وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا
Wa kaifa taṣbiru ‘alā mā lam tuḥiṭ bihī khubrā(n).
Bagaimana engkau akan sanggup bersabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentangnya?”
Nabi Khidr bertanya kepada Nabi Musa, dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu yang aku lakukan ketika engkau menyaksikannya, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu, yakni engkau tidak mengetahui hakikat tentang perbuatan yang saya lakukan itu.”
Dalam ayat ini, Khidir menegaskan kepada Nabi Musa tentang sebab beliau tidak akan sabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Di sana Nabi Musa akan melihat kenyataan bahwa pekerjaan Khidir secara lahiriah bertentangan dengan syariat Nabi Musa a.s. Oleh karena itu, Khidir berkata kepada Nabi Musa, “Bagaimana kamu dapat bersabar terhadap perbuatan-perbuatan yang lahirnya menyalahi syariatmu, padahal kamu seorang nabi. Atau mungkin juga kamu akan mendapati pekerjaan-pekerjaanku yang secara lahiriah bersifat mungkar, sedang pada hakikatnya kamu tidak mengetahui maksud atau kemaslahatannya.
Sebenarny a memang demikian sifat orang yang tidak bersabar terhadap perbuatan mungkar yang dilihatnya. Bahkan segera ia mengingkarinya.
Majma’ al-Baḥrain مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ (al-Kahf/18: 60)
Sebagai kosakata, Mu’jam Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm mengartikan, majma’ ialah “tempat pertemuan,” dan baḥrain berarti “dua lautan,” jadi “pertemuan dua lautan.” Tetapi kalangan mufasir memberi penafsiran lebih jauh yang agak berbeda. Tafsir al-Baiḍawī mengatakan bahwa majma’ al-baḥrain ialah pertemuan dua lautan, Laut Persia dan Laut Tengah (Mediterania) sebelah timur. Dikatakan juga, artinya dua lautan ilmu, Musa dalam arti ilmu lahir dan Khidir ilmu batin. Al-Bagawī mengutip Qatadah mengatakan Laut Persia dan Laut Tengah sebelah timur, Muḥammad bin Ka’ab mengatakan, Tangier di Afrika Utara, sedang Ubai bin Ka’ab hanya mengatakan letaknya di Afrika. Abdullah Yusuf Ali berpendapat, pertemuan dua teluk di Laut Merah, yakni Teluk ‘Aqabah dan Teluk Suez, yang melingkari Semenanjung Sinai. Ada pula pendapat, bahwa majma’ al-baḥrain ialah “pertemuan dua Sungai Nil,” Nil Putih dan Nil Biru di Sudan. Wallāhu a’lam.








































