وَلِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
Wa lil-lażīna kafarū birabbihim ‘ażābu jahannam(a), wa bi'sal-maṣīr(u).
Orang-orang yang kufur kepada Tuhannya akan mendapat azab (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Telah menjadi ketetapan Allah bahwa setiap orang yang menyekutu-kan dan mengingkari Allah, serta mendustakan para rasul akan dimasukkan ke dalam neraka di akhirat kelak. Inilah yang ditegaskan pada ayat ini. Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya akan mendapat azab Jahanam. Itulah tempat kediaman mereka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Telah menjadi ketetapan dan sunatullah bahwa setiap orang yang menyekutukan dan mengingkari Allah, serta mendustakan para rasul yang diutus-Nya, akan dimasukkan ke dalam neraka. Neraka itulah tempat yang paling buruk yang disediakan bagi mereka. Di dalamnya mereka akan merasakan penderitaan dan siksaan yang amat pedih dan menyengsarakan.
Kemudian Allah menerangkan sikap neraka pada waktu orang-orang kafir dimasukkan ke dalamnya, yaitu:
a. Ketika orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya, terdengarlah suaranya yang gemuruh lagi dahsyat sebagai tanda kemarahannya.
b. Neraka itu menggelegak, laksana periuk besar merebus orang-orang kafir dengan airnya yang mendidih.
c. Neraka itu seakan-akan hampir pecah waktu orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya.
d. Neraka itu sangat ganas dan marah kepada setiap orang yang berada di dalamnya.
e. Setiap kali rombongan orang kafir dimasukkan ke dalamnya, penjaga-penjaga neraka itu mencerca mereka, “Belum pernahkah seorang rasul datang kepada kamu. Kenapa kamu tidak mengikuti seruan para rasul yang disampaikan kepadamu?”
f. Penduduk neraka mengakui bahwa telah datang rasul-rasul kepada mereka, akan tetapi mereka mendustakannya; bahkan menuduh bahwa para rasul itulah yang berada dalam kesesatan
Syahīqan شَهِيْقًا (al-Mulk/67: 7)
Syahīq adalah isim maṣdar dari syahiqa-yasyhaqu-syahqan wa syahīqan, yang artinya “suara jeritan atau lenguhan keledai” (ka syahq al-ḥimar). Kata ini dalam Al-Qur’an disebut dua kali: dalam Surah Hūd/11: 106 yang didahului kata az-zafīr, dan dalam surah ini. Menurut catatan Ibnu al-Jauzī, az-zafīr artinya suara napas keledai yang terdengar dari dadanya, sedangkan asy-syahīq adalah suara napas keledai dari arah tenggorokannya. Asy-Syahīq berarti suara napas yang amat payah, tersengal-sengal, dan tersiksa, yang biasa terdengar di ujung napas dengan suara memelas. Jadi, kata syahīq dalam ayat 7 Surah al-Mulk, dikaitkan dengan Surah Hūd/11: 106, mengisyaratkan bahwa orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka mendengar jeritan, lolongan, dan lenguhan panjang yang amat kesakitan yang datangnya dari para penghuni neraka yang lama maupun baru. Mereka menjerit, melolong, melenguh, dan merintih kesakitan dengan mengeluarkan lenguhan dan jeritan seperti lenguhan dan jeritan keledai. Alangkah menderita dan sengsara mereka di dalam cengkeraman siksa neraka.

