Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 139 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 139 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 100 •  Quarter Hizb 10.75 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ

Al-lażīna yattakhiżūnal-kāfirīna auliyā'a min dūnil-mu'minīn(a), ayabtagūna ‘indahumul-‘izzata fa innal-‘izzata lillāhi jamī‘ā(n).

(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung174) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 139
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Walau mengaku beriman, mereka sebenarnya tetap dalam keadaan kufur dan menyembunyikannya. Salah satu buktinya ialah bahwa mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai auliya, yakni pemimpin-pemimpin, teman-teman penolong serta pendukung meraka. Hal itu dilakukan dengan meninggalkan orang-orang mukmin, yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang mantap. Mereka seharusnya menjadikan orang mukmin itu auliya mereka, tetapi hal itu tidak mereka lakukan. Apakah mereka, yaitu orang-orang munafik mencari kekuatan di sisi mereka, yakni orang-orang kafir untuk memberikan pertolongan dan dukungan kepada mereka? Ketahuilah, wahai Muhammad dan orang-orang yang beriman, bahwa apa yang mereka lakukan itu merupakan hal yang sia-sia karena semua kekuatan itu milik Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Kemudian diterangkan sifat-sifat mereka yang pantas dicela, yaitu sifat orang-orang munafik, yang sebenarnya bersekongkol dengan orang-orang kafir. Mereka memusuhi orang-orang mukmin, bahkan dalam saat-saat yang penting, mereka membantu orang kafir, karena mereka berkeyakinan bahwa kemenangan akan diperoleh orang kafir.

Sikap mereka dicela, karena harapan mereka akan mendapatkan kekuatan dari orang-orang kafir, tetapi kekuatan itu tidak akan mereka peroleh, sebab kekuatan dan perlindungan pada hakikatnya di tangan Allah. Allah yang memberikan kekuatan dan perlindungan, menurut kehendak-Nya kepada orang yang betul-betul beriman dan mematuhi segala petunjuk-Nya.

Petunjuk Allah disampaikan melalui para rasul dan merekalah yang menjelaskan jalan yang harus ditempuh guna memperoleh petunjuk. Maka kekuatan dan perlindungan Allah, akan dimiliki oleh orang-orang mukmin, apabila mereka tetap berpegang kepada Kitab Allah dan selalu berpedoman pada hidayah-Nya. Tetapi orang-orang munafik tidak melihat kekuatan dan perlindungan yang gaib, mereka hanya teperdaya oleh kekuatan dan perlindungan lahir yang sifatnya tidak tetap. Mereka pun tidak akan memperoleh apa yang diharapkannya. Berkenaan dengan itu Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا

“Baran g siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. …” (Fāṭir/35:10).

وَلِ ّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِ يْنَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْن َ لَا يَعْلَمُوْنَ ٨

“…Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (al-Munāfiqūn/63:8).

Isi Kandungan Kosakata

Mużabżabīn مُذَبْذَبِيْنَ (an-Nisā’/4: 143)

Mużabżab yaitu terombang-ambing di antara dua persoalan, serta tidak punya ketegasan dan ketetapan hati. Sama halnya dengan sesuatu yang tergantung di atas pohon, kemudian selalu bergerak mengikuti hembusan angin. Akar katanya adalah aż-żabb yang berarti menghalau, menyingkirkan, mengusir, menjauhkan. Mużabżab adalah sesuatu yang dihalau ke sana - ke mari dari dua arah, dari waktu ke waktu yang lain. Lalu muncul arti terombang-ambing. Dalam ayat 143 di atas dinyatakan bahwa karakter dan tamperamen orang-orang munafik laksana suatu benda yang tergantung dalam sebuah pohon yang senantiasa bergerak dan terombang ambing oleh tiupan angin, tidak punya ketetapan hati, tetapi senantiasa mengikuti arus dan situasi, yang dalam saat tertentu mereka berpihak kepada kaum Muslimin, dan di saat lain mereka berpihak kepada orang kafir. Sabda Rasulullah, bahwa perumpamaan orang munafik bagaikan seekor kambing yang berada di antara dua gerombolan kambing, dia merasa kebingungan gerombolan mana yang harus diikutinya (Riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto