Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 111 - Surat Al-Isrā' (Memperjalankan di Malam Hari)
الاسراۤء
Ayat 111 / 111 •  Surat 17 / 114 •  Halaman 293 •  Quarter Hizb 30 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا ࣖ

Wa qulil-ḥamdu lillāhil-lażī lam yattakhiż waladaw wa lam yakul lahū syarīkun fil-mulki wa lam yakul lahū waliyyum minaż-żulli wa kabbirhu takbīrā(n).

Katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya!”

Makna Surat Al-Isra' Ayat 111
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan katakanlah wahai Nabi Muhammad, “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, sebagaimana dikatakan orang-orang Yahudi bahwa malaikat adalah anak-anak Allah, dan demikian pula dipercaya oleh orang-orang Nasrani bahwa Nabi Isa adalah anak Allah, dan tidak pula mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, sebagaimana dipercaya oleh kaum musyrik yang percaya kepada tuhan-tuhan selain Allah, dan dengan demikian, Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan yang dilontarkan oleh siapa pun yang menghina-Nya. Hanya Dia saja yang Mahaagung dan oleh karena itu agungkanlah Dia seagung-agungnya. []

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Nabi diajari cara memuji Allah swt yang memiliki sifat-sifat kemahaesaan, kesempurnaan, dan keagungan. Oleh karena itu, hanya Allah yang berhak menerima segala macam pujian-pujian dan rasa syukur dari hamba dan makhluk-Nya atas segala nikmat yang diberikan kepada mereka.

Ayat ini menjelaskan tiga sifat bagi Allah swt:

Pertama: Bahwa sesungguhnya Allah tidak memiliki anak, karena siapa yang memiliki anak tentu tidak menikmati segala nikmat yang dia miliki, tetapi sebagian nikmat itu dipersiapkan untuk anaknya yang ditinggalkannya bilamana dia sudah meninggal dunia. Mahasuci Allah swt dari sifat demikian. Orang yang punya anak terhalang untuk menikmati seluruh haknya dalam segala keadaan. Oleh sebab itu, manusia tidak patut menerima pujian dari segala makhluk. Dengan ayat ini, Allah swt menjelaskan dan membantah pandangan orang Yahudi yang mengatakan ‘Uzair putra Tuhan, juga pendapat orang Nasrani yang mengatakan bahwa Al-Masih putra Tuhan, atau anggapan orang-orang musyrikin bahwa malaikat-malaikat adalah putri-putri Tuhan.

Kedua: Bahwa sesungguhnya Allah swt tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya. Jika sekutu-Nya ada, tentu sulit untuk menentukan mana di antara keduanya yang berhak menerima pujian, rasa syukur, dan pengabdian para makhluk. Salah satu di antara dua tuhan tadi tentu memerlukan pertolongan dari yang lainnya dan akhirnya tidak ada satupun tuhan yang berdiri sendiri dan berdaulat secara mutlak di atas alam ini.

Ketiga: Bahwa sesungguhnya tak seorang pun di antara orang-orang yang hina diberi Allah kekuasaan yang akan melindunginya dari musuh yang mengancamnya.

Demikianlah Allah swt suci dari segala sifat-sifat yang mengurangi kesempurnaan-Nya, agar para hamba-Nya tidak ragu memanjatkan doa, syukur, dan pujian kepada-Nya. Kemudian Nabi saw diperintahkan untuk mengagungkan-Nya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Mengagungkan dan mensucikan Allah itu adalah sebagai berikut:

Pertama: Mengagungkan Allah swt pada Zat-Nya dengan meyakini bahwa Allah itu wajib ada-Nya karena Zat-Nya sendiri tidak membutuhkan sesuatu yang lain. Dia tidak memerlukan sesuatu dari wujud ini.

Kedua: Mengagungkan Allah swt pada sifat-Nya, dengan meyakini bahwa hanya Dialah yang memiliki segala sifat-sifat kesempurnaan dan jauh dari sifat-sifat kekurangan.

Ketiga: Mengagungkan Allah swt pada af’āl-Nya (perbuatan-Nya) dengan meyakini bahwa tidak ada suatu pun yang terjadi dalam alam ini, melainkan sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

Keempat: Mengagungkan Allah swt pada hukum-hukum-Nya, dengan meyakini bahwa hanya Dialah yang menjadi Penguasa yang ditaati di alam semesta ini, dimana perintah dan larangan bersumber darinya. Tidak ada seorang pun yang dapat membatasi dan membatalkan segala ketentuan-Nya atas sesuatu. Dialah yang memuliakan dan Dia pula yang menghinakan orang-orang yang Dia kehendaki.

Kelima: Mengagungkan nama-nama-Nya, yaitu menyeru dan menyebut Allah dengan nama-nama yang baik (al-asmā’ul ḥusnā). Tidak menyifati Tuhan melainkan dengan sifat-sifat kesucian dan kesempurnaan.

Isi Kandungan Kosakata

Mukṡ مُكْثٍ (al-Isrā’/17: 106)

Mukṡ artinya tenang, tidak tergesa-gesa, perlahan-lahan, tinggal atau menetap. Fi’il makaṡa-yamkuṡu-mukṡan wa mukūṡan artinya tinggal atau mendiami. Dalam ayat 106 Surah al-Isrā’ ini disebutkan dengan ungkapan: ﻟﺘﻘراه على الناس على ﻣﻜﺚ artinya: supaya kamu membacakannya kepada manusia dengan tenang atau dengan perlahan-lahan. Hal ini berkaitan dengan cara diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur supaya Nabi mudah memahami dan menghafalnya, serta menyampai-kan dan membacakannya kepada manusia dengan tenang dan perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kekurangjelasan bacaan dan makna ayat. Hal ini sangat penting karena wahyu dari Allah swt tidak boleh salah dalam membaca dan memahaminya, serta untuk dihafal dengan baik dan tepat. Apalagi waktu ayat-ayat Al-Qur’an ini diturunkan yaitu sekitar tahun 610-633 M atau awal abad ke-7 M alat tulis menulis dan rekaman belum lengkap seperti sekarang. Nabi telah melaksanakan tugas-tugas kenabiannya termasuk menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat dengan baik dan benar sesuai petunjuk Allah swt, sehingga para sahabat menerima dengan baik dan tepat, tidak terjadi kesalahan satu huruf pun, semua sesuai dengan yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto