بَلِ ادّٰرَكَ عِلْمُهُمْ فِى الْاٰخِرَةِۗ بَلْ هُمْ فِيْ شَكٍّ مِّنْهَاۗ بَلْ هُمْ مِّنْهَا عَمُوْنَ ࣖ
Balid dāraka ‘ilmuhum fil-ākhirah(ti), bal hum fī syakkim minhā, bal hum minhā ‘amūn(a).
Bahkan, pengetahuan mereka tentang akhirat akan diperoleh kemudian. Bahkan, mereka ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Bahkan, mereka buta tentang itu.
Bahkan sebenarnya pengetahuan mereka, yakni kaum musyrik, tentang akhirat tidak sampai ke sana. Bahkan mereka ragu-ragu tentangnya, yaitu akhirat. Bahkan mereka adalah orang-orang yang buta tentang kebenaran itu, karena tidak mau berusaha mencari alasan-alasan yang membenarkan adanya hari akhir. Hal itu disebabkan oleh mata hati mereka yang telah dirusak oleh kesesatan.
Pada ayat ini, Allah menerangkan kejahilan mereka tentang hari Kiamat. Terdapat dua pendapat dalam memahami ayat ini. Pertama, sesungguhnya pengetahuan mereka tentang akhirat itu tidak menyeluruh. Kedua, pengetahuan mereka tentang kiamat sangat sempurna, tetapi ketika tidak melihatnya dengan mata kepala di dunia, mereka mengingkarinya. Bukan saja mereka tidak percaya dan tidak mengetahui kapan akan terjadinya kiamat, malahan mereka sangat ragu-ragu yang akhirnya menjurus kepada keadaan buta sama sekali tentang hari Kiamat. Dalil apa pun yang ditunjukkan kepada mereka tentang akan datangnya hari Kiamat, tetap mereka tolak.
Soal keimanan terhadap akan datangnya kiamat itu sangat perlu dimiliki oleh setiap orang yang ingin mendidik dirinya supaya menjadi manusia yang jujur dan bertanggung jawab. Bilamana ia yakin akan mendapat pemeriksaan terhadap dirinya pada hari Kiamat, maka ia akan selalu mengekang hawa nafsunya dari setiap penyelewengan dan keangkara-murkaan. Negara dan seluruh warga negaranya tidak akan dirugikan oleh semua sikap dan tingkah lakunya. Semua kebijaksanaannya menjurus ke arah keamanan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Agama merupakan unsur mutlak dalam pembangunan bangsa.
1. Iddāraka ادَّارَكَ (an-Naml/27: 66)
Iddāraka bermakna mengetahui. Dalam konteks ayat di atas, iddāraka dimaksudkan sebagai sindiran kepada sekelompok orang yang mendakwah-kan diri mengetahui tentang realitas alam akhirat. Padahal sebenarnya, mereka tidak pernah sampai pada pengetahuan tentang hal itu karena mereka meragukannya. Apalagi mereka memang buta sama sekali terhadap hal tersebut karena mereka tidak percaya adanya Allah dan akhirat.
2. ‘Amūn عَمُوْنَ (an-Naml/27: 66)
‘Amūn bermakna buta. Dalam konteks ayat di atas, kata ‘amūn dimaksudkan sebagai bantahan dari Allah pada sekelompok orang yang mengaku mengetahui perihal akhirat, padahal sesungguhnya mereka buta atau tidak punya pengetahuan sama sekali tentang akhirat. Itulah kesom-bongan orang-orang yang tidak mempercayai hakikat Allah dan hari akhirat.
















































