Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 37 - Surat Al-Wāqi‘ah (Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi)
الواقعة
Ayat 37 / 96 •  Surat 56 / 114 •  Halaman 535 •  Quarter Hizb 54.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

عُرُبًا اَتْرَابًاۙ

‘Uruban atrābā(n).

yang penuh cinta (lagi) sebaya umurnya,

Makna Surat Al-Waqi‘ah Ayat 37
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mereka selalu penuh dengan cinta lagi sebaya umurnya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat-ayat ini, dijelaskan lebih rinci kesenangan dan kegem­biraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut, bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa; bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai, berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan.

Isi Kandungan Kosakata

1. Aṣḥābul-yamīn أَصْحَابُ الْيَمِيْن (al-Wāqi‘ah/56: 27)

Kata aṣḥābul-yamīn terdiri dari dua kata, yaitu aṣḥāb dan al-yamīn. Yang pertama (aṣḥāb) merupakan bentuk jamak dari ṣāḥib, yang berarti teman atau kelompok. Sedang yang kedua (al-yamīn) artinya kanan, yaitu yang mengisyaratkan pada kelompok baik. Kata ini disebut pada ayat tersebut untuk menunjuk kelompok kanan yang merupakan golongan kedua yang akan masuk surga. Kelompok pertama yang lebih tinggi dan mendapat kenikmatan istimewa adalah al-muqarrabūn, yang telah disebut pada rangkaian ayat sebelumnya. Walaupun merupakan kelompok yang lebih rendah, kenikmatan yang didapatkan aṣḥābul-yamīn bukan berarti tidak sempurna. Mereka juga menikmati anugerah yang luar biasa dari Allah sebagai ganjaran atas perilaku dan perbuatan mereka ketika di dunia.

2. Sidrin Makhḍūdin سِدْرٍ مَخْضُوْدٍ (al-Wāqi‘ah/56: 28)

Sidrin makhḍūdin adalah tarkīb waṣfi artinya susunan kata majemuk yang menunjukkan sifat. Seperti bahasa Indonesia yang menganut hukum DM yaitu diterangkan dan menerangkan, sehingga kata sifat terletak setelah kata benda. Tidak seperti bahasa Inggris atau bahasa-bahasa di Eropa yang mendahulukan kata sifat sebelum kata benda, seperti white house, good boy, dan lain-lain yang menganut hukum MD (menerangkan diterangkan). Sidr adalah sejenis pohon yang daunnya kecil-kecil dan buahnya seperti petai tetapi lebih kecil lagi. Ada yang menyebutnya petai Cina, atau bidara. Makhḍūd artinya lemah, tidak berduri. Sidr makhḍūd pada ayat 28 artinya pohon bidara yang tidak berduri. Hal ini menunjukkan penghuni surga berada di antara pohon-pohon yang rindang dan buahnya kecil-kecil, sehingga nyaman tidak berbahaya, yaitu pohon bidara yang tidak berduri.

3. ‘Uruban Atrābā عُرُبًا اَتْرَابًا (al-Wāqi‘ah/56: 37)

‘Urub atrāb adalah dua kata sifat dalam bentuk jamak, yaitu sebagai sifat-sifat kepada kata benda yang bentuknya juga jamak. Pada ayat sebelumnya yaitu abkārā artinya para gadis atau putri-putri perawan. Maksudnya perempuan-perempuan itu di surga semuanya diciptakan sebagai gadis-gadis yang masih perawan, cantik-cantik dan selalu berpenampilan penuh cinta, serta semuanya sebaya usia mereka. ‘Arab adalah bentuk jamak dari ‘urūb, berasal dari fi‘il ‘iraba-ya‘ribu-‘irāba n artinya menerangkan, menganalisis dan memperindah, seperti kalāmuhu ‘arab berarti aḥsanah yaitu memperindah kalimatnya 'atrāb adalah bentuk jamak dari taraba artinya sebaya atau semasa. Jadi atrābā ‘uruban pada ayat 37 artinya mereka cantik-cantik dan penuh pesona cinta, serta usia mereka sebaya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto