Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 60 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 60 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 365 •  Quarter Hizb 37.25 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اسْجُدُوْا لِلرَّحْمٰنِ قَالُوْا وَمَا الرَّحْمٰنُ اَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُوْرًا ۩ ࣖ

Wa iżā qīla lahumusjudū lir-raḥmāni qālū wa mar-raḥmānu anasjudu limā ta'murunā wa zādahum nufūrā(n).

Apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih.” Mereka menjawab, “Siapakah Yang Maha Pengasih itu? Apakah kami bersujud kepada (Allah) yang engkau (Nabi Muhammad) perintahkan kepada kami?” (Perintah) itu menambah mereka makin lari (dari kebenaran).

Makna Surat Al-Furqan Ayat 60
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kemudian Allah menjelaskan tentang sikap orang kafir yang terus ingkar terhadap Allah. Dan apabila dikatakan kepada mereka, yakni kepada orang-orang kafir itu, “Sujudlah dan tunduklah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pengasih,” mereka menjawab, dengan sinis, “Siapakah yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau, wahai Muhammad, perintahkan kami bersujud kepada-Nya padahal kami tidak mengetahui dan mengenal-Nya?” Mereka sangat angkuh dan mereka makin jauh lari dari kebenaran. Hati mereka sudah terkunci rapat oleh kedengkian, kesombongan, dan kekafiran.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah menjelaskan betapa besar karunia dan nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, Allah menerangkan pula sikap orang-orang kafir yang seharusnya bersyukur dan berterima kasih, tetapi mereka berbuat sebaliknya. Apabila mereka yang menyembah selain Allah diperintahkan untuk sujud kepada Tuhan Yang Maha Penyayang, mereka menjawab, “Siapakah Tuhan Yang Maha Penyayang?” Pertanyaan mereka seperti pertanyaan Bani Israil kepada Musa ketika ia mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Rabbul ‘Ālamīn.” Bani Israil bertanya, “Siapakah Rabbul ‘Ālamīn itu?” Kaum musyrikin itu dalam bantahannya mengatakan, “Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang dikatakan Maha Penyayang, tetapi kami belum kenal sama sekali?” Perintah sujud itu menambah mereka ingkar dan jauh dari iman.

Diriwayatkan oleh aḍ-Ḍaḥḥāq bahwa Nabi Muhammad beserta para sahabat bersujud ketika selesai membaca ayat ini, karena ia termasuk di antara ayat-ayat yang disunatkan bersujud bagi para pembaca dan pendengarnya. Sujudnya dinamakan sujud tilawah. Ayat-ayat yang disunatkan sujud tilawah ada 15 buah, dua buah di antaranya berada dalam Surah al-Ḥajj dan yang 13 lagi tersebar dalam Surah-surah al-A‘rāf, ar-Ra’d, an-Naḥl, al-Isrā’, Maryam, al-Furqān, an-Naml, as-Sajdah, Ṣād, Fuṣṣilat, an-Najm, al-Insyiqāq, dan al-‘Alaq. Yang berada dalam Surah Ṣad bukan saja sujud tilawah, tetapi juga sujud syukur. Setelah Allah menerangkan sikap orang-orang kafir yang menjauhkan diri dari sujud kepada-Nya, maka Dia menerangkan sikap penolakan orang-orang untuk sujud, bahkan mereka bertambah keras kepala dan menjauh dari Tuhannya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Żahīran ظَهِيْرًا (al-Furqān/25: 55)

Żahīr terambil dari kata ẓahara-yaẓharu-ẓahr/ uhūr artinya “membantu”. Terdapat kata ẓahr yaitu “punggung”. Dalam Surah al-Insyirāḥ/94: 3 di-sebutkan, “Allażi anqaḍa ẓahraka” (yang memberatkan punggungmu), yaitu tugas menyampaikan wahyu yang harus diemban Nabi saw. Żihriy adalah sesuatu yang diletakkan di punggung, yaitu sesuatu yang dilupakan. Dengan demikian, ẓahara ‘membantu’ yang dikaitkan dengan ẓahr ‘punggung’ adalah “menyediakan punggung untuk memanggul beban orang lain”. Dari kata itulah dibentuk kata pelaku sangat (ṣigah mubālagah) yaitu ẓahīr ‘yang amat membantu’. Dalam Al-Qur’an dinyatakan, Walā takūnanna ẓahīran lil-kāfirīn ‘Karena itu janganlah kau (ya Muhammad) menjadi penolong orang-orang kafir’ (al-Qaṣaṣ/28: 86), artinya mereka tidak akan memperoleh pertolongan apa pun dari Nabi saw baik di dunia maupun di akhirat. Dan juga terdapat ayat, Wa kānal-kāfiru ‘alā rabbihī ẓahīra ‘Orang kafir itu menjadi penolong (setan) melawan Tuhannya’.

Terdapat akar kata lain yaitu ẓahara-yaẓharu-ẓuhūr artinya “tampak” yang tadinya tersembunyi. Dalam Surah ar-Rūm/30: 41disebutkan, “Żaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās” (Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia). Dari kata itu terbentuk ẓāhara yaitu “menganggap dua hal yang berbeda tampak sama”. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, “Wallażīna yuẓāhirūna min nisā’ihim yaitu “Orang yang tampak olehnya istrinya sama dengan ibunya”. Perbuatan itu disebut ẓihār. Terdapat pula kata ẓuhr ‘waktu zuhur/siang’. Salat Żuhr adalah salat di siang hari (waktu yang jelas sekali tampak segala sesuatu).

2. Khilfah خِلْفَة (al-Furqān/25: 62)

Kata khilfah terambil dari kata khalafa yang berarti berada di belakang sesuatu atau sesudahnya. Kata ini merujuk kepada sesuatu yang datang sesudah yang lain guna menggantikan tugas yang diperankan oleh pihak lain yang datang sebelumnya. Ayat ini menjelaskan bahwa malam yang datang menggantikan siang, kedua-duanya dapat dijadikan sebagai sarana untuk membuktikan kekuasaan dan keesaan Allah, dan keharusan beribadah kepada-Nya. Kata khilfah hanya disebutkan sekali di dalam Al-Qur’an yaitu dalam ayat ini.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto