اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ ࣖ ۔
Innallāha ma‘al-lażīnattaqau wal-lażīna hum muḥsinūn(a).
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat kebaikan.
Ketahuilah bahwasungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa, yang menjaga diri dari murka-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, dan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan kepada orang lain yang pernah berbuat buruk kepada mereka.[]
Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan alasan mengapa Nabi diperintahkan bersabar dan dilarang untuk cemas dan berkecil hati. Allah swt menegaskan bahwa Dia selalu ada bersama orang yang bertakwa dan orang yang berbuat kebaikan sebagai penolong mereka. Allah selalu memenuhi permintaan mereka, memperkuat, dan memenangkan mereka melawan orang-orang kafir.
Orang-orang yang takwa selalu bersama Allah swt karena mereka terus menyucikan diri untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan melenyapkan kemasygulan yang ada pada jiwa mereka. Mereka tidak pernah merasa kecewa jika kehilangan kesempatan, tetapi juga tidak merasa senang bila memperoleh kesempatan. Demikian pula Allah selalu menyertai orang yang berbuat kebaikan, melaksanakan kewajiban mereka kepada-Nya, dan selalu menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Pernyataan Allah kepada mereka yang takwa dan berbuat iḥsān (kebaikan) dalam ayat ini mempunyai pengertian yang sama dengan pernyataan Allah dalam firman-Nya kepada Nabi Musa dan Harun a.s.:
قَالَ لَا تَخَافَآ اِنَّنِيْ مَعَكُمَآ اَسْمَعُ وَاَرٰى ٤٦ (طٰهٰ)
Dia (Allah) berfirman, ”Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. (Ṭāhā/20: 46)
Juga mempunyai pengertian yang sama dengan firman Allah kepada malaikat:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَة ِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ”Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” (al-Anfāl/8: 12)
Jādilhum جَادِلْهُمْ (an-Naḥl/16: 125)
Jādilhum terambil dari kata jādala-yujādilu yang artinya diskusi atau memberi bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra bicara dan menjadikannya tidak dapat tetap bertahan dengan pendapatnya. Jādilhum merupakan kata kerja perintah yang dirangkai dengan obyek (maf‘ūl) hum yang artinya mereka. Dengan demikian, kata ini dapat diartikan sebagai suatu perintah untuk berdiskusi dengan mitra bicara yang mengemukakan pendapat yang dinilai tidak tepat, dan dalam diskusi itu hendaknya dikemukakan alasan-alasan yang logis sehingga dapat mematahkan argumen lawan bicara, baik hal itu dapat diterima oleh semua orang ataupun hanya diterima oleh mitra bicara saja. Kata ini juga mengandung pengertian bahwa umat Islam hendaknya menguasai metode berdiskusi yang baik.
















































