قَالَ اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ ضَيْفِيْ فَلَا تَفْضَحُوْنِۙ
Qāla inna hā'ulā'i ḍaifī falā tafḍaḥūn(i).
Dia (Lut) berkata, “Sesungguhnya mereka adalah tamuku. Maka, jangan mempermalukanku.
Melihat sikap dan gelagat para pendurhaka yang mendatangi rumahnya, Nabi Lut berkata, “Sesungguhnya mereka yang ada di rumahku adalah tamuku yang harus kita hormati bersama. Maka, jangan kamu mempermalukan aku dengan mengajak mereka melakukan perbuatan yang tidak senonoh.”
Ketika kaum Luṭ, penduduk kota Sodom, mendengar bahwa Luṭ kedatangan tamu-tamu yang gagah, mereka pun bergembira. Timbullah hawa nafsu jahat mereka untuk berbuat homoseksual dengan tamu-tamu itu, yang merupakan kebiasaan buruk yang selalu mereka lakukan.
Melihat tingkah laku kaumnya, Luṭ a.s. berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pemuda-pemuda yang kamu datangi dan kamu ajak melakukan perbuatan mesum adalah tamu-tamuku. Aku harus menghormati dan memuliakan tamu-tamuku itu, janganlah kamu melakukan perbuatan mesum dengan mereka, karena tindakan kamu itu akan memberi malu kepadaku. Bertakwalah kamu kepada Allah, peliharalah dirimu dari siksaan-Nya, dan janganlah kamu memperkosa mereka.”
Kaum Luṭ menentang dan mengancam Nabi Luṭ karena perkataannya itu dengan mengatakan, “Bukankah kami pernah melarangmu untuk melindungi tamu-tamu yang datang ke sini dari keinginan dan perbuatan yang akan kami lakukan terhadap mereka.”
Perkataan kaum Luṭ ini memberikan isyarat bahwa kaum Luṭ itu selalu memaksa tamu-tamu yang datang ketika itu agar bersedia melakukan perbuatan homoseksual dengan mereka. Perbuatan keji itu dilarang oleh Luṭ. Akan tetapi, mereka tidak menghiraukan larangan itu, bahkan mereka mengancam Luṭ dengan suatu hukuman, seandainya Luṭ masih mencampuri urusan mereka itu.
Tetapi Luṭ masih memperingatkan mereka dan menawarkan kepada mereka putri-putrinya untuk mereka nikahi, karena itulah yang sesuai dengan sunatullah. Beliau berkata, “Hai kaumku, menikahlah dengan putri-putriku. Janganlah kamu melakukan perkawinan dengan orang yang sejenis denganmu, karena kawin dengan orang yang sejenis itu diharamkan Allah. Lakukanlah perbuatan yang halal dan sesuai dengan sunatullah. Allah sengaja menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka menikah dan memiliki keturunan. Jika kamu terus berbuat demikian, niscaya kamu tidak akan memiliki keturunan dan jenis manusia akan punah dari muka bumi.”
Dalam ayat ini, Luṭ a.s. menyebut “putri-putriku”. Maksudnya ialah “para pengikutnya yang wanita” karena seorang nabi biasa menyebut kaumnya dengan anak-anaknya dan istri nabi adalah ibu dari umatnya sebagaimana firman Allah:
اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِي ْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ
Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. (al-Aḥzāb/33: 6)
Jika istri-istri nabi adalah ibu orang-orang yang beriman, tentulah nabi sendiri adalah bapak mereka dan seluruh umatnya adalah putra-putrinya.
Lūṭ لُوْط (al-Ḥijr/15: 61)
Pada garis besarnya kisah Nabi Luṭ dalam Al-Qur’an hampir sama seperti yang diceritakan dalam Bibel, tanpa menyebut nama-nama orang atau tempat dengan terinci, dan beberapa peristiwa lain.
Luṭ dalam ejaan Bibel adalah Lot. Lot anak Haran dan cucu Terah lahir di Ur, Kaldea; dia adalah kemenakan Abram (Ibrahim) (Kej. 11: 27, 31). Ia menemani pamannya dalam bermigrasi dari Haran (Harran) ke Kanaan, kemudian ke Mesir. Setelah keluar meninggalkan Mesir bersama Sarah, istrinya, dan Lot, dengan membawa kekayaan yang tidak sedikit, Abraham kembali ke perkemahannya yang dulu di dekat Betel dan Ai, melalui selatan Palestina. Kekayaan mereka, terutama ternak yang bertambah besar menyebabkan kedua kerabat itu terpisah, sebab padang rumput di daerah itu tidak akan mencukupi dan terasa sempit sekali. Lot lalu memilih daerah subur di kawasan Yordania. Di distrik inilah terletak Sodom dan Gomorah, sebelah timur Laut Mati. Watak Lot yang dilukiskan keras dan menyukai kemewahan sangat berlawanan dengan watak Abraham yang lembut. Akhir hayat Lot tidak jelas. Sebelum itu, Abraham sudah menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron .
Seperti disebutkan di atas, Al-Qur’an sedikit sekali menyebut nama orang atau tempat. Tidak seorang pun nama anggota keluarga Rasulullah atau sahabat dekatnya yang disebutkan selain Zaid. Nama Luṭ dalam Al-Qur’an disebutkan dalam 27 ayat, tanpa menyebut nama, tempat, dan pelaku, selain Luṭ sendiri dan Ibrahim. Dimulai dengan menyebutkan bahwa Allah telah memberi kearifan dan ilmu kepada Luṭ dan dimasukkan-Nya ke dalam rahmat-Nya, karena dia termasuk hamba-Nya yang saleh (al-Anbiyā’/21: 74-75). Perlu diperhatikan, bahwa Nabi Luṭ tidak termasuk kaum Sodom dan Gomorah. Oleh karena itu, dalam Qur’an Luṭ tidak disebut akhāhum seperti pada Hud, Saleh dan Syu‘aib, dengan menyebut untuk kaum ‘Ad “akhāhum Hūdan”, kaum Ṡamud “akhāhum Ṣāliḥan”, dan kaum Madyan “akhāhum Syu`aiban”. Luṭ sudah beriman kepada Ibrahim dan mengikuti ajaran dan perjuangannya. Ia tinggal di tempat itu setelah berpisah dengan pamannya, Ibrahim. Ia kemudian diutus Tuhan kepada penduduk tempat itu untuk menyampaikan pesan suci. Tetapi ia menganggap kaumnya itu seperti saudara-saudaranya sendiri (Qāf/50: 13) seperti yang selalu dilakukan para nabi.
















































