Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 19 - Surat Al-Qiyāmah (Hari Kiamat)
القيٰمة
Ayat 19 / 40 •  Surat 75 / 114 •  Halaman 577 •  Quarter Hizb 58.5 •  Juz 29 •  Manzil 7 • Makkiyah

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ

Ṡumma inna ‘alainā bayānah(ū).

Kemudian, sesungguhnya tugas Kami (pula)-lah (untuk) menjelaskannya.

Makna Surat Al-Qiyamah Ayat 19
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

18-19. Caranya adalah apabila Kami melalui malaikat Jibril telah selesai membacakannya kepadamu maka ikutilah bacaannya itu dengan lidah serta pikiran dan hatimu secara sungguh-sungguh. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskan makna-maknanya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menjelaskan adanya jaminan Allah bahwa sesungguhnya atas tanggungan Allah-lah penjelasannya. Maksudnya setelah Jibril selesai membacakan Al-Qur’an itu kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah langsung memberikan penjelasan kepada beliau melalui ilham-ilham yang ditanamkan ke dalam dada Nabi saw, sehingga pengertian ayat ini secara sempurna sebagaimana yang dikehendaki Allah dapat diketahui Nabi saw. Allah pula yang menyampaikan kepada Nabi segala rahasia, hukum-hukum, dan pengetahuan Al-Qur’an itu secara sempurna. Dengan begitu, tidak dapat diragukan sedikit pun bahwa sesungguhnya Al-Qur’an itu dari sisi Allah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Nāḍirah نَاضِرَةٌ (al-Qiyāmah/75: 22)

Kata nāḍirah adalah isim fā‘il dari naḍara-yanḍuru-naḍran, naḍratan, naḍāratan, yang berarti segar, bagus, cantik. Dari sinilah berkembang makna nāḍirah yang dalam ayat 22 Surah al-Qiyāmah menjadi berseri-seri, yakni pada hari Kiamat ada wajah-wajah yang berseri-seri.

Dalam Al-Qur’an kata nāḍirah hanya sekali disebutkan dan dalam bentuk lainnya juga disebutkan satu kali yaitu dengan kata naḍratan pada Surah al-Insān/76 ayat 11.

2. Nāẓirah نَاظِرَةٌ (al-Qiyāmah/75: 23)

Nāẓirah merupakan bentuk isim fa‘il dari kata kerja naẓara-yanẓuru yang artinya melihat. Dengan demikian, nāẓirah diartikan sebagai yang melihat. Dalam kaitan dengan maknanya pada ayat ini ada dua pendapat yang saling berbeda. Yang pertama memahami bahwa maknanya adalah sebagaimana arti utamanya, yaitu melihat dengan mata kepala. Dengan arti seperti ini, maka ayat tersebut mengisyaratkan bahwa manusia dapat melihat Tuhan kelak di akhirat. Dalam konteks ayat ini sebagian dari kelompok ini menggarisbawahi bahwa melihat yang dimaksud adalah dengan pandangan khusus. Namun sebagian lagi menyatakan bahwa yang dimaksud adalah melihat dengan mata kepala. Pendapat yang terakhir ini didasarkan pada hadis-hadis yang diriwayatkan sekian banyak orang dan berasal dari beberapa sahabat, antara lain Jarīr bin ‘Abdillāh, Abū Hurairah, dan Abū Sa‘īd al-Khudrī. Di antaranya adalah yang diriwayatkan al-Bukhārī dari Jarīr bin ‘Abdillāh bahwa Nabi saw duduk bersama sahabat-sahabat saat bulan purnama, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan kamu sebagaimana kamu melihat bulan purnama ini.”

Sementara itu, kelompok kedua memahami nāẓirah bukan dalam arti melihat, tetapi dalam arti menunggu. Arti menanti ini diambil karena juga merupakan salah satu makna dari kata tersebut. Yang dimaksud pada ayat ini adalah menunggu nikmat-nikmat Allah. Pemaknaan seperti ini, menurut mereka, didasarkan pada argumen bahwa mata manusia yang bersifat materi tidak akan mampu melihat Tuhan yang immateri. Selain itu ada pula ayat yang menguatkan pendapat bahwa mata itu tidak dapat menjangkau Tuhan, seperti firman Allah pada Surah al-An‘ām ayat 103, yaitu: “Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat menjangkau segala penglihatan, dan Dialah Yang Maha Tersembunyi lagi Maha Mengetahui.”

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto