وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنْ ذِى الْقَرْنَيْنِۗ قُلْ سَاَتْلُوْا عَلَيْكُمْ مِّنْهُ ذِكْرًا ۗ
Wa yas'alūnaka ‘an żil qarnain(i), qul sa'atlū ‘alaikum minhu żikrā(n).
Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Zulqarnain. Katakanlah, “Akan aku bacakan kepadamu sebagian kisahnya.”
Usai menjelaskan kisah perjalanan Nabi Musa dalam rangka mencari ilmu kepada seorang hamba yang saleh, pada ayat-ayat berikut Allah menceritakan kisah perjalanan jihad Zulkarnain.1 Cerita itu dikisahkan untuk menjawab pertanyaan kaum kafir Mekah kepada Nabi Muhammad. Wahai Nabi Muhammad, mereka bertanya kepadamu tentang jati diri Zulkarnain. Katakanlah kepada mereka, “Dengan izin Allah, akan kubacakan kepadamu kisahnya agar kamu dapat memperoleh pelajaran darinya”
Orang-orang Quraisy bertanya kepada Muhammad setelah mereka mengadakan pembicaraan lebih dahulu dengan orang-orang Yahudi tentang apa yang harus mereka tanyakan kepada Muhammad untuk menguji kebenaran kenabiannya. Mereka bertanya kepada Muhammad tentang Zulkarnain, maka Allah menyuruh Muhammad menyatakan kepada mereka itu, “Akan kubacakan padamu cerita-cerita yang lengkap tentang apa yang kamu tanyakan itu karena aku telah diberi keterangan oleh Tuhanku.” Kemudian beliau memberikan perinciannya sebagaimana dijelaskan ayat berikut:
1. Żul-Qurnain ذُوالْقَرْنَيْ نِ (al-Kahf/18: 83)
Di antara para mufasir ada yang bertanya-tanya? Zulkarnain itu nabi atau raja? Tentang kenabiannya terdapat banyak perbedaan pendapat. Alasan
yang mengatakan bahwa dia seorang nabi, ialah karena Allah berbicara langsung kepadanya (al-Kahf/18: 86, 94), tetapi mereka sepakat bahwa dia orang beriman dengan tauhid yang kuat dan cenderung pada kebaikan (al-Kahf/18: 88). Tentang siapa Zulkarnain, sudah umum orang menyamakannya dengan Iskandar Agung. Mulanya ada pertanyaan dari orang Yahudi atau kaum musyrik Mekah untuk menguji Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam. Alasan-alasan sejarah atau geografi tidak banyak hubungannya dengan kisah dalam Al-Qur’an yang tidak sedikit sajiannya diutamakan sebagai tamsil, karena arti rohaninya. Perdebatan-perdebatan pendapat, seperti mengenai waktu yang persis, pribadi, lokasi dan mengapa namanya “Zulkarnain,” rasanya tak perlu terlalu diperdebatkan. Dari sekian banyak arti, sebagai metafora, “orang punya dua tanduk” itu melambangkan kekuatan dan kekuasaan. Iskandar Zulkarnain, Raja Barat dan Timur, dan menguasai wilayah Persia yang membentang luas meliputi semua kawasan Asia Barat, Mesir, Asia Tengah, Afganistan dan Punjab (sebagian). Pada mata uangnya ia dilambangkan dengan dua tanduk di kepala; dia adalah penyebab revolusi sejarah Eropa, Asia dan Afrika (Mesir), dan pengaruhnya berlangsung lama sampai beberapa generasi setelah kematiannya dalam usia muda 33 tahun. Dia hidup dari 356 Pra Masehi sampai 323, tetapi namanya menjadi kenangan orang beberapa abad setelah itu. Pada tahun 529 sekolah filsafat itu oleh Justinianus ditutup. Tersebarnya pengaruh ajaran-ajaran filsafat dan ilmu pengetahuannya sangat luas.
Kebanyakan dunia Islam sekarang menerima Iskandar Agung itulah yang dimaksud dengan gelar Zulkarnain. Tetapi ada beberapa ulama yang masih menyangsikan hal itu dan mengemukakan beberapa gagasan lain. Di antaranya bahwa ia bukanlah Iskandar Agung orang Masedonia (Macedonia) itu, melainkan ada seorang raja prasejarah yang lebih awal, sezaman dengan Nabi Ibrahim; sebab, kata mereka, Zulkarnain adalah orang beriman (al-Kahf/18: 88, 98), sementara Iskandar Agung seorang pagan penyembah berhala yang percaya pada dewa-dewa Yunani. Membuat indentifikasi dengan orang yang dikira raja prasejarah itu, yang tak ada sesuatunya yang dapat diketahui, samasekali bukanlah suatu identifikasi. Sebaliknya, segala yang sudah diketahui tentang Iskandar Agung menunjukkan, bahwa dia adalah orang yang bercita-cita luhur. Dia meninggal tiga abad sebelum zaman Nabi Isa, dan tidak berarti dia orang tidak beriman, sebab Tuhan dapat menyatakan Diri kepada setiap orang dari semua bangsa sepanjang zaman. Iskandar adalah salah seorang murid filsuf Aristoteles, terkenal karena cintanya pada kebenaran dalam segala bidang pemikiran. Pandangan ini sejalan dengan pandangan al-Qasimi dalam tafsirnya Mahasin at-Ta’wil yang menanggapi masalah Zulkarnain dan Ya’juj dan Ya’juj ini sampai 14 halaman (4103-4117). Sebaliknya Muhammad Asad (The Message of the Al-Qur’an) berpendapat, bahwa Zulkarnain tak ada hubungannya dengan sejarah, tetapi itu adalah sebuah kiasan, alegori tentang keimanan yang dalam, dan tak perlu ada konflik antara kehidupan dunia dengan kehidupan rohani.
Kesan lain yang dikemukakan orang ialah, bahwa Zulkarnain adalah seorang raja Persia purbakala. Dalam Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama ada seorang raja Persia yang disebut sebagai seekor domba jantan dengan dua tanduk. Tetapi dalam Kitab Daniel itu juga domba jantan dengan dua tanduk itu ditanduk dan dihempaskan ke tanah lalu diinjak-injak oleh seekor kambing jantan bertanduk satu (8:7 8). Dalam kepustakaan kita tak ada gambaran yang memberi kesan bahwa nasib Zulkarnain berakhir begitu konyol. Juga Kitab Daniel bukan otoritas yang layak untuk dipertimbangkan.
Seperti al-Qasimi dan sebagian besar mufasir, begitu juga pendapat Yusuf Ali, sedikit pun tidak ragu “bahwa Zulkarnain itu adalah Iskandar Agung. Yusuf Ali, yang pernah memberi kuliah tentang sejarah Yunani dan mengadakan studi mendalam dan terinci mengenai kepribadian Iskandar yang luar biasa ini dari para sejarawan Yunani, juga dari penulis-penulis modern, dan sementara itu ia juga mengadakan perjalanan ke sebagian besar tempat yang ada hubungannya dengan karir Zulkarnain yang singkat tetapi cemerlang itu. Ada beberapa pengamat kepustakaan Al-Qur’an telah mendapat kehormatan yang sama dalam mempelajari seluk beluk karirnya itu. Inilah salah satu keajaiban Al-Qur’an, yang diucapkan melalui mulut seorang ummi, yang mengandung begitu banyak rincian kejadian penting yang ternyata mutlak benar. Makin bertambah pengetahuan kita, akan ber-tambah pula hal ini kita rasakan.
Perjalanan Iskandar ke arah barat (18: 86) dan melihat matahari terbenam di air yang berlumpur, dapat diartikan sebagai “mata air”. Banyak mufasir mengartikan “mata air” ini laut, dan air berlumpur bagian airnya yang biru gelap. Tak ada bukti sejarah yang menyebutkan bahwa Iskandar pernah sampai ke Atlantik. Buat dia air biru gelap di Laut Tengah (Mediterania) itu sudah biasa. Penjelajahan Iskandar yang pertama ialah tatkala dia masih anak-anak, dalam pemerintahan ayahnya Philip. Peme-rintahan Illyricum terletak persis di sebelah barat Masedonia, dan ekspansi Masedonia yang pertama memang ke jurusan itu. Kota Lychnis dianeksasi ke Masedonia dan dengan demikian daerah perbatasan bagian barat Masedonia aman. Daerah perbatasan utara ke arah Danube memang sudah aman, dan pengalaman berikutnya yang diberikannya ke Thebes dapat memberi keamanan dari serangan negera-negara Yunani ke selatan, dan mempersiapkan langkah untuk perjalanannya ke timur guna menghadapi Kerajaan Persia. Ke sebelah barat kota Lychnis ada sebuah danau seluas 170 mil (235 km) persegi, pengairannya dari mata air di bawah tanah, yang meresap ke batu-batu kapur dan keluar menjadi air berlumpur. Kota dan danau itu sekarang disebut Ochrida, sekitar 50 mil (80 km) perjalanan dari Monastir. Air itu begitu gelap warnanya sehingga sungai yang menjadi saluran ke luar danau itu ke utara disebut Drin Hitam (Black Drin). Dilihat dari kota tatkala matahari terbenam, matahari tampak terbenam ke dalam kolam air berlumpur itu (18: 86). Timbul pertanyaan pada Iskandar kecil—yang penuh mimpi, impulsif dan penunggang kuda yang tak kenal takut itu—akan dilayani dengan pedangkah orang-orang Illyricum itu atau akan dihadapi dengan kasih sayang? Ia terlihat benar-benar seorang negarawan yang tak pandang bulu. Dengan demikian ia memperkuat kekuasaannya di barat.
Ada segi lain yang dapat dicatat. Tiga episode tersebut ialah perjalanan ke barat, perjalanan ke timur dan perjalanan ke Gerbang Besi. Perjalanan ke barat baru saja kita lihat. Perjalanan ke timur ialah ke Kerajaan Persia. Di tempat ini ia melihat orang-orang yang tinggal di luar rumah dan sedikit saja mengenakan pakaian. Yang demikian ini biasa terjadi buat orang orang yang tinggal di pedalaman di garis lintang Persepolis atau Multan. Dia tinggalkan mereka (18: 90-92). Dia tidak bermaksud memerangi penduduk; yang akan diperanginya ialah Kerajaan Persia yang sombong tapi rapuh itu. Di-biarkannya mereka dengan kebiasaan mereka sendiri dan di bawah pe-mimpin mereka. Ia memperlakukan mereka sebagai warga sendiri, tidak seperti orang asing. Dalam beberapa hal dia sendiri malah mengikuti cara-cara hidup mereka. Pengikut-pengikutnya tak dapat memahaminya. Tetapi Tuhan mengetahui, sebab Dia akan meridai segala sesuatu yang akan mem-bawa manusia kepada tauhid.
Arah tujuan perjalanan ketiga tidak disebutkan. Para mufasir menye-butkan ke utara, tetapi alasan yang lebih baik mungkin mereka akan menya-rankan ke selatan, sebab Iskandar pernah mengunjungi Mesir. Tetapi kun-jungan ke Gerbang Besi ialah di Timur—dalam meneruskan perjalanannya ke timur. Kenapa arah tujuan itu tidak disebutkan lagi. Di sini misinya berbeda. Dia akan memberi perlindungan keamanan kepada penduduk pengrajin itu, yang barangkali tidak berhasil dilakukan oleh Kerajaan Persia dalam melawan pengacau-pengacau yang hendak menyerang mereka. Ia membantu mereka dalam melindungi diri, tapi juga mengingatkan bahwa segala upaya manusia meskipun baik dan perlu, tanpa ada pertolongan Allah akan sia-sia.
Setiap episode yang disebutkan itu dasarnya sejarah. Tetapi segala penaklukan militer yang serba megah dan gemilang tidak disebutkan. Sebaliknya, yang diperlihatkan dan dianjurkan ialah nilai-nilai rohani. Untuk memahami semua itu tidak perlu kita mengetahui atau mempelajari sejarah atau geografi, ilmu pengetahuan atau psikologi ataupun etika. Tetapi lebih nyata pengetahuan yang ada pada kita, akan lebih sempurna kita memahami nilai-nilai itu dan dapat mengambilnya sebagai pelajaran. Perjalanan yang bersifat duniawi ini dipakai hanya sebagai simbol untuk memperlihatkan kepada kita adanya suatu evolusi jiwa yang besar dan mulia yang telah begitu banyak diselesaikan dalam suatu perjalanan hidup duniawi yang pendek itu.
Karena karirnya begitu luar biasa sehingga zamannya itu memberi kesan sebagai suatu peristiwa dunia. Yang sudah tak dapat diragukan lagi, bahwa hal itu memang merupakan suatu peristiwa dunia yang paling besar dalam sejarah. Dongeng-dongeng pun kemudian bermunculan di sekitar namanya. Dalam beberapa hal dongeng-dongeng itu malah telah melapisi sejarah. Dewasa ini dunia sedang digetarkan oleh identifikasi Sir Aurel Stein mengenai Aornos, sebuah titik geografi yang sangat kecil dalam suatu karir besar penuh dengan pelajaran, dalam kebijaksanaan politik, etika dan agama. Tetapi beberapa generasi yang langsung sesudah masa Iskandar, mereka menulis dan menyebarkan berbagai macam dongeng ajaib, yang kemudian beredar di Timur dan di Barat. Filsuf Kallisthenes pernah bersama dengan Iskandar di Asia. Pada suatu waktu sebelum abad kedua Masehi sebuah buku di bawah namanya diterbitkan di Iskandariah. Dalam abad ketiga buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan-terjemahan berikutnya kemudian dilakukan ke dalam kebanyakan bahasa Eropa.
