فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ
Fa'aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā'alūn(a).
Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.
Para penghuni surga itu bertelekan di atas dipan, lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap dan menceritakan keadaan mereka di dunia.
Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin dalam surga duduk saling berhadap-hadapan dan berbincang-bincang satu sama lain sambil menikmati minuman yang disuguhkan kepada mereka. Betapa nikmatnya mengenang masa lampau mereka sewaktu dalam kesenangan dan ketenteraman hidup dalam surga. Mereka berbincang-bincang tentang pelbagai keutamaan dan pengalaman di dunia.
Qarīn قَرِيْن (aṣ-Ṣāffāt/37: 51)
Secara kebahasaan, qarīn yang terambil dari akar kata qarana berarti menemani, mengawani, mendampingi, dan sebagainya. Sebagian ulama mengartikannya dengan malak (malaikat) atau ṣādiq mulāzim (sobat setia). Dalam konteks ayat di atas, Allah menjelaskan perbincangan yang terjadi di antara beberapa penghuni akhirat, terkait pengalamannya di dunia. Sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai teman yang berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan (hari Kiamat)?’” Dan ternyata, qarīn yang tidak mempercayai kebangkitan itu malah terjerumus ke dalam neraka jahanam. Melalui dialog ini, Allah ingin menegaskan pentingnya kepercayaan atas kepastian hari kebangkitan.















































