وَمَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
Wa mā ya'tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi'ūn(a).
Tidaklah datang seorang rasul kepada mereka, kecuali selalu memperolok-olokkannya.
Dan ingatlah wahai Nabi Muhammad, setiap kali seorang rasul datang kepada mereka dengan membawa risalah dari Allah dan mengajak mereka beriman, mereka selalu memperolok-olokkannya. Karena itu, janganlah engkau berkecil hati dan bersedih menerima perlakuan buruk kaummu kepadamu, karena para rasul sebelummu juga mengalami hal demikian.
Dengan ayat ini Allah swt menghibur hati Nabi Muhammad saw yang sedang bersedih hati dan mengalami penderitaan akibat olok-olok, cercaan, dan kezaliman orang-orang musyrik Mekah. Beliau merasa sedih atas kebodohan kaumnya yang tidak mau memahami Al-Qur’an, bahkan menuduh dirinya orang gila. Allah swt menerangkan bahwa apa yang sedang dialami Nabi Muhammad itu telah dialami pula oleh para rasul sebelumnya yang diutus kepada umat-umat yang dahulu. Hampir semua umat itu memperolok-olokkan para rasul bahkan di antara mereka ada yang mengadakan rencana jahat untuk membunuhnya. Mereka mengingkari seruan rasul dan tetap melaksanakan adat kebiasaan dan kepercayaan warisan nenek moyang mereka. Hampir semua rasul diutus kepada kaumnya sendirian, tanpa teman dan pembantu yang menolongnya kecuali pembantu dan penolong dari para pengikut yang diperoleh setelah banyak berdakwah. Pada umumnya, para rasul itu orang miskin, tanpa pembesar atau penguasa yang menyokongnya, dan tanpa harta benda yang cukup untuk membiayai dakwahnya, tetapi semua rasul adalah orang-orang yang amanah, tabah, dan sabar melaksanakan tugas-tugas yang dipikulkan kepada mereka.
Dengan ayat ini, seakan-akan Allah swt menegaskan kepada Nabi Muhammad agar tidak berputus asa disebabkan oleh sikap dan tindakan orang-orang kafir itu, karena semua rasul mengalami cobaan dan tantangan seperti itu. Sikap orang kafir yang demikian itu adalah karena akhlak mereka telah rusak, dan nafsu telah mengalahkan semua kebenaran yang mungkin bisa masuk ke dalam hati mereka. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerima kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.
Syiya’ شِيَعِ (al-Ḥijr/15: 10)
Bentuk jamak dari syi’ah. Terambil dari kata sya’a artinya “tersiar”. Syi’ah berarti orang-orang yang dijadikan sumber kekuatan oleh orang lain dan menyebabkan orang itu menjadi dikenal. Sering diterjemahkan dengan “kelompok” atau “suku”. Contohnya adalah ayat yang artinya, “Ini adalah dari kelompoknya dan ini dari musuhnya,” (al-Qaṣaṣ/28: 15). Maksudnya: salah seorang yang berkelahi itu adalah dari suku Musa, yaitu Bani Israil, dan yang seorang lagi dari suku Mesir. Musa meninju orang itu yang menyebabkan kematiannya.
Bentuk jamaknya misalnya dalam Surah al-Ḥijr/15: 10 ini, “Dan sungguh Kami telah mengutus sebelummu kepada kelompok-kelompok yang terdahulu.” Maksudnya, Allah telah mengutus para rasul yang juga manusia kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad, bukan malaikat. Oleh karena itu, bila Nabi Muhammad disanggah oleh umatnya, itu hal yang sudah lumrah, sehingga ia tidak perlu kecewa.
















