Selama beberapa abad lamanya kota Iskandariah di Mesir menjadi pusat perhatian kaum Kristen dan Yahudi. Kalangan Kristen juga menempatkan Iskandar sebagai orang suci. Orang-orang Yahudi membawa legenda tentang Iskandar ini ke Timur. Penyair Persia Jami (535 599 H./1141 1203 M.) mengolah cerita itu dalam epiknya Iskandar nama. Ia sangat berhati-hati sekali memperlihatkan secara terpisah bagian-bagian sejarah atau semi-sejarah dan etika. Yang seorang memberikan perhatiannya pada tindakan dan kepahlawanannya (Iqbal) dan yang lain pada kebijaksanaannya (Khirad). Ia memanfaatkan kisah Al-Qur’an itu dengan sebaik-baiknya. Kisah itu menyebutkan tiga episode sejarah secara kebetulan, tetapi masalah yang mendasar meminta perhatian kita ialah pada pentingnya kehidupan rohani, dan itulah pokok masalah yang perlu dicatat dalam kisah ini.”
2. Yakjūj dan Makjūj يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ (al-Kahf/18: 94)
Dalam tafsir-tafsir Al-Qur’an pembahasan soal Ya’juj dan Ya’juj selalu disatukan dengan Zulkarnain, dan disebutkan bersama-sama.
Al-Qasimi mengutip Ibn Hazm mengatakan, bahwa kitab-kitab Yahudi sudah menyebutkan tentang Ya’juj dan Ya’juj ini. Mereka percaya tentang kisah ini—begitu juga orang-orang Nasrani. Aristoteles juga sudah menyinggung soal Ya’juj dan Ya’juj dan dinding penyekat itu, begitu juga Ptolemaeus, yang menjelaskan sampai ke soal lebar dan panjang daerah itu. Khalifah al-Wasiq pernah mengirim ekspedisi untuk mencari daerah tersebut dan berhasil menemukannya, dan ada beberapa penulis lagi yang menerangkan soal serupa. Tetapi semua itu sekarang sudah tidak berbekas lagi, karena peristiwa-peristiwa alam, seperti akibat meletusnya gunung berapi dan sebagainya.
Mengenai hal ini, Yusuf Ali menguraikan bukti sejarah dan geografis yang kuat sekali. Pembahasannya mengenai persoalan Ya’juj dan Ya’juj ini serta penyekat besi yang didirikan untuk membendung mereka, cukup menarik. Nama Ya’juj dan Ya’juj untuk melambangkan suku-suku liar yang tak kenal hukum, yang telah merusak dinding-dinding penyekat dan mereka meluncur turun ke tanah datar. Ini merupakan salah satu tanda dekatnya hari kiamat (seperti disebutkan Kitab Wahyu 20).
Pada dasarnya memang sudah disepakati bahwa mereka adalah suku-suku buas di Asia Tengah yang menyerang kerajaan-kerajaan yang sudah teratur di berbagai tempat dalam sejarah dunia. Kerajaan Cina sudah pernah mengeluh karena serangan mereka sehingga ia mendirikan Tembok Cina untuk membendung orang-orang Manchu dan Mongol. Dalam waktu-waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu Kerajaan Persia juga mengalami hal yang sama. Serangan mereka ke Eropa dalam beberapa gerombolan besar telah menyebabkan penduduknya berpindah-pindah tempat dalam skala besar, dan akhirnya mereka menyerbu Kerajaan Rumawi. Samar-samar oleh Yunani dan Rumawi suku-suku itu dikenal sebagai orang-orang “Scynthia,” tetapi istilah ini tidak banyak membantu kita, baik dari segi etnik atau geografi.
Kalau kita dapat menentukan letak penyekat besi atau gerbang-gerbang besi itu seperti disebutkan dalam 18: 96, kita harus mempunyai gambaran yang lebih dekat tentang suku-suku itu, yang justru untuk membendung mereka, penyekat itu dibuat. Sudah jelas bahwa Tembok Cina itu tidak mungkin, yang mulai didirikan dari abad ketiga Pra Masehi dan berlanjut sampai beberapa waktu kemudian, sepanjang 1.500 mil (2413 km), mendaki bukit-bukit dan menuruni lembah-lembah, dengan menara-menara setinggi 40 kaki (122 m) dalam jarak setiap 200 yard (102 m). Ketinggiannya rata-rata 20 sampai 30 kaki (76 m), dibuat dari batu dan tanah. Tak ada bagian tertentu yang dapat disamakan dengan penyekat besi yang disebutkan dalam ayat itu. Tak ada penegasan yang menyebutkan bahwa Zulkarnain seorang Kaisar Cina, dan tak ada pula dari penakluk-penakluk besar dari Asia Barat yang merasa telah mendirikan Tembok itu.
Penyekat yang disebutkan dalam ayat itu memang harus lebih bersifat gerbang-gerbang besi daripada tembok besi. Kedua Gerbang Besi itu, yang secara geografis terpisah jauh, disarankan sebagai alternatif. Kadang ini dicampuradukkan oleh penulis-penulis yang tidak kuat penguasaan geografinya. Karena pengaruh setempat, keduanya lalu dihubungkan dengan nama Iskandar Agung, dan memang terletak di dekat kota Derbend, yang lalu melahirkan nama Bāb al-Ḥadīd (bahasa Arab, “Gerbang Besi”).
Yang sudah terkenal pada masa sekarang ialah di kota dan pesisir laut Derbend di tengah-tengah pantai barat Laut Kaspia, di distrik Daghistan. Sebelum ada ekspansi Rusia tahun 1813 tempat itu masuk ke dalam wilayah Persia. Sebarisan Gunung Kaukasus di sini yang memanjang ke utara sampai ke dekat laut. Tembok yang kita bicarakan ini panjangnya 50 mil (80 km), dengan ketinggian rata-rata 29 kaki. (ā 9 m). Karena Azarbaijan tidak jauh dari tempat ini, beberapa penulis ada yang mengacaukan Gerbang Besi kota Derbend dengan Azarbaijan dan sebagian dengan kota Kharz (Kars) di Kaukasus yang terletak di sebelah selatan Kaukasus. Di tempat ini dan di daerah Astrakhan di muara sungai Volga di laut Kaspia, ada beberapa tradisi setempat yang menghubungkan Gerbang Besi Kaukasus ini dengan nama Iskandar. Ada beberapa alasan yang kuat kenapa ini kita tolak sebagai situs Gerbang Besi menurut kisah dalam Al-Qur’an. (1) Tidak sesuai dengan pemerian dalam 18: 96 (“ruang antara kedua tepi gunung yang curam”); celah antara gunung dengan laut. (2) Iskandar Agung (anggaplah Zulkarnain itu Iskandar) diketahui tak pernah menyeberangi Kaukasus. (3) Ada sebuah gerbang besi yang sesuai benar dengan pemerian di atas, di suatu tempat yang pernah dikunjungi oleh Iskandar. (4) Pada saat-saat permulaan tatkala kaum Muslimin menyebar luas ke segenap penjuru dunia, ada legenda setempat, berasal dari orang-orang yang tak punya pengetahuan, menghu-bungkan tempat-tempat yang mereka ketahui itu dengan tempat-tempat yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
Gerbang Besi itu sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur’an, dan ini akan merupakan keterangan terbaik jika dihubungkan dengan kisah Iskandar. Gerbang ini terletak di Derbend yang lain yang juga di Asia Tengah, yaitu di distrik Hissar, sekitar 150 mil (241 km) di tenggara Bukhara. Di jalan raya antara Turkistan dengan India, terdapat sebuah celah gunung yang sempit sekali, dengan batu-batu karang yang berjuntai: terletak 38o lintang utara dan 67o bujur timur. Tempat ini dulu dikenal sebagai Gerbang Besi (dalam bahasa Arab Bab al-Hadid, bahasa Persia Dar i ahani; bahasa Cina T’ie men kuan). Di tempat itu sekarang tak ada gerbang besi; tetapi dalam abad ketujuh pengembara Cina Hiouen Tsiang dalam perjalanannya ke India pernah melihatnya. Dia melihat dua buah pintu gerbang lipat dibingkai dengan besi dan ada bel-bel yang digantungkan. Di dekatnya ada sebuah danau dengan nama Iskandar Kul, dan letaknya itu ada hubungannya dengan Iskandar Agung. Dari sejarah kita ketahui bahwa setelah menaklukkan Persia dan sebelum meneruskan perjalanannya ke India, Iskandar mengunjungi Sogdiana (Bukhara) dan Maracanda (Samarqand). Dari Muqaddasi, seorang pengembara Arab dan ahli geografi yang menulis sekitar tahun 375 Hijri (985-6 Masehi) itu kita juga tahu, bahwa Khalifah Bani Abbas, al-Wasiq (842-846 Masehi) mengirim sebuah misi ke Asia Tengah untuk membuat laporan tentang Gerbang Besi ini. Mereka melihat sebuah celah gunung seluas 150 yard (137 m), di kedua tiang kusennya yang terbuat dari balok-balok besi yang dipaterikan bersama-sama dengan cairan tembaga, digantungkan dua buah pintu gerbang yang sangat besar, dan dalam keadaan tertutup. Tak ada yang akan lebih tepat dengan keterangan dalam Al-Qur’an 18: 95-96 itu.
Jadi, kalau penyekat dalam 18: 95 dan 98 itu mengacu kepada Gerbang Besi di dekat Bukhara, kita dapat menerima alasan bangsa Ya’juj dan Ya’juj itu dengan agak meyakinkan. Mereka adalah suku-suku Mongol yang tinggal di balik penyekat itu, sedang pengrajin-pengrajin yang tidak mengerti bahasa Zulkarnain adalah orang-orang Turki. Untuk beberapa waktu tertentu penyekat itu pernah digunakan sesuai dengan tujuan. Tetapi adanya peringatan bahwa akan tiba saatnya penyekat itu hancur menjadi debu, juga benar. Penyekat tersebut memang sudah hancur menjadi debu. Sejak lama perjalanan orang-orang Mongol itu menerobos ke arah barat, menyerbu Turki yang berada di hadapan mereka, dan Turki menjadi kekuatan Eropa dan tetap menjadi penyangga Eropa. Kita tidak perlu risau karena dongeng-dongeng tentang bangsa Ya’juj dan Ya’juj itu. Demikian Yusuf Ali.
Ya’juj dan Ya’juj, dalam Bibel dikenal nama Gog dan Magog (Kej. 10: 2, Tawarikh I, 1: 5, Yehezekiel 38: 6, 39; Wahyu Yohanes, 20: 8), walaupun tampaknya hampir tak ada hubungan antara keduanya. Gog, anak Semaya termasuk keluarga Rubeni (salah satu cabang keturunan Yahudi). Dalam Kej. 10: 2 Magog adalah keturunan Yafet anak Nuh, dan dalam Yehezkiel 38: 2, 15; 39: 1, 3, 6 disebutkan Gog sebagai raja agung di tanah Magog. Dalam Kitab Wahyu 20 disebutkan misalnya, bahwa sesudah 1000 tahun berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjara dan pergi menyesatkan bangsa-bangsa di empat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. Disebutkan juga, bahwa Gog dan Magog adalah kekuatan jahat yang akan muncul pada berakhirnya dunia. Di dalam Yehezkiel dan Kejadian Magog nama tempat, dan Gog akan muncul. Menurut cerita dalam Wahyu itu dan dalam karya sastra keagamaaan Kristen dan Yahudi, Gog dibimbing oleh kekuatan jahat kedua, yakni Magog.
Di Guilhall, London, terdapat dua patung besar Gog dan Magog. Patung-patung itu sudah ada sejak masa Henry V. Yang pertama, hancur karena terjadi kebakaran besar (1666) dan diganti pada tahun 1708. Kemudian hancur lagi karena serangan udara tahun 1940 dan diganti lagi pada tahun 1953. Konon itu melambangkan asal ras Inggris.
3. Ṣadafain صَدَفَيْنِ (al-Kahf/18: 96)
Kalimat ini jarang dipergunakan dalam Al-Qur’an. Hanya sekitar lima tempat pada empat ayat. Pada empat tempat digunakan untuk arti maknawi yaitu keberpalingan orang kafir dari ayat-ayat Allah. Hanya satu tempat saja yang mempunyai arti hissi atau material yaitu seperti pada ayat ini. Kata ṣadafain pada ayat ini berarti kedua puncak gunung atau kedua sisinya. Akar katanya dari (ص- د- ف) artinya miring atau condong. Kemiringan pada kaki-kaki unta disebut ṣadaf. Dua sisi gunung dinamakan ṣadafain karena keduanya terpisah dari yang lain seperti juga dua hal yang miring sehingga tidak bisa bertemu. Dua hal yang satu berhadapan dengan yang lain disebut juga muṣādafah.









































