يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Yā ayyuhal-lażīna āmanū in jā'akum fāsiqum binaba'in fa tabayyanū an tuṣībū qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn(a).
Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
Setelah kelompok ayat-ayat yang lalu menguraikan tuntunan bagai-mana bertatakrama dengan Rasullah, kelompok ayat ini menguraikan bagaimana berlaku dengan sesama manusia, termasuk kepada orang fasik. Diawali dengan tuntunan bagaimana menghadapi orang fasik, Allah berfirman, Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita yang penting, maka ja-nganlah kamu tergesa-gesa menerima berita itu, tetapi telitilah terlebih dahulu kebenarannya. Hal ini penting dilakukan agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan atau kecerobohan kamu mengikuti berita itu yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu yang terlanjur kamu lakukan. Ayat ini memberikan tuntunan kepada kaum muslim agar berhati-hati dalam menerima berita terutama jika bersumber dari orang yang fasik. Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat tindakan yang diakibatkan oleh berita yang belum diteliti kebenarannya.
Dalam ayat ini, Allah memberitakan peringatan kepada kaum mukmin, jika datang kepada mereka seorang fasik membawa berita tentang apa saja, agar tidak tergesa-gesa menerima berita itu sebelum diperiksa dan diteliti dahulu kebenarannya. Sebelum diadakan penelitian yang seksama, jangan cepat percaya kepada berita dari orang fasik, karena seorang yang tidak mempedulikan kefasikannya, tentu juga tidak akan mempedulikan kedustaan berita yang disampaikannya. Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat berita yang tidak diteliti atau berita bohong itu. Pe-nyesalan yang akan timbul sebenarnya dapat dihindari jika bersikap le-bih hati-hati.
Ayat ini memberikan pedoman bagi sekalian kaum mukmin supaya berhati-hati dalam menerima berita, terutama jika bersumber dari seorang yang fasik. Maksud yang terkandung dalam ayat ini adalah agar diadakan penelitian dahulu mengenai kebenarannya. Mempercayai suatu berita tanpa diselidiki kebenarannya, besar kemungkinan akan membawa korban jiwa dan harta yang sia-sia, yang hanya menimbulkan penyesalan belaka.
1. Fatabayyanū فَتَبَيَّنُوْا (al-Ḥujurāt/49: 6)
Fatabayyanū artinya maka periksalah dengan teliti. Kata jadiannya (maṣdar) adalah tabayyun. Akar katanya adalah ba'-ya'-nun yang artinya berkisar pada jauhnya sesuatu dan terbuka. Dari sini muncul arti jelas. Ṭalāq bā'in adalah talak tiga yang sudah jelas, tidak bisa dirujuk kembali. Bayyinah adalah bukti karena bisa menjelaskan kepada yang sedang beperkara. Ayat ini menjelaskan bahwa jika ada kabar yang datang dari orang yang fasik hendaknya diteliti terlebih dahulu, sampai jelas apakah benar atau tidak. Pada bacaan lain yang juga mutawatir, kata ini dibaca fataṡabbatū terambil dari kata dasar ṡubūt artinya tetap. Sehingga artinya “maka carilah ketetapan.” Bacaan pertama dan kedua saling menguatkan, yaitu bahwa seseorang tidak begitu saja menerima kabar dari orang lain yang patut dicurigai seperti orang fasik, tetapi hendaklah selalu mencari kejelasan dan ketetapan atas kabar tersebut, terlebih lagi kabarnya berupa kabar yang penting. Semuanya bertujuan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
2. La‘anittum لَعَنِتُّمْ (al-Ḥujurāt/49: 7)
La‘anittum artinya benar-benar kamu akan mendapatkan kesusahan. Akar kata yang terdiri dari ‘ain-nun-ta' berkisar pada arti masyaqqah atau kesukaran, kesusahan dan yang seperti itu. Kata al-‘anat sebagaimana pada surah an-Nisā'/4: 25, yang artinya bahwa bolehnya nikah dengan perempuan hamba sahaya adalah jika dia khawatir terjerumus perbuatan ‘anat atau zina, karena zina akan membuat kesusahan di akhirat.

