قُلْ اَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ۗوَاللّٰهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Qul ata‘budūna min dūnillāhi mā lā yamliku lakum ḍarraw wa lā naf‘ā(n), wallāhu huwas-samī‘ul-‘alīm(u).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kepadamu mudarat dan tidak (pula) manfaat?” Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Sebagai peringatan kepada umat Nasrani tersebut, Allah memerintahkan kepada Rasulullah sebagai berikut. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Mengapa kamu mengimani dan menyembah kepada tuhan yang selain Allah, padahal yang kamu yakini itu hanya sesuatu yang tidak akan dapat menimbulkan bencana apa pun kepadamu dan ia tidak pula dapat memberi manfaat apa-apa?” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar semua yang kamu ucapkan lagi Maha Mengetahui semua yang kamu lakukan.
Ayat ini menerangkan betapa sesatnya orang Nasrani yang menyembah Almasih. Muhammad mendapat perintah dari Allah supaya menanyakan kepada orang Nasrani, mengapa mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat. Tidakkah mereka mengetahui bahwa orang Yahudi itu memusuhi Almasih dan mereka hendak membinasakannya, sedang Almasih sendiri ternyata tidak sanggup memberi mudarat kepada orang Yahudi dan sahabat Almasih tidak dapat menolongnya. Wajarkah orang yang tidak mempunyai kesanggupan itu dipandang sebagai Tuhan. Tidakkah mereka sendiri bercerita bahwa Yesus ketika dianiaya di atas tiang salib, dia meminta air karena haus dan orang Yahudi hanya memberikannya air cuka yang dituangkan ke lubang hidungnya. (Markus xv. 36: “Maka datanglah seorang dengan bunga karang yang mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucurkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum dan berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” Terdapat juga dalam Matius xxvii. 48, Yohanes xix. 29-30). Tidakkah cerita mereka ini menunjukkan bahwa Yesus itu sangat lemah. Pantaskah orang yang lemah seperti ini dipandang sebagai Tuhan.
Selanjutnya akhir ayat ini memperingatkan orang Nasrani bahwa Allah Maha Mendengar terutama ucapan kekafiran mereka dan Maha Mengetahui kepalsuan yang ada dalam hati mereka.
Ṡāliṡu Ṡalāṡah ثَالِثُ ثَلاَثَةْ (al-Mā’idah/5: 73)
Kata ṡāliṡu ṡalāṡah adalah bentuk kata iḍafat, artinya menurut bahasa “ketiga dari tiga, yakni salah satu dari tiga oknum tuhan.” Dalam teologi Kristiani, penyatuan dari tiga pribadi (oknum) suci dalam satu Tuhan, Bapa, Anak dan Rohulkudus (pribadi ketiga dari Tritunggal), yakni Allah, Maryam dan Yesus. Dalam Al-Qur’an Rohulkudus berarti Jibril (al-Baqarah/2: 87, 253, al-Mā’idah/5: 110, an-Naḥl/16: 102). Tiga pribadi (oknum) yang sudah terkenal dalam teologi Kristiani itu dari satu unsur: Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Rohulkudus. Bandingkan dengan an-Nisā’/4:171, yang memberi pengertian bahwa Isa, Maryam dan Allah bukan merupakan satu kesatuan, tetapi masing-masing berbeda, yang juga diterjemahkan dengan “Firman” tapi dalam pengertian, bahwa “Firman adalah Allah”; dan telah jadi manusia, yakni Yesus sebagai pribadi dalam Trinitas (Yohanes 1. 1-16).














































