Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 47 - Surat Al-Kahf (Gua)
الكهف
Ayat 47 / 110 •  Surat 18 / 114 •  Halaman 299 •  Quarter Hizb 30.5 •  Juz 15 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْاَرْضَ بَارِزَةًۙ وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًاۚ

Wa yauma nusayyirul-jibāla wa taral-arḍa bārizah(tan), wa ḥasyarnāhum falam nugādir minhum aḥadā(n).

(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung (untuk dihancurkan) dan engkau melihat bumi itu rata. Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia) dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.

Makna Surat Al-Kahf Ayat 47
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan ingatlah pada hari yang ketika itu Kami perjalankan gunung-gunung, yakni Kami hancurkan sehingga ia menjadi bagai kapas yang beterbangan, dan engkau akan melihat bumi itu rata karena tidak ada lagi gunung, tanaman ataupun bangunan, dan Kami kumpulkan mereka di Padang Mahsyar, tempat berkumpulnya seluruh manusia baik yang hidup dahulu maupun kemudian, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka di dalam kuburnya, yakni di alam barzakh.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan berbagai peristiwa yang terjadi pada hari kiamat. Peristiwa-peristiwa itu antara lain:

Pada hari itu, Allah swt mencabut gunung-gunung dari cengkeraman bumi, sehingga hancur menjadi debu lalu diterbangkan ke udara sebagai-mana Allah menerbangkan awan. Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ ٤ وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ ٥ فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ ٦

Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan. (al-Wāqi’ah/56: 4-6)

Keadaan permukaan bumi ketika itu tampak polos. Tidak ada lagi sisa-sisa benda peradaban manusia, pohon-pohon kayu, sungai-sungai, dan laut yang selama ini terdapat di permukaan bumi. Semua manusia tampak jelas di hadapan Tuhan, tidak ada satu pun yang menutupi keadaan mereka seperti diterangkan Allah dalam firman-Nya:

وَيَسْـ َلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا ۙ ١٠٥ فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا ۙ ١٠٦ لَّا تَرٰى فِيْهَا عِوَجًا وَّلَآ اَمْتًا ۗ ١٠٧

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali, (Sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.” (Ṭāhā/20: 105-107)

Pada hari itu, Allah swt mengumpulkan umat manusia dari zaman awal sampai akhir, sesudah dibangkitkan dari kuburnya masing-masing. Tidak seorang pun pada hari itu yang ketinggalan untuk diperiksa, baik raja maupun rakyat. Keadaan demikian diterangkan Allah swt dalam firman-Nya:

قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْن َۙ ٤٩ لَمَجْمُوْعُوْ نَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ ٥٠

Katakanlah, “(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi. (al-Wāqi’ah/56: 49-50)

Firman Allah swt:

ذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ

… Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk). (Hūd/11: 103)

Rasulullah saw menceritakan pula keadaan hari yang dahsyat itu sebagai berikut:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا فَقُلْتُ: اَلرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: اَلْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَهُمَّهُمْ ذٰلِكَ. (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra bahwa dia berkata, “Aku dengar Rasulullah saw bersabda, “Pada hari kiamat itu manusia dikumpulkan (di Padang Mahsyar) berkaki telanjang, bertelanjang bulat, lagi tidak berkhitan.” Aku lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah antara laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?” Rasul saw menjawab, “Ya ‘Aisyah, urusan hari kiamat itu lebih dahsyat dari melihat satu sama lain.” (Riwayat Muslim dalam sahihnya)

Isi Kandungan Kosakata

Al-Mujrimīn الْمُجْرِمِيْن َ (al-Kahf/18: 49)

Mujrimīn adalah bentuk jamak dari lafaz mujrim berasal dari kata jarama yang berarti memotong buah dari pohonnya. Kemudian makna ini menjadi istilah untuk suatu tindakan/perbuatan atau upaya yang dibenci. Bentuk maṣdar-nya adalah jarimah. Jārim adalah orang yang telah melakukan dosa dan kesalahan (tindak pidana). Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang durhaka dan membuat kesalahan kepada Allah akan merasa ketakutan setelah melihat dengan jelas catatan-catatan yang tertulis dalam kitab yang tidak sedikit pun meninggalkan hal-hal yang kecil dan tidak pula yang besar. Mereka akan mendapati apa yang telah mereka kerjakan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto