وَاَصْحٰبُ الْيَمِيْنِ ەۙ مَآ اَصْحٰبُ الْيَمِيْنِۗ
Wa aṣḥābul-yamīn(i), mā aṣḥābul-yamīn(i).
Golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu.
Usai menguraikan nikmat bagi orang beriman, pada ayat-ayat ini Allah menjelaskan siapakah golongan kanan itu. Dan sebagian manusia termasuk golongan kanan, yaitu mereka yang beriman dan menaati ajaran Allah. Alangkah bahagianya mereka yang termasuk golongan kanan itu. Mereka pasti akan mendapat balasan surga yang penuh kenikmatan.
Dalam ayat ini diterangkan mengenai kedudukan golongan kanan, ialah suatu golongan yang mempunyai pangkat yang tinggi dan kedudukan yang mulia. Sudah menjadi kebiasaan dalam bahasa Arab dan juga dalam bahasa Indonesia, dalam menjelaskan sesuatu yang penting, biasa diulangi sebutannya dengan tanda tanya. Maka karena demikian pentingnya kedudukan golongan kanan, dalam ayat ini Allah menegaskan, “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan tersebut.” Sesudah itu baru diiringi penjelasan yang lebih terperinci mengenai kenikmatan dan kebahagiaan dari golongan kanan tersebut.
1. Aṣḥābul-yamīn أَصْحَابُ الْيَمِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 27)
Kata aṣḥābul-yamīn terdiri dari dua kata, yaitu aṣḥāb dan al-yamīn. Yang pertama (aṣḥāb) merupakan bentuk jamak dari ṣāḥib, yang berarti teman atau kelompok. Sedang yang kedua (al-yamīn) artinya kanan, yaitu yang mengisyaratkan pada kelompok baik. Kata ini disebut pada ayat tersebut untuk menunjuk kelompok kanan yang merupakan golongan kedua yang akan masuk surga. Kelompok pertama yang lebih tinggi dan mendapat kenikmatan istimewa adalah al-muqarrabūn, yang telah disebut pada rangkaian ayat sebelumnya. Walaupun merupakan kelompok yang lebih rendah, kenikmatan yang didapatkan aṣḥābul-yamīn bukan berarti tidak sempurna. Mereka juga menikmati anugerah yang luar biasa dari Allah sebagai ganjaran atas perilaku dan perbuatan mereka ketika di dunia.
2. Sidrin Makhḍūdin سِدْرٍ مَخْضُوْدٍ (al-Wāqi‘ah/56: 28)
Sidrin makhḍūdin adalah tarkīb waṣfi artinya susunan kata majemuk yang menunjukkan sifat. Seperti bahasa Indonesia yang menganut hukum DM yaitu diterangkan dan menerangkan, sehingga kata sifat terletak setelah kata benda. Tidak seperti bahasa Inggris atau bahasa-bahasa di Eropa yang mendahulukan kata sifat sebelum kata benda, seperti white house, good boy, dan lain-lain yang menganut hukum MD (menerangkan diterangkan). Sidr adalah sejenis pohon yang daunnya kecil-kecil dan buahnya seperti petai tetapi lebih kecil lagi. Ada yang menyebutnya petai Cina, atau bidara. Makhḍūd artinya lemah, tidak berduri. Sidr makhḍūd pada ayat 28 artinya pohon bidara yang tidak berduri. Hal ini menunjukkan penghuni surga berada di antara pohon-pohon yang rindang dan buahnya kecil-kecil, sehingga nyaman tidak berbahaya, yaitu pohon bidara yang tidak berduri.
3. ‘Uruban Atrābā عُرُبًا اَتْرَابًا (al-Wāqi‘ah/56: 37)
‘Urub atrāb adalah dua kata sifat dalam bentuk jamak, yaitu sebagai sifat-sifat kepada kata benda yang bentuknya juga jamak. Pada ayat sebelumnya yaitu abkārā artinya para gadis atau putri-putri perawan. Maksudnya perempuan-perempuan itu di surga semuanya diciptakan sebagai gadis-gadis yang masih perawan, cantik-cantik dan selalu berpenampilan penuh cinta, serta semuanya sebaya usia mereka. ‘Arab adalah bentuk jamak dari ‘urūb, berasal dari fi‘il ‘iraba-ya‘ribu-‘irāba n artinya menerangkan, menganalisis dan memperindah, seperti kalāmuhu ‘arab berarti aḥsanah yaitu memperindah kalimatnya 'atrāb adalah bentuk jamak dari taraba artinya sebaya atau semasa. Jadi atrābā ‘uruban pada ayat 37 artinya mereka cantik-cantik dan penuh pesona cinta, serta usia mereka sebaya.













































