Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 26 - Surat Al-Ḥajj (Haji)
الحجّ
Ayat 26 / 78 •  Surat 22 / 114 •  Halaman 335 •  Quarter Hizb 34.25 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Madaniyah

وَاِذْ بَوَّأْنَا لِاِبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْـًٔا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْقَاۤىِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Wa iż bawwa'nā li'ibrāhīma makānal-baiti allā tusyrik bī syai'aw wa ṭahhir baitiya liṭ-ṭā'ifīna wal-qā'imīna war-rukka‘is-sujūd(i).

(Ingatlah) ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan berfirman), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun, sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, mukim (di sekitarnya), serta rukuk (dan) sujud.

Makna Surat Al-Hajj Ayat 26
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan ingatlah, ketika Kami tempatkan Ibrahim yang lahir di Kaldea dan menetap di Palestina di tempat Baitullah, lalu bersama putranya, Ismail, meninggikan fondasi Kakbah. Kami menyatakan kepada Ibrahim, “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan suatu apa pun, karena menyekutukan-Ku itu kezaliman yang dahsyat. Dan sucikanlah rumah-Ku, Kakbah, dari berhala, kemusyrikan, dan perilaku tidak terpuji, serta peruntukkanlah Kakbah itu bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang yang rukuk dan sujud kepada Allah guna mendekatkan diri dan menyucikan jiwa.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengingatkan kepada orang-orang musyrik Mekah yang menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan masuk Masjidil Haram tentang peristiwa yang pernah terjadi dahulu, ialah pada waktu Allah menunjukkan kepada Nabi Ibrahim a.s, letak Baitullah yang akan dibangun kembali dan waktu ia memaklumkan kepada seluruh manusia di dunia atas perintah Allah bahwa Baitullah menjadi pusat peribadatan bagi seluruh manusia. Dengan mengingatkan peristiwa-peristiwa itu diharapkan orangorang musyrik Mekah tidak lagi menghalang-halangi manusia masuk agama Islam dan masuk Masjidil Haram, karena agama Islam itu adalah agama nenek moyang mereka Ibrahim dan Masjidil Haram itu didirikan oleh nenek moyang mereka pula.

Menurut ayat ini, Ibrahimlah orang yang pertama kali membangun Ka’bah. Tetapi menurut suatu riwayat bahwa Ibrahim hanyalah bertugas membangun Kaʻbah itu kembali bersama putranya Ismail a.s, sebelumnya telah didirikan Kaʻbah itu, kemudian runtuh dan bekasnya tertimbun oleh pasir. Menurut riwayat tersebut, setelah Ismail putra Ibrahim dan istrinya Hajar yang ditinggalkannya di Mekah menjadi dewasa maka Ibrahim datang ke Mekah dari Palestina, untuk melaksanakan perintah-perintah Allah yaitu mendirikan kembali Kaʻbah bersama putranya Ismail. Allah memberitahukan kepada Ibrahim bekas tempat berdirinya Kaʻbah yang telah runtuh itu dengan meniupkan angin kencang ke tempat itu, menjadi bersih, lalu Ibrahim a.s dan putranya Ismail a.s mendirikan Ka’bah di tempat itu.

Kemudian Allah memerintahkan kepada Ibrahim a.s dan umatnya agar mentauhidkan Allah; tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun, membersihkan Ka’bah dari segala macam perbuatan yang mengandung unsur-unsur syirik, mensucikannya dari segala macam najis dan kotoran, menjadikan Ka’bah itu sebagai pusat peribadatan bagi orang-orang yang beriman, seperti mengerjakan tawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah).

Perkataan “salat, ruku dan sujud”, merupakan isyarat bahwa Ka’bah itu didirikan untuk umat Islam, karena salat, ruku’ sujud itu, merupakan ciri khas ibadah umat Islam yang dilakukan dengan menghadap Ka’bah.

Allah telah melimpahkan karunia-Nya yang besar kepada kaum Muslimin, yang telah mempersiapkan pusat peribadatan mereka sejak lama sebelum diutus rasul mereka yang membawa risalah Islamiyah. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa pendirian Ka’bah yang dilaksanakan Nabi Ibrahim atas perintah Allah itu, merupakan persiapan penyampaian risalah Islamiyah. Karena di kemudian hari Ka’bah itu dijadikan Allah sebagai kiblat salat kaum Muslimin dan tempat mereka mengerjakan ibadah haji dan umrah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Masjidil-Ḥarām اَلْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (al-Ḥajj/22: 25)

Kata al-masjid berarti tempat sujud. Ia terambil dari kata sajada-yasjudu-sujūdan yang berarti meletakkan dahi di tanah. Kata al-ḥarām berarti ḥaram. Ia terambil dari kata ḥaruma-yaḥrumu-ḥaraman yang berarti terhalang. Kalimat yuḥramu min raḥmatillah berarti terhalang dari rahmat Allah. Kata ḥaram berarti sesuatu yang dilarang oleh Allah. Kata maḥārimul-lail berarti malam-malam menakutkan sehingga orang pengecut terhalang untuk keluar di malam itu. Dari sini dapat diambil pengertian bahwa kata al-masjid al-ḥarām adalah masjid yang diharamkan bagi manusia untuk beberapa hal (seperti perang dan dimasuki orang kafir) yang dibolehkan di tempat lain.

2. wal-bād وَاْلبَادِ (al-Ḥajj/22: 25)

Kata al-bād terambil dari kata badāwah. Kata badāwah berarti kehidupan yang tidak menetap, lawan dari kata ḥaḍarun yang berarti peradaban atau kehidupan menetap. Darinya diambil kata badwiyyun yang berarti orang badwi yang kehidupannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Akar kata badāwah adalah badā-yabdū-badwan yang berarti tampak. Darinya terambil kata bādiyar-ra’yi yang berarti orang yang pikirannya dangkal dan lekas percaya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah, “Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja…” (Hūd/11: 27) Gurun sahara disebut bādiyah karena sifat ruangnya yang tampak jelas. Kalimat badā ar-rajulu berarti laki-laki itu pergi ke gurun. Jadi, kata al-bād yang terdapat dalam ayat ini berarti orang yang singgah dan tidak menetap di suatu tempat.

3. bi’ilḥādبِإِلْح ادٍ (al-Ḥajj/22: 25)

Kata ilḥād terbentuk dari kata alḥada—yulḥidu—ilḥ ādan. Kata ini terambil dari kata laḥd, yaitu celah yang ada di sisi kuburan tempat diletakkannya mayit. Disebut laḥd karena mayit telah digeser dari bagian tengah ke bagian pinggir yang disebut liang lahad. Dari kata ini terambil kata multaḥad yang berarti tempat berlindung, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, “Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.” (al-Kahf/18: 27) Ia disebut multaḥada karena orang yang berlindung condong kepadanya. Jadi, alḥada menurut bahasa berarti menyimpang dan bergeser dari sesuatu. Kata ini disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak 4 kali, dan makna seluruhnya berkisar pada menyimpang dari kebenaran.

4. Biẓulmin بِظُلْمٍ (al-Ḥajj/22: 25)

Kata ẓulm terbentuk dari ẓalama-yaẓlimu-ẓulman. Akar maknanya adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kalimat lazima aṣ-ṣawaba falam yaẓlim ‘anhu berarti menetapi suatu kebenaran tanpa meninggalkannya. Syirik disebut kezaliman yang sangat besar (Luqmān/31:13) karena Allah yang menciptakan dan memberi rahmat itu tidak memiliki sekutu, sehingga apabila penciptaan dan rahmat itu disandarkan kepada selain-Nya maka itu berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, atau kezaliman yang sangat besar. Kata ẓulm dan semua derivasinya digunakan di dalam Al-Qur’an untuk menyebut banyak hal. Di antaranya adalah syirik (al-An‘ām/6:82), kufur (al-A‘rāf/7: 103), dan lain-lain. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan maksud dari kata ẓulm dalam ayat yang sedang dibahas ini. Riwayat dari ‘Abbas, Sulaiman, dan Qatādah mengatakan bahwa maksudnya adalah syirik dan menyembah selain Allah. Sementara riwayat dari ulama lain mengatakan bahwa maksudnya adalah menghalalkan apa yang diharamkan di Tanah Haram. Tetapi, keduanya tidak bertentangan karena sama-sama tercakup oleh kata ẓulm ini.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto