Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 43 - Surat An-Naḥl (Lebah)
النّحل
Ayat 43 / 128 •  Surat 16 / 114 •  Halaman 272 •  Quarter Hizb 27.75 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Wa mā arsalnā min qablika illā rijālan nūḥī ilaihim fas'alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn(a).

Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan418) jika kamu tidak mengetahui.

Makna Surat An-Nahl Ayat 43
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pengutusan para nabi dan rasul adalah sesuatu yang hak dan benar adanya. Dan Kami tidak mengutus kepada umat manusia sebelum engkau, wahai Muhammad, melainkan orang laki-laki terpilih yang memiliki keistimewaan dan ketokohan dari kalangan manusia, bukan malaikat, yang Kami beri wahyu kepada mereka melalui utusan Kami, Jibril agar disampaikannya kepada umat mereka; maka bertanyalah, wahai orang yang meragukan keesaan Allah dan tidak mengetahui tuntunan-Nya, kepada orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab Allah, jika kamu tidak mengetahui. (Lihat: Surah al-Anbiya/21: 7-8 dan al-Jinn/72: 6)

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menyatakan bahwa Dia tidak mengutus seorang rasul pun sebelum Nabi Muhammad kecuali manusia yang diberi-Nya wahyu. Ayat ini menggambarkan bahwa rasul-rasul yang diutus itu hanyalah laki-laki dari keturunan Adam a.s. sampai Nabi Muhammad saw yang bertugas mem-bimbing umatnya agar mereka beragama tauhid dan mengikuti bimbingan wahyu. Oleh karena itu, yang pantas diutus untuk melakukan tugas itu adalah rasul-rasul dari jenis mereka dan berbahasa mereka. Pada waktu Nabi Muhammad saw diutus, orang-orang Arab menyangkal bahwa Allah tidak mungkin mengutus utusan yang berjenis manusia seperti mereka. Mereka menginginkan agar yang diutus itu haruslah seorang malaikat, seperti firman Allah swt:

وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا ۙ ٧ (الفرقان)

Dan mereka berkata, ”Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia.” (al-Furqān/25: 7)

Dan firman-Nya:

اَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى رَجُلٍ مِّنْهُمْ اَنْ اَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكٰفِرُوْنَ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِيْنٌ ٢ (يونس)

Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami memberi wahyu kepada seorang laki-laki di antara mereka, ”Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.” Orang-orang kafir berkata, ”Orang ini (Muhammad) benar-benar penyihir.” (Yūnus/10: 2)

Mengenai penolakan orang-orang Arab terhadap kerasulan Muhammad karena ia seorang manusia biasa, dapat dibaca dari sebuah riwayat aḍ-Ḍaḥḥāk yang disandarkan kepada Ibnu ‘Abbās bahwa setelah Muhammad saw diangkat menjadi utusan, orang Arab yang mengingkari kenabiannya berkata, “Allah lebih Agung bila rasul-Nya itu bukan manusia.” Kemudian turun ayat-ayat Surah Yūnus di atas.

Dalam ayat ini, Allah swt meminta orang-orang musyrik agar bertanya kepada orang-orang Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, apakah di dalam kitab-kitab mereka terdapat keterangan bahwa Allah pernah mengutus malaikat kepada mereka. Kalau memang disebutkan di dalam kitab mereka bahwa Allah pernah menurunkan malaikat sebagai utusan Allah, mereka boleh mengingkari kerasulan Muhammad. Akan tetapi, apabila disebutkan di dalam kitab mereka bahwa Allah hanya mengirim utusan kepada mereka seorang manusia yang sejenis dengan mereka, maka sikap mereka meng-ingkari kerasulan Muhammad saw itu tidak benar.

Isi Kandungan Kosakata

Ahlaż-Żikri اَهْلَ الذِّكْرِ (an-Naḥl/16: 43)

Aż-Żikr artinya mengingat, yaitu menghadirkan sesuatu yang tersimpan dalam ingatan kita. Mengingat bisa dengan hati atau lisan, bisa juga dengan keduanya. Tujuannya adalah mengingatkan sesuatu yang dilupakan (al-Kahf/18: 63), dan berzikir agar tetap ingat. Kata aż-żikr dalam ayat ini bisa berarti Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam Surah Ṣād/38: 8, bisa berarti kehormatan sebagaimana dalam Surah az-Zukhruf/43: 44, bisa juga berarti kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an seperti dalam Surah an-Naḥl/16: 43. Dengan demikian, maksud ahluż-żikr adalah orang-orang yang ahli dalam bidang kitab-kitab samawi tersebut seperti ulama Yahudi dan Nasrani.

Ada juga yang berpendapat bahwa aż-żikr dalam ayat ini merujuk pada Nabi Muhammad saw. Walaupun ditujukan kepada ulama Yahudi dan Nasrani, tetapi ayat ini bisa berarti lebih umum lagi. Bagi mereka yang kurang memahami suatu hal perlu bertanya kepada para ahlinya, termasuk di antaranya para ulama Islam.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto