وَمَا مِنْ غَاۤىِٕبَةٍ فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Wa mā min gā'ibatin fis-samā'i wal-arḍi illā fī kitābim mubīn(in).
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi melainkan (tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhulmahfuz).
Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi, sekecil dan sehalus apa pun, melainkan tercatat dalam Kitab yang jelas di sisi Allah, yaitu Lauh Mahfuzh. Kitab itu mencakup segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi.
Pada ayat ini diterangkan bahwa semua yang gaib yang terjadi di langit dan bumi telah dicatat di Lauḥ Maḥfūz, sesuai dengan firman-Nya:
اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ ٧٠
Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (al-Ḥajj/22: 70)
1. Radifa رَدِفَ (an-Naml/27: 72 )
Radifa secara bahasa bermakna membonceng atau mengikuti. Dalam konteks ayat di atas, radifa diartikan dengan hampir datang atau hampir tiba. Kata ini merupakan jawaban atas kecongkakan orang-orang kafir yang menantang Nabi Muhammad dengan menyatakan, “Bilakah datangnya azab itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Atas tantangan ini, Allah memberi jawaban bahwa azab itu sebentar lagi datang atau tiba. Menurut para mufasir, yang dimaksud azab dalam hal ini tak lain adalah kekalahan mereka di Perang Badar.
2. Tukinnu تُكِنُّ (an-Naml/27: 74)
Tukinnu bermakna menyembunyikan. Dalam konteks ayat di atas, Allah sedang menjelaskan bahwa Dia mengetahui apa pun yang disembunyikan orang-orang kafir di dalam hati mereka. Kata ini juga ingin menjelaskan kemahatahuan Allah tentang segala hal yang tersembunyi (gaib) maupun terlihat, baik di bumi maupun di langit.















































