فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ صَدَّ عَنْهُ ۗ وَكَفٰى بِجَهَنَّمَ سَعِيْرًا
Fa minhum man āmana bihī wa minhum man ṣadda ‘anh(u), wa kafā bijahannama sa‘īrā(n).
Lalu, di antara mereka ada yang beriman kepadanya dan di antara mereka ada pula yang berpaling darinya. Cukuplah (bagi mereka neraka) Jahanam yang apinya menyala-nyala.
Maka di antara mereka yang diberi ilmu itu ada yang beriman kepadanya, yakni Nabi Muhammad dan risalahnya serta mengamalkan syariatnya, dan ada pula yang menolak ajarannya serta menghalangi orang lain beriman kepadanya. Cukuplah bagi mereka yang menolak dan menghalangi itu kelak pada hari Kemudian neraka Jahanam yang menyala-nyala apinya.
Anugerah kenabian dan kekuasaan kepada nabi-Nya terdahulu seperti Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadikan umatnya terbagi dua. Sebagian dari mereka percaya kepada nabi-Nya dan sebagian yang lain tetap di dalam kekafirannya, menghalangi orang lain beriman.
Begitu pula halnya umat sekarang ada yang beriman, dan ada pula yang ingkar. Ketahuilah, sekalipun mereka yang ingkar di dunia ini kelihatannya aman dan tenteram saja, tetapi di akhirat mereka akan merasakan pedihnya api yang menyala-nyala, kerena mengutamakan perbuatan yang batil dan sesat serta tidak mengikuti yang hak dan benar yang dibawa oleh nabi-Nya.
al-Jibt wa aṭ-Ṭāgūtاَلْجِب ْتِ وَالطَّاغُوْتِ (an-Nisā’/4: 51)
Al-jibt adalah semua yang disembah selain Allah, termasuk dukun, tukang tenung, tukang sihir, dan sebagainya, dan aṭ-ṭāgūt berasal dari kata ṭagā, melampaui batas dalam pembangkangan yang sampai ke puncaknya. Ṭāgūt adalah nama lain dari setan dan Iblis, juga termasuk dukun, tukang sihir, semua orang yang keluar dari jalan lurus, dan sebagainya. Dalam Al-Qur’an kata al-jibt dan aṭ-ṭāgūt yang disebut secara beriringan hanya terdapat di dalam an-Nisā’/4:51 ini.































