Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 186 - Surat Āli ‘Imrān (Keluarga Imran)
اٰل عمرٰن
Ayat 186 / 200 •  Surat 3 / 114 •  Halaman 74 •  Quarter Hizb 8.25 •  Juz 4 •  Manzil 1 • Madaniyah

۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Latublawunna fī amwālikum wa anfusikum, wa latasma‘unna minal-lażīna ūtul-kitāba min qablikum wa minal-lażīna asyrakū ażan kaṡīrā(n), wa in taṣbirū wa tattaqū fa inna żālika min ‘azmil-umūr(i).

Kamu pasti akan diuji dalam (urusan) hartamu dan dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.

Makna Surat Ali ‘Imran Ayat 186
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu dengan berbagai cobaan, ujian, dan musibah seperti kekurangan harta, malapetaka, dan lain-lain. Karena itu Allah menguji siapa pun di antara mereka yang tetap sabar dan istikamah dalam menjalankan perintah Allah, dan mereka yang tidak menerima dengan hati lapang dan sabar. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik berupa ejekan, pendustaan, penghalangan dalam beragama, perlawanan, dan pengkhianatan. Jika kamu bersabar dan bertakwa dalam menghadapi tindakan-tindakan mereka dan tetap teguh melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. Hal itu karena orang-orang yang sabar, bertakwa, dan berbesar hati menerima setiap takdir yang berlaku akan meraih kemenangan yang gemilang atas tipu daya musuh.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw dan pengikutnya akan mendapat ujian sebagaimana mereka telah diuji dengan kesulitan di Perang Uhud. Mereka akan diuji lagi mengenai harta dan dirinya. “Sesungguhnya kamu akan diuji mengenai hartamu dan dirimu.” Kamu akan berkorban dengan hartamu menghadapi musuhmu untuk menjunjung tinggi derajat umatmu. Kamu akan meningkatkan perjuangan yang mengakibatkan hilangnya keluarga, teman-teman seperjuangan yang dicintai untuk membela yang hak. Kamu akan difitnah oleh orang yang diberi kitab dan orang yang mempersekutukan Allah. Kamu akan mendengar dari mereka hal-hal yang menyakitkan hati, mengganggu ketenteraman jiwa seperti fitnah zina yang dilancarkan oleh mereka terhadap Siti Aisyah. Ia tertinggal dari rombongan Nabi saw ketika kembali dari satu peperangan, di suatu tempat karena mencari kalungnya yang hilang, kemudian datang Ṡafwān bin Mu‘aṭṭal menjemputnya. Orang-orang munafik menuduh Aisyah berzina dengan Ṡafwān. Satu fitnah yang sangat memalukan, dan menggemparkan masyarakat Medinah pada waktu itu, peristiwa itu dikenal dengan hadīṡul ifki (kabar bohong).

Demikian hebat fitnah yang dilancarkan dan demikian banyak gangguan yang menyakitkan hati yang ditujukan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar menghadapinya dan menerimanya dengan penuh takwa, maka semuanya itu tidak akan mempunyai arti dan pengaruh sama sekali, dan sesungguhnya sabar dan takwa itu adalah urusan yang harus diutamakan.

Isi Kandungan Kosakata

Al-Maut اَلْمَوْت(Āli ‘Imrān/3:185)

Kata al-maut merupakan bentuk masdar dari kata kerja māta-yamūtu, yang artinya “terpisahnya roh dari jasad atau kematian”, “tidur lelap” (al-An‘ām/6:61), “hilangnya kekuatan akal atau bodoh” (an-Naml/27:80), “bahaya maut” (Ibrahīm/14:17), “tidak tumbuh kembang”. Dalam kaitan ayat ini al-maut berarti “kematian”, yaitu keadaan yang dialami setiap makhluk yang bernyawa. Kematian merupakan tahap akhir dari kehidupan manusia di dunia, dan sekaligus juga tahap awal untuk menuju kehidupan di akhirat. Pada ayat ini kata al-maut diawali dengan kata żā’iqah, yang artinya merasakan atau mencicipi, yaitu mencicipi kematian, dan ini dapat diartikan sebagai mukadimah sesuatu yang akan dirasakan setelah kematian. Ketika itu, semua manusia yang mati akan mendapat balasan baik atau buruk, sesuai dengan perbuatannya. Namun demikian, semua yang diterima setelah kematian belum merupakan balasan yang tuntas dari seluruh perbuatannya, sebab ketika itu apa yang terjadi hanya merupakan permulaan dari balasan yang sesungguhnya, yaitu yang terjadi di alam akhirat kelak. Sakit atau kenikmatan yang dialami saat kematian merupakan bagian kecil dari yang akan dialami di akhirat kelak. Bagi orang mukmin, kematian adalah suatu nikmat, karena sesaat sebelum datangnya kematian, malaikat akan menunjukkan tempatnya di surga.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto