اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَاۗ
Innamā anta munżiru may yakhsyāhā.
Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari Kiamat).
Wahai Nabi, engkau tidak tahu kapan kiamat akan terjadi. Engkau kami utus hanyalah sebagai pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya, lalu beriman dan berbuat baik untuk menghindari azab di akhirat.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nabi Muhammad hanya ditugaskan untuk memberi peringatan kepada orang yang takut kepada hari kebangkitan. Mereka diminta untuk mempersiapkan diri dengan beramal kebaikan dan menghindari kejahatan.
Mursāhā مُرْسٰها (an-Nāzi‘āt/79: 42)
Mursāhā berasal dari fi‘il rasā-yarsū-raswan wa rusuwwan yang artinya tetap, berlabuh, atau mendarat. Al-Mursā adalah isim maf‘ūl yang artinya dijadikan atau terjadi. Dapat pula merupakan isim makān (tempat berlabuh atau pelabuhan). Ayyāna mursāhā artinya kapan terjadinya. Ayat 42 menerangkan tentang orang-orang kafir yang bertanya kepada Nabi Muhammad perihal hari Kiamat, kapan terjadinya? Kalimat tanya disini dalam ‘ilmu balāgah tidak berarti yang sebenarnya yaitu ingin tahu kapan terjadinya hari kiamat, melainkan berarti taubīkh yaitu mengejek. Orang-orang kafir memang tidak percaya pada adanya hari kebangkitan. Oleh karena itu, mereka selalu bertanya dengan nada mengejek, yaitu tidak mungkin ada hari kebangkitan, kapan terjadi hari kebangkitan atau hari Kiamat itu kapan? Padahal hari Kiamat dan hari kebangkitan itu pasti terjadi, dan waktunya adalah rahasia Allah sendiri.
















































