وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ
Wa anzalnā minal-mu‘ṣirāti mā'an ṡajjājā(n).
Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras
Dan bukankah telah pula Kami turunkan dari sela-sela awan yang mengandung uap air yang pekat itu air hujan yang tercurah dengan hebatnya? Air sangat besar artinya bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, baik flora maupun fauna.
Kesembilan, Allah menurunkan dari awan air hujan yang banyak dan memberi manfaat, terutama untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi manusia dan binatang.
Hal itu bertujuan agar dapat menumbuhkan biji-bijian seperti gandum, sayur, padi, dan tumbuh-tumbuhan untuk bahan makanan manusia dan hewan ternak. Demikian pula kebun-kebun dan taman-taman yang lebat dengan daun-daunnya yang rimbun.
Dalam ayat ini, Allah menyebut bermacam-macam tanaman yang tumbuh di bumi, di antaranya ada yang mempunyai batang dan ada yang tidak. Ada yang menghasilkan buah-buahan dan ada pula yang menghasilkan biji-bijian seperti gandum, padi, dan lain-lain untuk makanan manusia. Ada pula tanaman-tanaman untuk makanan binatang ternak. Semuanya itu merupakan makanan-makanan pokok dan tambahan bagi manusia.
1. Mihādan مِهَادًا (an-Naba’/78: 6)
Mihād artinya hamparan. Terambil dari kata mahhada yang artinya “menghamparkan dan menyelaraskan” tempat untuk dijadikan tempat istirahat atau kediaman. Makna kata itu sama dengan firāsy (hamparan), sebagaimana dinyatakan dalam Surah aż-Żāriyāt/51: 48 di mana makna kedua kata itu tumpang-tindih: Wal-arḍa farasynāhā fani‘mal-māhidūn. (Dan bumi Kami hamparkan; maka (Kami) sebaik-baik yang telah menghamparkan.)
Bumi ini dijadikan Allah sebagai hamparan maksudnya adalah layak huni karena datar dan tersedia dengan sumber-sumber kehidupan. Dari kata dasar itu terbentuk kata al-mahd yaitu “buaian”, karena buaian adalah tempat bayi istirahat atau tidur. Juga ada kata tamhīd yang maknanya melapangkan (menyediakan) segalanya selapang-lapangnya. “Pengantar” dalam sebuah buku juga disebut tamhīd karena “pengantar” itu menyediakan segala informasi untuk sampai kepada isi buku.
2. Subātan سُبَاتًا (an-Naba’/78: 9)
Subātan artinya tenang. Terambil dari kata sabata yang artinya “memutus”. Tidur dikatakan tenang karena di dalam tidur hubungan dengan luar terputus. Ada pula kata as-sabt (Sabtu), karena Allah menciptakan alam ini dalam enam hari dimulai hari Ahad dan selesai hari Jumat. Dengan demikian, hari Sabtu adalah hari terputusnya pekerjaan tidak bersambung ke hari itu. Juga terdapat kata yasbitūn yang artinya berada pada hari Sabtu. Penggunaan kata ini misalnya dalam Surah al-A‘rāf/7: 163.
















































