۞ وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِى السَّمٰوٰتِ لَا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اَنْ يَّأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْضٰى
Wa kam mim malakin fis-samāwāti lā tugnī syafā‘atuhum syai'an illā mim ba‘di ay ya'żanallāhu limay yasyā'u wa yarḍā.
Betapa banyak malaikat di langit yang syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah mengizinkan(-nya untuk diberikan) kepada siapa yang Dia kehendaki dan ridai.
Berapa banyak manusia dengan kemampuan luar biasa nyatanya tidak dapat menggapai keinginannya, dan berapa banyak pula malaikat yang suci dan berkedudukan mulia di langit, tetapi syafa'at dan pertolongan mereka sedikit pun tidak berguna bagi makhluk lain, kecuali apabila Allah Yang Mahakuasa telah mengizinkan mereka untuk memberi syafa'at bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai karena amal saleh dan keta'atannya.
Kemudian Allah swt menerangkan tentang betapa banyak malaikat di langit yang tidak dapat menolong manusia dengan pertolongan apa pun, kecuali bila Allah memberikan izin kepada mereka untuk orang yang dikehendaki-Nya yaitu orang yang ikhlas dalam perkataan dan perbuatannya. Apabila keadaan malaikat demikian halnya, sedangkan malaikat adalah makhluk yang dekat kepada Tuhan, maka bagaimana dengan berhala-berhala yang hanya berupa benda mati tidak mempunyai ruh dan kehidupan itu? Jelasnya berhala-berhala itu sama sekali tidak ada manfaatnya.
1. Qismatun Ḍīzā قِسْمَةٌ ضِيْزَى (an-Najm/53: 22)
Qismatun artinya “pembagian”, kata itu adalah kata benda (ism) dari qasama ‘membagi’. Ḍīzā adalah bentuk kata sifat mu’annaṡ (feminin) dari kata kerja ḍāza artinya ‘mengurangi’. Asalnya ḍuiza, karena dammah berat bagi yā’, maka dammah ditukar kasrah. Maksudnya adalah pembagian yang tidak adil. Yaitu mengenai kepercayaan kaum musyrikin Mekah bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. Dengan demikian mereka hendak merendahkan Allah karena anak perempuan itu bagi mereka hina. Itu adalah pembagian yang tidak adil, karena bagi mereka anak laki-laki dan anak perempuan mereka peruntukkan bagi Allah.
2. Tamannā تَمَنَّى (an-Najm/53: 24)
Tamannā “mencita-citakan”, “mendambakan”. Terambil dari kata manā artinya “menentukan”. Tamannā berarti menentukan sendiri apa yang akan diperoleh pada masa yang akan datang yang tidak mungkin terjadi. Dari kata itu terbentuk kata umniyah artinya “angan-angan”, jamaknya amāniyya, yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Kata maniyya sperma juga ada kaitannya dengan kata itu, karena sperma itu diharapkan darinya membuahkan anak. Orang Arab punya berhala namanya manāt, yaitu yang mereka angan-angankan dapat memenuhi permintaan mereka.















































