وَمَا مَنَعَ النَّاسَ اَنْ يُّؤْمِنُوْٓا اِذْ جَاۤءَهُمُ الْهُدٰٓى اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَبَعَثَ اللّٰهُ بَشَرًا رَّسُوْلًا
Wa mā mana‘an-nāsa ay yu'minū iż jā'ahumul-hudā illā an qālū aba‘aṡallāhu basyarar rasūlā(n).
Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya, selain perkataan mereka, “Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?”
Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk, yakni wahyu Allah yang dibawa oleh para rasul datang kepadanya, baik pada zaman dahulu maupun sekarang, selain perkataan mereka, “Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” Mereka menolak siapa pun manusia sebagai utusan Allah, karena menurut pendapatnya yang pantas menjadi rasul Allah adalah para malaikat.
Ayat ini menerangkan bahwa tidak ada yang menghalangi orang-orang musyrik Mekah beriman kepada Nabi Muhammad ketika wahyu diturunkan Allah kepadanya disertai dengan bermacam-macam mukjizat, kecuali keinginan mereka bahwa jika Allah swt mengutus seorang rasul-Nya kepada manusia, maka rasul itu haruslah seorang malaikat, bukan seorang manusia biasa.
Orang-orang kafir Mekah khususnya dan orang-orang kafir pada umumnya heran mengapa wahyu itu diturunkan kepada seorang manusia biasa seperti Muhammad, bahkan seorang anak yatim. Kenapa tidak diturunkan kepada yang terpandai atau terkaya di antara mereka atau manusia yang mempunyai kekuatan gaib, malaikat, dan sebagainya. Sikap orang musyrik Mekah seperti itu sama dengan sikap orang-orang yang terdahulu terhadap para rasul yang diutus kepada mereka.
Firman Allah swt:
اَوَعَجِبْت ُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ٦٣ (الاعراف)
Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa, sehingga kamu mendapat rahmat? (al-A‘rāf/7: 63)
‘Iẓāman wa Rufātan عِظَامًا وَ رُفَاتًا (al-Isrā’/17: 98)
‘Iẓāman wa rufātan adalah dua lafal dalam bentuk jamak, bentuk mufradnya adalah عظم artinya tulang, dan ﺮﻓﺖ artinya pecahan atau remukan. Dalam ayat 98 Surah al-Isrā’ ini digambarkan keheranan atau ketidakpercayaan orang-orang kafir, apa mungkin –ucap mereka- manusia yang telah lama mati dan telah menjadi tulang belulang dan bahkan sudah hancur berkeping-keping akan dapat dibangkitkan lagi menjadi manusia yang utuh? Akal dan pikiran mereka tidak sampai untuk menerima hal tersebut, dan mereka tidak percaya hal itu dapat terjadi. Pada dasarnya orang kafir memang tidak percaya adanya hari kebangkitan atau hari kiamat, dan mereka tidak percaya pada Allah yang Maha Esa dan Mahakuasa, serta tidak percaya pada Al-Qur’an dan rukun iman yang lain. Padahal jangankan mengumpulkan tulang belulang yang berserakan dan menjadikannya manusia yang utuh, menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada seperti sekarang ini juga Allah sangat mampu, seperti yang kita saksikan sekarang ini. Bukankah membuat untuk kedua kalinya dari bahan-bahan yang sebagian sudah ada lebih mudah daripada menciptakan yang baru dari tanpa bahan dan tanpa contoh sama sekali? Dengan pemikiran yang sedikit tenang saja hal ini tentu dapat dimengerti dan dipahami.














































