فَاَصَابَهُمْ سَيِّاٰتُ مَا عَمِلُوْا وَحَاقَ بِهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ࣖ
Fa aṣābahum sayyi'ātu mā ‘amilū wa ḥāqa bihim mā kānū bihī yastahzi'ūn(a).
Maka, mereka ditimpa azab (akibat) perbuatan mereka dan diliputi oleh azab yang dahulu mereka selalu perolok-olokkan.
Karena keengganan mereka itulah maka wajar bila mereka ditimpa azab sebagai balasan atas perbuatan mereka dan diliputi oleh azab yang tidak mungkin mereka hindari sebagai akibat dari apa yang dulu selalu mereka perolok-olokkan.
Mereka ditimpa oleh bencana yang mengerikan karena kejahatan yang mereka lakukan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat melepaskan diri dari bencana yang mengerikan itu karena semuanya berjalan menurut ketentuan dan sunnah Allah. Mereka telah diberikan peringatan berulang kali bahwa pada suatu saat akan datang azab Allah. Akan tetapi, mereka bukan menerima dengan kesadaran, justru malah mendustakan dan memperolok-olok rasul yang membawa berita tentang kehancuran yang akan mereka alami akibat perbuatan itu.
Di akhirat, mereka pun akan merasakan sesuatu yang lebih mengerikan lagi yaitu pada saat mereka telah diputuskan untuk memasuki pintu-pintu Jahanam yang tidak dapat mereka hindari.
Allah swt berfirman:
هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ ࣖ ٢١ (الصّٰۤفّٰت)
Inil ah hari keputusan yang dahulu kamu dustakan. (aṣ-Ṣaffāt/37: 21)
ḥāqa حَاقَ (an-Naḥl/16: 34)
Kata ini dalam bentuk fi’il māḍi. Dikatakan ḥāqa, ḥaiqan, ḥuyūqan, ḥayaqānan. Akar kata yang terdiri dari ( ح ـ ى ـ ق )mempunyai arti turunnya atau hinggapnya sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Dari pengertian dasar ini lalu bisa berkembang menjadi: menimpa, meliputi, menetap, dan lain sebagainya. Pada ayat ini dijelaskan bahwa balasan orang yang menertawakan ajaran-ajaran Allah adalah siksaan yang akan menimpanya di akhirat nanti.












































