Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 62 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 62 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 365 •  Quarter Hizb 37.25 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا

Wa huwal-lażī ja‘alal-laila wan-nahāra khilfatal liman arāda ay yażżakkara au arāda syukūrā(n).

Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 62
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan bentuk kekuasaan Allah lainnya adalah bahwa Dia pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti sesuai dengan perputaran bumi di porosnya. Siang dan malam saling berkejaran. Kejadian alam seluruh ini haruslah menjadi bahan renungan bagi orang yang ingin mengambil pelajaran bahwa semua ciptaan Allah pasti mempunyai hikmah yang besar bagi makhluk-Nya, atau bagi yang ingin bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya untuk mencari rida Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah pula yang menjadikan malam dan siang silih berganti agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang selalu mengingat nikmat-Nya dan bertafakur tentang keajaiban ciptaan-Nya. Dengan demikian, timbul dorongan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah itu. Jika seandainya malam dan siang tidak bergiliran, dan matahari terus saja bersinar, niscaya hal itu menimbulkan perasaan jemu atau bosan dan lelah karena tidak dapat beristirahat di malam hari. Demikian pula jika malam terus berlangsung tanpa diselingi dengan sinar matahari, niscaya membawa kerusakan bagi makhluk yang membutuhkannya. Adanya pergantian siang dan malam itu memberikan kesempatan untuk menyempurnakan kekurangan dalam ibadah yang sunah yaitu bilamana seseorang karena kesibukan bekerja pada siang harinya tidak sempat berdoa atau membaca wirid, maka dapat dilaksanakan pada malam harinya, seperti tersebut dalam sebuah hadis sahih:

إِنَّ الله َعَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِئُ النَّهَارِ وَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِئُ اللَّيْلِ حَتىَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا. (رواه مسلم عن أبى موسى)

Sesungguhnya Allah mengulurkan tangan-Nya di malam hari supaya orang yang berbuat dosa pada siang hari dapat bertobat dan mengulurkan tangan-Nya pada siang hari supaya dapat bertobat orang yang berdosa pada malam harinya, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya. (Riwayat Muslim dari Abū Mūsa).

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaṭṭāb pernah salat Duha lama sekali. Tatkala beliau ditegur oleh salah seorang sahabat, beliau menjawab bahwa ia meninggalkan beberapa wirid hari ini, karena kesibukan, maka ia bermaksud mengganti kekurangan itu dengan salat Duha, lalu beliau membaca ayat 62 ini.

Malam, siang, matahari, dan bulan merupakan empat nikmat Allah. Allah menciptakan malam sehingga manusia dapat beristirahat akibat gelapnya malam. Siang diciptakan oleh Allah dengan terbitnya matahari untuk bekerja. Allah menciptakan matahari dan bulan masing-masing mempunyai poros dan garis edarnya sendiri-sendiri. Tanpa kenal lelah, dan tidak pernah diam, semuanya terus beredar.

Pergantian siang dengan malam bisa hanya berupa perubahan terang menjadi gelap. Akan tetapi, secara psikologis pergantian dari terang menjadi gelap itu memberikan dampak suasana hati yang sama sekali berbeda dengan suasana siang. Berbagai percobaan telah dilakukan untuk mengamati bagaimana pengaruh psikis terhadap pekerja malam. Teramati gejala psikosomatis (gejala fisik yang disebabkan oleh penyebab psikis) mulai dari hanya mual-mual sampai yang agak berat yaitu depresi mental. Ini baru pengaruh jangka pendek terhadap fisik dan kejiwaan manusia. Pengaruh jangka panjang bisa memberikan efek yang lebih berat. Oleh sebab itu, Allah menggariskan malam untuk istirahat dan siang untuk bekerja. Jadi bekerja malam hari yang disebut lembur itu bertentangan dengan kodrat manusia seperti yang digariskan Allah.

Kondisi ini tak mengherankan karena pada siang hari bumi mendapatkan paparan (exposure) sinar tampak, mulai bergeser ke warna kuning saat matahari terbenam, bergeser ke infra-merah saat salat Isya, ke ultraviolet jika malam telah larut, dan mendekati gelombang gamma yang berbahaya mendekati subuh. Paparan ini yang menyebabkan manusia menderita psikosomatik jika tidak beristirahat dan terpaksa harus bekerja.

Isi Kandungan Kosakata

1. Żahīran ظَهِيْرًا (al-Furqān/25: 55)

Żahīr terambil dari kata ẓahara-yaẓharu-ẓahr/ uhūr artinya “membantu”. Terdapat kata ẓahr yaitu “punggung”. Dalam Surah al-Insyirāḥ/94: 3 di-sebutkan, “Allażi anqaḍa ẓahraka” (yang memberatkan punggungmu), yaitu tugas menyampaikan wahyu yang harus diemban Nabi saw. Żihriy adalah sesuatu yang diletakkan di punggung, yaitu sesuatu yang dilupakan. Dengan demikian, ẓahara ‘membantu’ yang dikaitkan dengan ẓahr ‘punggung’ adalah “menyediakan punggung untuk memanggul beban orang lain”. Dari kata itulah dibentuk kata pelaku sangat (ṣigah mubālagah) yaitu ẓahīr ‘yang amat membantu’. Dalam Al-Qur’an dinyatakan, Walā takūnanna ẓahīran lil-kāfirīn ‘Karena itu janganlah kau (ya Muhammad) menjadi penolong orang-orang kafir’ (al-Qaṣaṣ/28: 86), artinya mereka tidak akan memperoleh pertolongan apa pun dari Nabi saw baik di dunia maupun di akhirat. Dan juga terdapat ayat, Wa kānal-kāfiru ‘alā rabbihī ẓahīra ‘Orang kafir itu menjadi penolong (setan) melawan Tuhannya’.

Terdapat akar kata lain yaitu ẓahara-yaẓharu-ẓuhūr artinya “tampak” yang tadinya tersembunyi. Dalam Surah ar-Rūm/30: 41disebutkan, “Żaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās” (Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia). Dari kata itu terbentuk ẓāhara yaitu “menganggap dua hal yang berbeda tampak sama”. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan, “Wallażīna yuẓāhirūna min nisā’ihim yaitu “Orang yang tampak olehnya istrinya sama dengan ibunya”. Perbuatan itu disebut ẓihār. Terdapat pula kata ẓuhr ‘waktu zuhur/siang’. Salat Żuhr adalah salat di siang hari (waktu yang jelas sekali tampak segala sesuatu).

2. Khilfah خِلْفَة (al-Furqān/25: 62)

Kata khilfah terambil dari kata khalafa yang berarti berada di belakang sesuatu atau sesudahnya. Kata ini merujuk kepada sesuatu yang datang sesudah yang lain guna menggantikan tugas yang diperankan oleh pihak lain yang datang sebelumnya. Ayat ini menjelaskan bahwa malam yang datang menggantikan siang, kedua-duanya dapat dijadikan sebagai sarana untuk membuktikan kekuasaan dan keesaan Allah, dan keharusan beribadah kepada-Nya. Kata khilfah hanya disebutkan sekali di dalam Al-Qur’an yaitu dalam ayat ini.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto