Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 47 - Surat Al-Furqān (Pembeda)
الفرقان
Ayat 47 / 77 •  Surat 25 / 114 •  Halaman 364 •  Quarter Hizb 37 •  Juz 19 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الَّيْلَ لِبَاسًا وَّالنَّوْمَ سُبَاتًا وَّجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا

Wa huwal-lażī ja‘ala lakumul-laila libāsaw wan-nauma subātaw wa ja‘alan-nahāra nusyūrā(n).

Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian dan tidur untuk istirahat. Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha.

Makna Surat Al-Furqan Ayat 47
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan Dialah yang menjadikan malam yang gelap gulita untukmu wahai sekalian manusia, sebagai pakaian yang sama-sama menutupi badanmu, dan Dia menjadikan tidur untuk istirahat mu dari semua kegiatan, agar jika kamu bangun di pagi hari, badanmu kembali segar bugar. Dan Dia juga menjadikan siang terang benderang untuk bangkit berusaha mencari rezeki buat kehidupanmu dan keluargamu. Terciptanya siang dan malam karena perputaran bumi di porosnya ketika mengitari matahari, demikian pula matahari yang terus berputar dan berjalan pada garis edarnya. Semua keajaiban alam semesta ini tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah lalu menyebutkan kekuasaan-Nya yang kedua yaitu menjadikan malam itu bermanfaat bagi manusia seperti manfaatnya pakaian yang menutup badan. Allah juga menjadikan tidur nyenyak bagi manusia sehingga ia seperti mati, karena seseorang pada waktu tidur tidak sadar sama sekali, dan anggota badannya berhenti bekerja kecuali jantung dan beberapa organ lainnya. Dengan demikian, dia dapat beristirahat dengan sempurna seperti dalam firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰىكُمْ بِالَّيْلِ

Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari. (al-An‘ām/6: 60).

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur. (az-Zumar/39: 42)

Allah menjadikan siang untuk berusaha dan beraktivitas. Sebagaimana tidur pada malam hari yang diserupakan dengan mati, maka bangun pada siang hari diserupakan dengan bangun lagi dari mati. Demikian pula manusia setelah berakhir masa hidupnya di dunia ini dan mati, akan dibangkitkan kembali setelah matinya, untuk diadili oleh Allah segala yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia.

Isi Kandungan Kosakata

1. ‘Ażb Furāt عَذْبٌ فُرَات (al-Furqān/25: 53)

Kata ‘ażb mengandung dua makna yang bertolak belakang. Bila akar katanya ‘ażaba-ya’żibu-’ażb , makna dasarnya adalah “tak mau makan dan minum karena terlalu lapar dan dahaga.” Dari akar kata ini terambil kata ‘ażāb ‘siksa’, yaitu kepedihan yang luar biasa atas jasmani dan rohani yang diderita sebagai balasan atas kesalahan. Kata ‘ażb dalam al-Furqān/25: 53 tidak mungkin merupakan maṣdar akar kata ini, karena bila bentuk kata ‘ażb itu adalah maṣdar, tentu ayat itu diartikan: Ini adalah keazaban. Itu tidak tepat.

Akar kata lain ‘ażb adalah ‘ażaba-ya’żubu-’uż batan, maknanya adalah “bening, bersih sekali, dan enak”. Al-’ażb adalah isim dari akar kata itu, bukan maṣdar, artinya adalah “air yang begitu bening, bersih, dan enak”. Ayat itu bunyinya, hāżā’azb (ini adalah air bening bersih). Akar kata ‘ażaba-ya’żibu-’ażb yang berarti “siksa” tidak memiliki isim dalam bentuk ‘ażb, tetapi ‘ażāb.

Furāt terambil dari akar kata farata-yafrutu-fartan artinya “lemah akal”. Bila dikaitkan dengan air, maka air itu berarti sangat bening dan enak sehingga mempengaruhi sekali perasaan, artinya “menyegarkan sekali”. Mā’ furat berarti air yang begitu bening, bersih, enak, dan menyegarkan sekali ketika diminum. Air yang dimaksud kiranya air tawar yang berasal dari sungai, atau air tanah yang diperoleh manusia dengan menggali sumur di permukaan tanah.

Makna ayat al-Furqān/25: 53, hāżā ‘ażb furāt, dengan demikian adalah: Ini adalah air bening bersih enak segar, yaitu air tawar. Air tawar itu terdapat di sungai dan dalam tanah. Air itu tidak akan bercampur dengan air asin dari laut karena sistem yang diciptakan Allah. Kecuali bila manusia merusak sistem itu, di antaranya dengan menyedot air permukaan melebihi daya dukungnya yang akan mengakibatkan air tanah terintrusi air laut.

2. Milḥ Ujājمِلْحٌ اُجَاجٌ (al-Furqān/25: 53)

Milḥ terambil dari akar kata malaḥa-yamlaḥu/yamliḥu -malḥ, artinya “membubuhkan garam ke dalam makanan”. Milḥ adalah “garam”. Mā’ milḥ adalah air yang sangat asin sehingga pahit dan tidak dapat diminum. Māliḥ adalah makanan/minuman yang terlalu asin. Akan tetapi, rajul malīh adalah orang yang manis (handsome). Dari kata milḥ itu terambil kata milāḥah, yaitu kelautan. Mallāḥ adalah nelayan atau pelaut, dan juga berarti pembuat atau penjual garam. Dengan demikian, milḥ dalam al-Furqān/25: 53 maksud-nya adalah air asin yaitu air laut.

Ujāj terambil dari akar kata ajja-ya’ujju-ajūj artinya menjadi asin pahit. Ujāj adalah air yang amat asin sehingga bila diminum terasa pahit dan panas di kerongkongan. Yang dimaksud milḥ ujāj adalah air laut. Dalam Surah al-Furqān/25: 53 itu, Allah membandingkan dua laut: yang satu airnya bening bersih enak segar, sedangkan yang satu lagi asin pahit dan membakar tenggorokan. Laut yang pertama adalah sungai, airnya tawar dan enak diminum. Sungai disebut laut karena sungai itu ada yang besar sehingga juga bisa dilayari seperti laut. Laut yang kedua adalah lautan, airnya asin. Kedua laut itu tidak akan bercampur airnya karena sistem yang dibuat Allah, yang bisa dipelajari dalam ilmu geologi atau ilmu lingkungan. Tetapi bila manusia merusak sistem itu, misalnya menyedot air permukaan secara besar-besaran, maka air laut akan mengintrusi air permukaan, seperti yang dialami sebagian wilayah Ibukota Jakarta dewasa ini. Maka air sumur atau air sungai akan menjadi asin dan tak layak lagi diminum. Mari kita bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, dan mari kita jaga lingkungan supaya tidak rusak oleh tangan-tangan kita sendiri.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto