, dan disamakan dengan orang kafir yang berinfak agar disebut dermawan. Semua amal mereka tidak dibalas dengan pahala dan sia-sia seperti tanah di atas batu licin lalu tersiram air hingga tersapu bersih. Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan sikap menyebut-nyebut sedekah dan menyakiti perasaan si penerima berakibat menghentikan berlipat-gandanya pahala sedekah. Karena, pahala sedekah terus berlipat ganda sampai si pemberi sedekah itu menyebut-nyebut sedekahnya dan menyakiti perasaan si penerima, dan pada saat itu pelipat-gandaan pahala terhenti.

Riyā’ merupakan penyakit hati dan sifat orang yang lemah iman. Riyā’ juga merupakan salah satu sifat orang munafik, sebagaimana dijelaskan di dalam surah an-Nisā'/4:142. Lebih dari itu, di dalam sebuah hadis (riwayat Muslim, Aḥmad dan Baihaqi) disebutkan bahwa riyā’ adalah syirk aṣgar (syirik kecil) yang menjadi jalan bagi masuknya syirk akbar (syirik besar).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto