هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ
Hal jazā'ul-iḥsāni illal-iḥsān(u).
Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)?
Tidak ada balasan untuk amal kebaikan selain anugerah Ilahi yang berupa kebaikan pula.
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa tidak ada ganjaran bagi perbuatan yang baik kecuali kebaikan pula. Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:
لِلَّذِي ْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ ۗوَلَا يَرْهَقُ وُجُوْهَهُمْ قَتَرٌ وَّلَا ذِلَّةٌ ۗاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٦
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Yūnus/10: 26)
Sehubungan dengan ayat 60 ini Ibnu Abi Ḥātim, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqī dari Anas bin Mālik meriwayatkan:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَرَأَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ جَزَاءُ اْلإِحْسَانِ إِلاَّ اْلإِحْسَانِ. وَقاَلَ: هَلْ تَدْرُوْنَ مَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوْا: اللّٰهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ مَا جَزَاءُ مَنْ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِ بِالتَّوحِيْدِ إِلاَّ الجَنَّةُ. (اخرجه ابن أبى حاتم وابن مردويه والبيهقى)
Dari Anas bin Mālik bahwa Rasulullah membaca ayat (yang artinya), “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan,” kemudian beliau bertanya, “Apakah yang kalian ketahui dari firman Tuhan tersebut?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi menjawab, “Allah berfirman, ‘Tidak ada balasan kebaikan bagi mereka yang Kuberi nikmat dengan mengesakan (Aku) kecuali surga.’” (Riwayat Ibnu Abi Ḥātim, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqī)
1. Żawātā Afnān ذَوَاتَا أَفْنَان (ar-Raḥmān/55: 48)
Kata żawātā afnān terdiri dari dua kata, yaitu żawātā dan afnān. Yang pertama (żawāt) merupakan bentuk jamak dari żāt, yang artinya mempunyai. Sedang yang kedua (afnān) merupakan bentuk jamak dari fanan, yang artinya dahan yang lurus dan panjang. Istilah ini disebut pada ayat tersebut untuk menggambarkan bahwa pohon-pohon yang terdapat di surga adalah yang berdahan lurus dan panjang serta banyak daunnya, sehingga menjadikannya sebagai pepohonan yang rimbun dan rindang, serta enak dipandang. Penyebutan kata ini untuk menunjukkan keindahan dan banyaknya manfaat yang dapat ditemukan pada pohon-pohon surgawi itu.
2. Lam Yaṭmiṡhunna لَمْ يَطْمِثْهُنَّ (ar-Raḥmān/55: 56)
Kata yaṭmiṡ berakar kata aṭ-ṭamṡ. Akar kata yang terdiri dari (ṭā'-mīm-ṡā') mengandung arti sentuhan. Jika dikaitkan dengan hubungan antara lelaki dan perempuan maka artinya hubungan badan. Memecah keperawanan seorang perempuan yang akhirnya mengeluarkan darah juga disebut aṭ-ṭamṡ. Keluarnya darah haid juga disebut aṭ-ṭamṡ. Seorang perempuan yang haid disebut juga aṭ-ṭāmiṡ. Dari seluruh rangkaian arti diatas bisa dirangkum pengertian bahwa perempuan surga adalah perempuan yang masih asli, masih perawan, yang belum pernah ada orang yang menyentuh dan menggauli mereka.




































