Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat An-Naḥl (Lebah)
النّحل
Ayat 4 / 128 •  Surat 16 / 114 •  Halaman 267 •  Quarter Hizb 27.5 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ

Khalaqal-insāna min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).

Dia telah menciptakan manusia dari mani, lalu ternyata dia menjadi pembantah yang nyata.

Makna Surat An-Nahl Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dia Yang Mahaesa dan Mahakuasa itu juga telah menciptakan manusia dari setetes mani yang secara lahiriah tampak remeh, tidak berarti, dan tidak berdaya, ternyata dia berubah menjadi manusia yang kuat dan tangguh, bahkan dia berubah menjadi pembantah yang nyata tentang Tuhan dan hakikat dirinya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian dalam ayat ini, Allah menjelaskan proses kejadian diri manusia bahwa Dia menciptakannya dari nuṭfah. Dalam ayat yang lain dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari air yang lemah. Kejadian itu melalui proses perkembangan. Di dalam kandungan, mani berubah menjadi ‘alaqah (sesuatu yang menggantung di dinding rahim), kemudian menjadi gumpalan daging. Setelah mengalami jangka waktu 4 bulan mulai terwujud janin yang sempurna, dan setelah 9 bulan kejadian, bayi itu dikeluarkan dari kandungan ibunya ke alam dunia. Setelah itu, bayi masih memerlukan bantuan dan perawatan ibunya untuk disusui, dirawat, dan dididik sampai dewasa dan dapat berpikir secara sempurna.

Manusia yang mengalami proses penciptaan yang rumit dan bertahap, dari makhluk yang lemah menjadi yang perkasa ini, tiba-tiba mengingkari keesaan penciptanya dan terjadinya hari kebangkitan, serta memusuhi para rasul Allah, padahal ia diciptakan hanya sebagai hamba. Manusia bahkan melupakan asal kejadiannya bahwa ia diciptakan dari setetes air yang tidak mempunyai kemampuan sedikit pun. Mereka berkata dengan terus-terang, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

وَقَالُوْٓ ا اِنْ هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوْثِيْ نَ ٢٩ (الانعام)

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), ”Hidup hanyalah di dunia ini, dan kita tidak akan dibangkitkan.” (al-An‘ām/6: 29)

Mereka juga mengingkari kebangkitan kembali manusia setelah mati dan menjadi tulang-belulang. Firman Allah:

قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ

…Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” (Yāsīn/36: 78)

Isi Kandungan Kosakata

Tasraḥūn تَسْرَحُوْنَ (an-Naḥl/16: 6)

Berasal dari kata as-sarḥ yang berarti pohon yang berbuah atau as-surūḥ yang berarti pergi ke tempat di mana binatang ternak digembalakan, seperti padang atau kebun yang ada pohonnya. Arti ini kemudian berubah menjadi melepas binatang ternak ke tempat penggembalaannya, yang disebut at-tasrīḥ. Maka arti kata tasraḥūn dalam ayat ini adalah kegembiraan dan kebahagiaan pemilik ternak ketika melepas binatang ternaknya dari kandang di pagi hari untuk dibawa pergi ke tempat penggembalaannya. Kata ini hanya disebut sekali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam ayat ini.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto