وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطًا ࣖ
Wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), wa kānallāhu bikulli syai'im muḥīṭā(n).
Hanya milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Meliputi segala sesuatu.
Dan milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, yaitu seluruh wujud yang ada di alam raya ini, dan Dia Mahakuasa atas segalanya, dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, yang besar maupun yang kecil, yang tampak maupun yang tersembunyi, dan yang diucapkan maupun yang hanya terlintas di dalam hati dan pikiran manusia.
Ayat ini menegaskan tentang kekuasaan Allah atas alam semesta, sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara, tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Ayat ini merupakan penutup dari ayat-ayat yang sebelumnya, dan mengandung beberapa hikmah:
1. Untuk mengingatkan bahwa Allah Mahakuasa, pemilik seluruh alam, karena itu Dia pasti menepati janjinya yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu.
2. Untuk menerangkan bahwa hanya kepada-Nyalah semua makhluk berserah diri, mohon pertolongan, mengemukakan harapan, bukan kepada yang lain, karena yang selain Allah adalah milik-Nya dan berada di bawah kekuasaan-Nya.
3. Untuk menjelaskan maksud perkataan Ibrāhīm Khalīlullāh (Ibrahim kesayangan Allah), dengan adanya ayat ini jelaslah bahwa Ibrahim itu bukanlah teman Allah, seperti anggapan sebagian Ahli Kitab, tetapi hamba kesayangan-Nya, karena ia tunduk dan berserah diri kepada Allah, selalu berkorban dan berbuat baik. Ibrahim adalah milik Allah, seperti makhluk yang lain, bukanlah orang yang berserikat dengan Allah dalam memiliki alam ini.
خَلِيْلاً Khalīlan (4: 125) .
Kata khalīl terambil dari kata khullal (dengan damah khā’) yang berarti kasih sayang dan kecintaan, juga ia dapat diartikan dengan kekasih, teman yang seia sekata sehingga meresap dalam kalbunya rasa persahabatan dan kecintaan. Kata ini pun dapat diartikan dengan celah (khilal), karenanya khalīl bukan sekedar teman biasa, tetapi teman yang sangat berkesan dalam hati serta mengetahui celah-celah dan rahasia jiwanya. Dalam ayat 125 di atas, Ibrahim a.s. dijuluki dan diberi gelar khalīl, karena kecintaan dan kesayangannya yang cukup mendalam terhadap Allah swt serta keikhlasan dan pengorbanannya dalam menegakkan agama Allah, sehingga Allah pun rida dengannya dan menjadikannya kekasih-Nya.
















































