Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 9 - Surat An-Naml (Semut)
النّمل
Ayat 9 / 93 •  Surat 27 / 114 •  Halaman 377 •  Quarter Hizb 38.5 •  Juz 19 •  Manzil 5 • Makkiyah

يٰمُوْسٰٓى اِنَّهٗٓ اَنَا اللّٰهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۙ

Yā mūsā innahū anallāhul-‘azīzul-ḥakīm(u).

(Allah berfirman,) “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Makna Surat An-Naml Ayat 9
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kemudian Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi Musa. “Wahai Musa! Sesungguhnya suara yang memanggilmu itu adalah suara-Ku, Aku adalah Allah Yang Mahaperkasa dan Mahamulia, yang tidak ada kekuatan apa pun yang sanggup mengalahkan-Ku serta Mahabijaksana terhadap semua perkataan dan tindakan-Ku.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ketika Musa datang mendekat ke arah api itu, ternyata yang disangkanya api itu bukan seperti api yang biasa dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit dan menjuntai pada sebuah dahan kayu. Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu.

Musa tidak menemukan seorang pun di tempat itu, sehingga ia merasa heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya. Waktu ia mencoba menyulut nyala api itu, Musa merasa takut. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh satu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa yang berada di dekat api itu pasti diberkahi, yaitu Musa dan para malaikat. Pernyataan itu merupakan salam dan penghormatan dari Allah kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim dalam firman-Nya:

رَحْمَت اللّٰهِ وَبَرَكٰتُهٗ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِ

Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait. (Hūd/11: 73)

‘Abdullāh bin ‘Abbās menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “diberkahi” di sini ialah yang disucikan Allah. Menurutnya, yang kelihatan oleh Nabi Musa seperti api itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api. Cahaya itu adalah cahaya Tuhan Semesta Alam. Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abū ‘Ubaidah dari Abū Mūsa al-Asy’arī bahwa Nabi Muhammad bersabda:

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِىْ لَهُ اَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ اِلَيْهِ عَمَلُ الَّليْلِ قَبْلَ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ لَوْ كَشَفَهُ َلأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَاانْتَهَى اِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ. (رواه مسلم)

Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir-Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya. (Riwayat Muslim)

Peristiwa itu terjadi ketika Musa sampai di tempat yang diberkahi, yaitu lembah suci yang bernama Lembah Ṭuwa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

نُوْدِي مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ

... Dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi.... (al-Qaṣaṣ/28: 30).

Dan firman Allah yang berbunyi:

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ ١٦

Ketika Tuhan memanggilnya (Musa) di lembah suci yaitu Lembah Ṭuwa. (an-Nāziāt/79: 16).

Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Ṭuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa sebagai rasul. Ia diutus Allah untuk menyampaikan risalah kepada Fir‘aun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat.

Musa berhadapan langsung dengan Allah ketika menerima wahyu, tetapi Musa tidak dapat melihat-Nya, karena terhalang oleh tabir berupa cahaya. Penerimaan wahyu semacam ini merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para nabi-Nya. Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ ۗ

Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.... (asy-Syūrā/42: 51).

Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam yang berbuat menurut apa yang dikehendaki-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang menyamai-Nya. Dia Mahaagung dan Mahatinggi dari seluruh makhluk-Nya. Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat kesembilan bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk. Allah Mahaperkasa atas segala sesuatu, Mahabijaksana dalam firman dan perbuatan-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Bisyihābin Qabas بِشِهَابٍ قَبَسٍ (an-Naml/27: 7)

Syihāb berasal dari kata syahaba yang berarti cahaya api yang menyala. Meteor disebut dengan syihāb karena memercikkan cahaya api yang menyala. Dalam Al-Qur’an, kata syihāb terulang sebanyak empat kali (al-Ḥijr/15: 18, an-Naml/27: 7, aṣ-Ṣāffāt/37: 10 dan al-Jinn/72: 9). Semuanya menunjuk pada cahaya api atau sesuatu yang mengeluarkan api yang menyala. Asy-Syihbah adalah warna putih yang bercampur dengan warna hitam seperti bintang yang bercampur dengan awan yang hitam.

Sedangkan kata qabas berasal dari kata qabasa, iqtabasa yang arti awalnya adalah mengambil, menyalakan bara api, atau sepotong kayu yang telah terbakar dan menyala bara apinya. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ketika Nabi Musa dan keluarganya tersesat dalam sebuah perjalanan pada malam yang sangat dingin dan gelap gulita, Nabi Musa melihat “sepercik api yang menyala” (syihāb qabas) di kejauhan. Untuk itu, Musa bermaksud mendatangi sumber cahaya tersebut dan berpesan kepada keluarganya untuk tetap tinggal di tempat tersebut. Musa berharap dengan mendatangi asal cahaya itu, ia bisa mendapatkan berita atau jalan keluar dari kesesatan tersebut. Akan tetapi, saat Nabi Musa sampai ke tempat tersebut dan bermaksud mengambil cahaya api itu, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara panggilan di balik cahaya itu. Panggilan tersebut adalah seruan Allah.

2. Tis’a Āyāt تِسْعَ آيَاتٍ (an-Naml/27: 12)

Kata tis’ah adalah kata yang menunjukkan bilangan yang sudah dikenal yaitu angka atau jumlah sembilan. Sedangkan āyāt adalah bentuk jamak dari kata āyah yang berarti tanda atau bukti yang jelas. Ayat ini menunjukkan kepada jumlah ayat atau mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa, dua di antaranya disebutkan dalam ayat ini, yaitu: (1) tongkat Nabi Musa yang dapat berubah menjadi ular yang besar, (2) memasukkan tangan ke dalam ketiaknya melalui leher baju kemudian bisa mengeluarkan sinar atau cahaya yang putih dan terang seperti sinar matahari, (3) terbelahnya laut, (4) wabah kutu, (5) wabah katak, (6) topan yang melanda daerah tersebut, (7) wabah belalang, (8) darah, dan (9) kekeringan (lihat tafsir Surah al-Isrā’/17: 101). Kesembilan mukjizat ini diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa sebagai bukti kerasulannya dan mempertegas bahwa Musa adalah utusan Allah yang mengemban risalah untuk disebarkan kepada umatnya. Adapun yang dihadapi Nabi Musa adalah Fir‘aun dan kaumnya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto