Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 82 - Surat Al-Wāqi‘ah (Hari Kiamat Yang Pasti Terjadi)
الواقعة
Ayat 82 / 96 •  Surat 56 / 114 •  Halaman 537 •  Quarter Hizb 54.5 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَتَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ

Wa taj‘alūna rizqakum annakum tukażżibūn(a).

dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan (Al-Qur’an)?

Makna Surat Al-Waqi‘ah Ayat 82
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

81-82. Bila kamu mengetahui bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, maka apakah kamu masih menganggap remeh berita tentang wahyu-Nya ini? Masihkah kamu berani menjadikan rezeki yang kamu terima dari Allah justru untuk mendustakan ajaran dan mengingkari kekuasaan-Nya?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah mencela orang-orang yang meremehkan Al-Qur’an, yang memandangnya sebagai ucapan manusia biasa, mereka juga mencemoohkan orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan tidak membelanya bila ada orang-orang yang menghinanya.

Selanjutnya Allah swt mencela orang yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang dikaruniakan kepada mereka, bahkan nikmat-nikmat tersebut mereka sambut dengan mendustakannya.

Dalam ayat yang lain yang sama maksudnya, Allah berfirman:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ اِلَّا مُكَاۤءً وَّتَصْدِيَةً

Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (al-Anfāl/8: 35)

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Muṭahharūn الْمُطَهَّرُوْ نَ (al-Wāqi‘ah/56: 79)

Al-Muṭahharūn artinya orang-orang yang disucikan. Berasal dari fi‘il ṭahhara-yuṭahhiru-taṭh īran artinya mensucikan, membersihkan. Pada ayat 79 Allah berfirman lā yamassuhū illal-muṭahharūna artinya: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur’an kecuali hamba-hamba yang disucikan. Hamba-hamba yang disucikan pada ayat ini dapat berarti manusia-manusia yang disucikan yaitu telah berwudu sehingga tidak dalam keadaan ḥadaṡ kecil ataupun ḥadaṡ besar, dapat pula berarti para malaikat yang suci. Jika dipergunakan arti yang pertama hal ini menunjukkan pada mushaf Al-Qur’an yang tidak boleh dipegang oleh orang yang tidak berwudu, untuk memegang Al-Qur’an harus suci dari ḥadaṡ kecil dan suci dari ḥadaṡ besar. Sedangkan jika dipergunakan arti kedua hal ini berarti Al-Qur’an di Lauḥ Maḥfūẓ yang hanya dapat disentuh oleh malaikat yang suci.

2. Mudhinūn مُدْهِنُوْنَ(al- Wāqi‘ah/56: 81)

Mudhinūn artinya orang-orang menganggap remeh. Berasal dari kata kerja atau fi‘il adhana-yudhinu-idhānan artinya meremehkan, menganggap remeh, memandang rendah, hina, tidak penting. Mudhinūn artinya orang yang menganggap remeh, dan bentuk jamaknya ialah Mudhinūna atau Mudhinīn. Pada ayat 81 Allah bertanya kepada manusia, “Apakah manusia menganggap remeh, menganggap tidak penting pada informasi atau pemberitaan dalam Al-Qur’an?” Suatu kalimat bentuk pertanyaan yang arti dan maksudnya menurut Ilmu Balāgah ialah lil inkār yaitu untuk mengingkari atau menolak pandangan tersebut. Ayat 81 ini ingin menegaskan bahwa manusia tidak dapat menganggap remeh terhadap adanya pemberitaan dan informasi yang penting dari Al-Qur’an, dari sumber yang benar karena Al-Qur’an adalah firman Allah Yang Maha Mengetahui, dan Al-Qur’an terpelihara dari berbagai penyelewengan dan pemalsuan. Sehingga sangat tidak pantas, jika manusia masih menganggap remeh dan tidak penting informasi dari Al-Qur’an ini.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto