قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
Qāla rabbi fa anẓirnī ilā yaumi yub‘aṡūn(a).
(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”
Kutukan Allah kepada Iblis tidak membuatnya menyadari kesalahan dan kedurhakaannya, tidak pula membuatnya memohon ampun kepada Allah. Kedurhakaannya bahkan semakin menjadi. Keengganan Iblis untuk bersujud lahir dari kedengkiannya terhadap Nabi Adam. Kedengkian itu bahkan ingin dia teruskan hingga anak cucunya. Hal ini terbukti dari permintaan Iblis kepada Allah agar umurnya dipanjangkan. Ia (Iblis) berkata, “Ya Tuhanku, kalau begitu maka berilah penangguhan kepadaku, yakni berilah tenggat bagiku untuk hidup dalam waktu yang lama agar aku dapat menjerumuskan anak-cucu Adam sampai hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur pada hari Kiamat.”
Allah swt menjawab keingkaran Iblis dengan memerintahkannya agar keluar dari surga atau dari golongan malaikat. Akibat pengingkaran itu, Iblis telah jauh dari rahmat Allah, dikenai hukuman, dan terus menerus mendapat kutukan-Nya sampai hari pembalasan nanti.
Dalam firman Allah yang lain, diterangkan bahwa Iblis diusir dari surga karena ia menyombongkan diri dan termasuk golongan orang-orang yang hina. Allah swt berfirman:
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ ١٣
(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguh-nya kamu termasuk makhluk yang hina.” (al-A‘rāf/7: 13)
Setelah mendengar keputusan Allah itu, Iblis menyatakan menerima hukuman itu. Akan tetapi, ia mohon kepada Tuhan agar umurnya dipanjang-kan sampai hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur. Permohonan Iblis itu dikabulkan Allah dan ia akan hidup terus-menerus sampai akhir zaman hingga tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari kubur.
Ḥamā’ Masnūn حَمَاءٍ مَسْنُوْنٍ (al-Ḥijr/15: 26)
Ḥama’ adalah tanah liat berwarna hitam. Masnūn artinya “yang dibentuk”, terambil dari akar kata sanna artinya “membentuk” Dalam Al-Qur’an, frase ini terulang tiga kali. Dalam Surah al-Ḥijr/15: 26 ini diinformasikan bahwa manusia diciptakan Allah dari “tembikar berongga dari tanah liat yang dibentuk”. Itu adalah salah satu mata rantai proses penciptaan Adam yang dipahami dari ayat-ayat mengenai penciptaannya. Penciptaan itu dimulai dari turāb “tanah murni” (Āli ‘Imrān/3: 59). Bila tanah itu sudah mengandung air disebut ṭīn (al-An‘ām/6: 2). Ṭīn itu menjadi ṭīn lāzib (tanah yang liat) (aṣ-Ṣāffāt/37: 11). Dari ṭīn lāzib dibentuk ṣalṣāl (al-Ḥijr/15: 28), yaitu benda berongga yang bila ditiup berbunyi ṣal…ṣal, sehingga orang Arab menamainya ṣalṣāl.













































