تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ
Takādu tamayyazu minal-gaiẓ(i), kullamā ulqiya fīhā faujun sa'alahum khazanatuhā alam ya'tikum nażīr(un).
(Neraka itu) hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka, “Tidak pernahkah seorang pemberi peringatan datang kepadamu (di dunia)?”
hampir saja neraka meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya, para malaikat penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu di dunia tentang ancaman Allah?”
Selanjutnya diterangkan bahwa neraka itu menerima orang-orang kafir dengan kemarahan yang sangat. Demikian marahnya, sehingga hampir saja mereka itu pecah berkeping-keping. Dalam keadaan demikian, malaikat Zabaniyah pun mencela dan mencerca mereka, “Tidak pernahkah datang kepada kamu seorang rasul yang diutus Allah yang memperingatkan kamu kepada azab hari Kiamat yang menimpamu pada saat ini?” Hal ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak akan mengazab suatu kaum, melainkan setelah Dia mengutus seorang rasul dan mereka tidak mengindahkan seruan itu. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا
…tetap i Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isrā’/17: 15)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia dituntut melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya jika telah disampaikan kepada mereka seruan rasul yang diutus kepada mereka. Hal ini berlaku baik seruan itu disampaikan secara langsung maupun tidak langsung, yaitu dengan perantaraan orang-orang yang telah beriman kepada-Nya.
Syahīqan شَهِيْقًا (al-Mulk/67: 7)
Syahīq adalah isim maṣdar dari syahiqa-yasyhaqu-syahqan wa syahīqan, yang artinya “suara jeritan atau lenguhan keledai” (ka syahq al-ḥimar). Kata ini dalam Al-Qur’an disebut dua kali: dalam Surah Hūd/11: 106 yang didahului kata az-zafīr, dan dalam surah ini. Menurut catatan Ibnu al-Jauzī, az-zafīr artinya suara napas keledai yang terdengar dari dadanya, sedangkan asy-syahīq adalah suara napas keledai dari arah tenggorokannya. Asy-Syahīq berarti suara napas yang amat payah, tersengal-sengal, dan tersiksa, yang biasa terdengar di ujung napas dengan suara memelas. Jadi, kata syahīq dalam ayat 7 Surah al-Mulk, dikaitkan dengan Surah Hūd/11: 106, mengisyaratkan bahwa orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka mendengar jeritan, lolongan, dan lenguhan panjang yang amat kesakitan yang datangnya dari para penghuni neraka yang lama maupun baru. Mereka menjerit, melolong, melenguh, dan merintih kesakitan dengan mengeluarkan lenguhan dan jeritan seperti lenguhan dan jeritan keledai. Alangkah menderita dan sengsara mereka di dalam cengkeraman siksa neraka.

