اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Illā man tāba wa āmana wa ‘amila ‘amalan ṣāliḥan fa ulā'ika yubaddilullāhu sayyi'ātihim ḥasanāt(in), wa kānallāhu gafūrar raḥīmā(n).
Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Betapa pun demikian, Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang terhadap makhluk-Nya senantiasa membukakan pintu tobat-Nya. Kecuali, orang-orang yang ketika masih hidup di dunia bertobat dengan tobat yang benar, beriman, dan mengerjakan kebajikan, sebagai bukti akan kebenaran tobatnya seperti banyak melaksanakan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu mereka yang perlu dibantu, dan kebajian lainnya. Maka kejahatan yakni dosa yang telah mereka lakukan akan diganti Allah dengan kebaikan, yaitu dengan gemar melakukan ketaatan dan membeci kemaksiatan. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang bagi mereka yang ingin kembali lagi ke jalan yang benar.
Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan perbuatan dosa seperti tersebut pada ayat di atas, lalu bertobat dengan sebenar-benar tobat, kembali beriman, serta selalu berbuat amal saleh, perbuatan mereka yang jahat itu akan diganti dengan kebaikan dan pahala yang berlipat ganda karena Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Menurut sebagian mufasir, penggantian dosa kejahatan dengan pahala kebaikan itu ialah dengan menghapuskan segala dosa yang telah dikerjakan di masa yang lalu karena tobat yang benar, kemudian amal kebaikan yang dikerjakannya sesudah bertobat dilipatgandakan pahalanya sehingga bisa menghapus dosa yang telah dilakukan dahulu.
Mufasir-mufasir lain mengatakan bahwa Allah memberikan kepada orang yang bertobat itu pahala yang seimbang banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakan. Kemudian dia bertobat dan mengerjakan amal yang baik, maka amal yang baik itu akan diberi pahala yang berlipat ganda pula. Jadi orang yang bertobat itu mendapat dua kebaikan yaitu dosa-dosanya yang terdahulu dihapuskan dan kemudian diberi pula pahala yang sama banyaknya dengan dosa yang telah dikerjakannya itu.
Dalam sebuah hadis, diriwayatkan bahwa:
عَنْ أَبِي طَوِيْل شَطَب الْمَمْدُوْد، اَنَّهُ أَتَى رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ رَجُلًا عَمِلَ الذُّنُوْبَ كُلَّهَا فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهَا شَيْئاً وَهُوَ فِى ذَلِكَ،لَمْ يَتْرُكْ حَاجَةً اِلاَّ أَتَاهَا: فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: فَهَلْ أَسْلَمْتَ؟ قَالَ: اَمَّا اَنَا فَأَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَاِنَّكَ رَسُوْلُ اللّٰهِ. قَالَ : نَعَمْ. تَفْعَلُ الْخَيْرَاتِ وَتَتْرُكُ السَّيِّئَاتِ .فَيَجْعَلُ اللّٰهُ لَكَ خَيْرَاتٍ كُلِّهِنَّ. قَالَ: وَغَدَرَاتِى وَفَجَرَاتِى؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقَالَ: اللّٰهُ اَكْبَرُ فَمَازَالَ يُكَبِّرُ حَتَّى تَوَارَى (رواه الطبرانى)
Dari Abu Ṭawīl Syaṭab al-Mamdūd, ia menghadap Nabi saw dan bertanya, “Apakah pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan segala dosa, tidak ada perbuatan dosa kecuali ia lakukan. Apakah tobatnya diterima? Nabi saw menjawab, “Apakah kamu sudah masuk Islam?” Dia menjawab, “Saya sendiri bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan engkau adalah utusan Allah.” Nabi saw berkata, “Ya, benar. Kamu mengerjakan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Maka Allah akan menjadikan untukmu kebaikan semuanya.” Dia bertanya lagi, “Semua kesalahanku diampuni?” “Ya,” jawab Nabi saw. “Allāhu Akbar,” kata orang tadi, dan dia terus bertakbir sampai pergi tidak kelihatan. (Riwayat al-Ṭabrānī)
Kemudian Allah menyatakan bahwa tobat yang diterima itu haruslah diiringi dengan perbuatan baik. Tobat dimulai dengan penyesalan atas perbuatan jahat yang telah dilaksanakan, dan berhenti dari berbuat maksiat, diiringi dengan perbuatan baik untuk menjadi bukti bahwa tobat itu adalah tobat yang sebenarnya dan dilakukan dengan sungguh-sungguh (nasuha).
1. Lā Yasyhadūna az-Zūr لَايَشْهَدُوْن َ الزُّوْرَ (al-Furqān/25: 72)
Yasyhadūn artinya menyaksikan terambil dari kata syahadah dan syuhūd yang bermakna hadir dan menyaksikan, baik dengan mata maupun dengan mata hati. Makna ini kemudian berkembang menjadi makna bersaksi. Az-Zūr berarti kebohongan atau kepalsuan karena makna asalnya adalah condong dari arahnya yang lurus. Ayat ini menjelaskan sifat orang-orang yang beriman sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat 63 yang lalu. Sebagai hamba Allah yang taat mereka memiliki sifat yang terpuji yaitu mereka tidak mau memberikan kesaksian palsu. Kata az-zūr terulang sebanyak dua kali yaitu dalam surat ini dan surat al-Ḥajj/22: 30.
2. Qurrata A’yun قُرَّةَ أَعْيُنٍ (al-Furqān/25: 74)
Qurrah pada mulanya berarti dingin, tapi yang dimaksud di sini adalah makna menggembirakan karena sebagian ulama berpendapat bahwa air mata yang mengalir ada yang dingin dan hangat. Air mata yang dingin menunjukkan kegembiraan, sedangkan air mata yang hangat menunjukkan kesedihan. Namun yang dimaksud dalam ayat ini adalah sesuatu yang apabila dilihat akan menyenangkan orang yang melihatnya dan dianggap sebagai buah hati apabila dikatakan kepada seorang anak yang didambakan. Kata qurrah a’yun terulang sebanyak tiga kali dalam surat ini dan dalam Surah al-Qaṣaṣ/28: 3 dan as-Sajdah/32: 11.














































