Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 66 - Surat Al-Wāqi‘ah (Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi)
الواقعة
Ayat 66 / 96 •  Surat 56 / 114 •  Halaman 536 •  Quarter Hizb 54.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ

Innā lamugramūn(a).

(sambil berkata,) “Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian.

Makna Surat Al-Waqi‘ah Ayat 66
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

65-67. Sekiranya Kami kehendaki, pepohonan subur dan berbuah lebat yang Kami tumbuhkan itu dapat Kami hancurkan sampai kering dan lumat sehingga tidak lagi bermanfaat. Bila hal ini terjadi maka kamu akan heran dan tercengang sambil berkata, “Sesungguhnya, akibat peristiwa tidak terduga itu, kami benar-benar menderita kerugian yang sangat besar, bahkan kami benar-benar akan menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian dijelaskan oleh Allah, bahwa walaupun tanaman tersebut sangat baik pertumbuhan dan buahnya yang menimbulkan harapan untuk mendatangkan keuntungan berlimpah-limpah, namun apabila Allah menghendaki lain daripada itu, maka tanaman yang diharapkan itu dapat berubah menjadi tanaman yang tidak berbuah, hampa atau terserang berbagai macam penyakit dan hama, seperti hama wereng, hama tikus, dan sebagainya, sehingga pemiliknya tertegun dan merasa sedih, karena keuntungannya dalam sekejap mata menjadi kerugian yang luar biasa. Sedang untuk membayar berbagai macam pengeluaran seperti ongkos-ongkos mencangkul, menanam, menyiram, memupuk, dan membersihkan rumput merupakan beban berat dan merugikan baginya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Tafakkahūn تَفَكَّهُوْنَ (al-Wāqi‘ah/56:65)

Tafak kahūn berasal dari fi‘il tafakkahā-yatafakkahu-tafak kuhan yang mempunyai banyak arti, antara lain yaitu: makan buah-buahan, merasa lezat, nikmat, takjub dan sangat heran. Pada ayat 65 tafakkahūn arti sangat tercengang dan terheran-heran dalam arti negatif, karena tanaman yang semula kelihatan sangat baik pertumbuhannya dan memberikan harapan keuntungan yang berlimpah, tetapi jika Allah menghendaki dapat saja berubah dengan tiba-tiba menjadi kering terserang bermacam hama dan penyakit, sehingga menjadi kurus, hampa atau tidak berubah sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah Mahakuasa untuk menghidupkan dan mematikan, menumbuhkan dan menghentikan pertumbuhan semua tanaman. Meskipun manusia yang menanam tumbuh-tumbuhan tetapi Allah yang menumbuhkannya. Jika Allah menghendaki tanam-tanaman itu dapat tumbuh subur, tetapi dapat pula mati tiba-tiba.

2. Al-Munsyi'ūn الْمُنْشِئُوْن َ (al-Wāqi‘ah/56:72)

Al-Mu nsyi'ūn orang-orang yang mengadakan. Berasal dari fi‘il ansya'a- yansyi'u -insyā'an artinya: mengadakan, menjadikan, menciptakan. Pada ayat 72 Allah berfirman a'antum ansya'tum syajaratahā am naḥnul munsyi'ūn artinya: apakah kamu yang menjadikan kayu pada pembuatan api itu ataukah Kami yang menjadikannya. Kata dalam bentuk jamak ini mengandung arti lit-ta‘ẓīm, yaitu untuk menunjukkan kebesaran atau keagungan Allah, juga mengandung arti dalam proses terjadinya kayu dan api itu melibatkan beberapa pihak seperti tanah, air, sinar matahari, angin dan lain-lain. Hal ini tidak berarti bahwa Allah sendiri tidak dapat menciptakan kayu dan api itu, Allah Mahakuasa tetapi Allah juga Maha Bijaksana, maka Allah memberikan contoh pendidikan dalam proses pembuatan segala sesuatu perlu waktu dan perlu melibatkan pihak-pihak lain. Bentuk pertanyaan dalam ayat ini dalam Ilmu Balāgah menunjukkan lit-takhyīr artinya untuk memberikan dan menentukan pilihan, atau lit-taḥqīr artinya untuk menghinakannya.

3. Lilmuqw n لِلْمُقْوِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 73)

Lilmuqwīn artinya bagi para musafir. Berasal dari fi‘il aqwā-yuqwī-iqwāa’ yang mempunyai banyak arti, antara lain yaitu menjadi miskin, habis bekal, tidak berpenghuni, berhenti di tempat yang gersang dan tidak berpenghuni, sangat lapar, dan mempunyai bintang yang kuat. Bentuk isim fā‘il dari fi‘il ini ialah taqwī dan jamaknya dengan membuang huruf yā' karena dua sukun bertemu al-iltiqāu'ssakinain sehingga menjadi muqwīn artinya beberapa musafir. Pada ayat 73 Allah berfirman: naḥnu ja‘alnāhā tażkirah wa matā‘an lilmuqwīn artinya: Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi para musafir. Terutama para musafir di padang pasir, atau di tempat-tempat yang jauh dari penduduk, di tempat yang sepi tidak berpenghuni, para musafir ini sangat memerlukan api, baik untuk penerangan di malam hari, untuk menghangatkan badan, maupun untuk memasak dan memanaskan makanan mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto