جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Jazā'am bimā kānū ya‘malūn(a).
sebagai balasan atas apa yang selama ini mereka kerjakan.
Kami berikan kenikmatan itu sebagai balasan atas keimanan mereka kepada Allah dan kebaikan apa saja yang mereka kerjakan di dunia.
Ayat ini mengungkapkan sebab mereka mendapat nikmat yang luar biasa, yang merupakan balasan bagi apa-apa yang telah mereka kerjakan di dunia, menunaikan kewajiban, mematuhi perintah Allah swt, dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya dengan sebaik-baiknya. Mereka bangun tengah malam, salat, memuji, berzikir, merenungkan kebesaran Allah dan memohon ampunan-Nya serta berpuasa siang harinya.
Sebagaimana yang diutarakan dalam firman Allah:
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ ١٧ وَبِالْاَسْحَا رِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْ نَ ١٨ وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْم ِ ١٩
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta. (aż-Żāriyāt/51: 17-19)
Ṡullatun ثُلَّةٌ (al-Wāqi‘ah/56: 13)
Kata ṡullatun diartikan sebagai sekelompok orang, baik yang jumlahnya banyak atau sedikit. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kata ini untuk menunjuk kelompok manusia dalam jumlah banyak. Pada ayat ini, kata tersebut digunakan untuk mengisyaratkan bahwa yang akan masuk surga di akhirat kelak adalah kelompok dalam jumlah banyak, yaitu umat terdahulu yang bersama nabi mereka masing-masing. Selain itu, pada ayat berikutnya, ada pula kelompok kecil yang datang kemudian, yaitu umat Nabi Muhammad.















































