هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ
Hāżā bayānul lin-nāsi wa hudaw wa mau‘iẓatul lil-muttaqīn(a).
Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, petunjuk, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Inilah pesan-pesan AL-Qu’ran, suatu keterangan yang jelas, yang menghilangkan keraguan untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk ke jalan yang benar serta pelajaran untuk diambil hikmah bagi orang-orang yang bertakwa.
Apa yang tersebut pada ayat 137 adalah peringatan bagi semua manusia dan petunjuk serta pelajaran orang-orang bertakwa. Ulama tafsir mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah memperingatkan kaum Muslimin bahwa kekalahan mereka dalam Perang Uhud adalah pelajaran bagi umat Islam, dan berlakunya ketentuan sunah Allah.
Mereka menang dalam Perang Badar, karena mereka menjalankan dan mematuhi perintah Nabi. Dalam Perang Uhud pun mereka hampir saja memperoleh kemenangan tetapi oleh karena mereka lalai dan tidak lagi mematuhi perintah Nabi, akhirnya mereka terkepung dan diserang dari belakang oleh tentara musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya, sehingga gugurlah puluhan syuhada dari kaum Muslimin, dan Nabi sendiri menderita luka dan pecah salah satu giginya.
Nudāwilu نُدَاوِلُ (Āli ‘Imrān/3: 140)
Secara etimologis, nudāwilu yang berakar dari kata dāwala, bermakna “berputar”, “beredar”, “mengedarkan”, atau “bergilir”. Pada surah al-Hasyr/59:7, terdapat kata dūlah yang artinya supaya harta itu tidak bergulir pada orang kaya saja. Ayat ini (140) menjelaskan bahwa kejayaan maupun kehancuran akan silih berganti mengenai umat manusia. Bila pada Perang Badar kaum musyrik mendapat kekalahan, maka pada Perang Uhud kaum Muslim mendapat musibah. Pergiliran yang disengaja oleh Allah swt ini dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada mereka yang beriman dan tidak beriman, bahwa hukum sebab akibat yang merupakan sunatullah terus berlaku.






































