۞ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهٖٓ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اَخْرِجُوْٓا اٰلَ لُوْطٍ مِّنْ قَرْيَتِكُمْۙ اِنَّهُمْ اُنَاسٌ يَّتَطَهَّرُوْنَ
Famā kāna jawāba qaumihī illā an qālū akhrijū āla lūṭim min qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharūn(a).
Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, “Usirlah Lut dan pengikutnya dari negerimu! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu menyucikan diri (dari perbuatan keji).”
Teguran Nabi Lut tidak digubris sedikit pun oleh kaumnya, bahkan mereka menganggapnya sebagai teguran yang tidak wajar untuk ditanggapi. Oleh karena itu, jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan kepada sesama yang durhaka, “Usirlah Lut dan keluarganya serta para engikutnya dari negeri tempat tinggal-mu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang terus menerus menganggap dirinya suci sehingga tidak sudi ikut bersama kita.”
Mendengar pernyataan Lut itu, kaumnya menjadi marah, dan seakan-akan tidak memahami sedikit pun apa yang dimaksud dengan peringatan Lut. Oleh karena itu, mereka mengancam Lut dengan perkataan, “Mari kita usir Lut dan keluarganya dari negeri kita ini, karena ia melarang kita mengerja-kan perbuatan-perbuatan yang kita senangi selama ini.” Mereka beranggapan bahwa Lut dan keluarganya dapat hidup aman dan tenteram dalam negeri mereka karena kebaikan hati dan belas kasihan mereka belaka. Mereka berpendapat bahwa jika kemurahan dan belas kasihan itu tidak lagi mereka berikan terhadap Lut dan keluarganya, tentu ia akan menjadi sengsara. Inilah yang mereka maksud dengan perintah mengusir Lut.
Mereka mengejek dengan mengatakan bahwa Lut dan pengikutnya itu orang-orang yang bersih, sehingga tidak mau melakukan perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan, karena menganggapnya kotor.
1. Syahwah min Dūni an-Nisā’ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ (an-Naml/27: 55).
Syahwah min dūni an-nisā’ berarti: nafsu birahi kepada selain perempuan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada kaum Nabi Lut, yaitu penduduk negeri Sodom, yang lebih memilih sesama jenis daripada lain jenis untuk melakukan hubungan seks. Perilaku seperti ini disebut homoseksual atau berhubungan intim sesama jenis; laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan. Nabi Lut dan pengikutnya yang tidak mau melakukan perbuatan itu diejek dengan sebutan unāsun yataṭahharūn (manusia yang mengaku dirinya suci). Perilaku menyimpang ini pulalah yang menyebabkan Allah menurunkan azab.
2. Al-Gābirīn اَلْغَابِرِيْن َ (an-Naml/27: 57).
Min al-gābirīn berarti: termasuk di antara orang yang tertinggal atau dibinasakan. Dalam konteks ayat di atas, ungkapan ini ditujukan kepada istri Nabi Lut yang tidak mau mengikuti seruannya. Ketika Allah menurunkan azab yang menyebabkan kebinasaan kepada kelompok homoseksual, maka Allah menyelamatkan para pengikut setia Nabi Lut. Istri Nabi Lut termasuk yang ditakdirkan oleh Allah menerima kebinasaan, karena tidak mau mengikuti ajakan suaminya.















































